Mukimad: Semakin Ke Sini Semakin Arogan & Kasar, Tanda Kurang Ajaran yang Nyata
Selasa, 2 Juni 2026
Faktakini.info
Mukimad: Semakin Ke Sini Semakin Arogan & Kasar, Tanda Kurang Ajaran yang Nyata
Kalau kita amati pergerakan dan gaya bicara Mukimad dari awal dia muncul sampai hari ini, ada perubahan yang sangat mencolok, sangat menyedihkan, sekaligus sangat memalukan. Dulu dia masih berusaha menutupi sifat aslinya dengan kedok "pembela agama", tapi sekarang? Kedoknya sudah lepas semua.
Semakin ke sini, semakin terlihat jelas watak aslinya: Semakin arogan, semakin kasar mulutnya, semakin tidak tahu adab, dan semakin sombong tidak ketulungan. Pantas saja banyak orang yang berkomentar: "Dasar kurang ajar! Kurang didikan! Kurang ajaran!" Karena memang itulah kenyataannya.
Berikut bukti nyata dan pembedahan tuntas kenapa Mukimad makin lama makin menjadi-jadi sifat buruknya, yang menunjukkan betapa kosongnya dia dari ilmu dan akhlak.
1. Dulu Pura-pura Lembut, Sekarang Mulutnya Seperti Sampah
Ingat tidak, saat awal-awal Mukimad mulai dikenal? Dia berusaha bicara sopan, pakai dalil, pura-pura bijak, seolah-olah dia pembela kebenaran yang lembut. Itu semua hanya akal-akalan supaya orang percaya, supaya orang ikut, supaya dianggap ulama atau orang berilmu.
Tapi begitu dia punya pengikut, begitu merasa punya kekuatan, begitu merasa "kuat", sifat aslinya langsung meledak keluar. Sekarang tidak ada lagi kata-kata sopan, tidak ada lagi adab bicara.
Lihat saja gaya bicaranya di media sosial, di video, atau tulisannya:
Kasar Tanpa Batas:
Setiap kali bicara tentang Habaib, tentang Ba ‘Alawi, tentang ulama yang tidak sepaham, atau tentang siapa saja yang mengoreksi dia... mulutnya langsung berubah jadi sampah. Kata-katanya kasar, kotor, makian, cacian, hinaan langsung dilontarkan. Dia tidak segan menyebut orang lain bodoh, dungu, bebal, gila, sesat, kafir, atau penipu.
Padahal yang dia hina itu orang-orang terhormat, orang berilmu, orang tua, keturunan Rasulullah ﷺ. Tapi Mukimad? Dia tidak punya rasa hormat sedikit pun. Mulutnya licin sekali mengeluarkan kata-kata kotor. Ini tanda nyata orang yang KURANG AJARAN. Orang yang berilmu, orang yang punya adab, meski berbeda pendapat, tetap bicara dengan bahasa terhormat. Mukimad? Kebalikannya semua.
Menghina Orang Tua & Ulama:
Paling parah, dia berani menghina para Kyai, para ulama, para guru agama yang usianya jauh di atas dia, ilmunya jauh lebih luas daripada dia. Dia berani menyebut mereka "dibodohi", "dijadikan alat", "sudah pikun", "otaknya sempit".
Kurang ajar betul!
Di mana-mana di Indonesia, di mana pun di dunia Islam, menghina orang tua dan ulama adalah dosa besar, tanda tidak punya adat. Tapi Mukimad malah bangga melakukannya. Kenapa? Karena memang tidak ada ajaran sopan santun yang tertanam di hatinya. Dia diajarkan benci, diajarkan marah, diajarkan memaki, tapi tidak pernah diajarkan akhlak mulia.
2. Semakin Arogan: Merasa Paling Benar, Merasa Paling Pintar, Melawan Semua Orang
Arogansi Mukimad sekarang sudah sampai di langit, tidak ada tandingannya. Penyakit "merasa paling benar" sudah menggerogoti seluruh jiwanya. Semakin ke sini, dia semakin tidak mau dengar pendapat orang lain, semakin tidak mau terima kritik, semakin merasa dialah satu-satunya orang yang punya ilmu di muka bumi ini.
Coba lihat ciri-cirinya:
Kalau dikoreksi → Langsung Marah & Memaki:
Kalau ada yang mengingatkan, kalau ada yang kasih bukti, kalau ada yang tunjukkan kesalahannya... apa jawab Mukimad? Bukan berterima kasih, bukan mengecek, bukan minta maaf. Tapi langsung marah besar, langsung serang pribadi, langsung teriak: "Kamu sesat! Kamu dibayar! Kamu pengikut mereka! Kamu bodoh!"
Dia tidak bisa terima kenyataan bahwa dia salah. Dia merasa "Saya tidak pernah salah, siapa yang beda pendapat berarti dia salah." Itu arogansi paling tinggi, ciri khas orang yang kosong ilmunya. Orang berilmu itu rendah hati, orang bodoh itu sombong. Dan Mukimad membuktikan dia ada di golongan kedua.
Melawan PBNU & Ulama Besar:
Ini puncak arogansinya. PBNU sudah mengeluarkan keputusan tegas bahwa ormas seperti PWI LS dan gerakan begal nasab itu salah, dilarang, merusak persatuan. Apa reaksi Mukimad? Dia malah melawan! Dia malah bilang PBNU salah, dia malah bilang ulama besar tidak paham, dia malah merasa dialah yang paling benar mengerti ajaran NU.
Kurang ajar tingkat dewa!
Dia yang cuma orang biasa, bukan ulama, bukan kyai, bukan lulusan pesantren, berani-beraninya melawan keputusan induk organisasi Nahdlatul Ulama. Dia merasa lebih pintar dari ribuan ulama yang duduk di PBNU. Apa itu kalau bukan arogansi buta? Apa itu kalau bukan tanda orang yang tidak kenal diri sendiri?
Mengaku-ngaku Segala Hal:
Semakin kesini dia makin heboh mengaku-ngaku. Dulu ngaku cucu Nabi, sekarang ngaku cucu pahlawan. Dulu ngaku ahli sejarah, sekarang ngaku ahli DNA. Dia merasa bisa segala hal, merasa paling hebat, merasa semua ilmu dia kuasai. Padahal kalau ditanya dasar ilmunya, dia pasti bingung sendiri. Arogansi ini muncul karena dia dibutakan oleh pujian pengikutnya yang juga tidak berilmu.
3. Kenapa Semakin Ke Sini Semakin Parah? Tanda Kekalahan & Keputusasaan
Ada satu hukum pasti dalam hidup: Orang yang benar dan kuat hatinya, dia akan semakin tenang, semakin lembut, semakin bijak. Sebaliknya, Orang yang salah, yang kebohongannya mau terbongkar, yang posisinya makin terdesak... dia akan semakin marah, semakin kasar, semakin arogan.
Dan itulah yang sedang terjadi pada Mukimad sekarang. Sifatnya makin parah karena dia makin terpojok, makin ketahuan bohong, makin kalah argumen.
Coba lihat faktanya:
- Nasabnya terbukti palsu, DNA-nya terbukti golongan G (bukan J seperti dzurriyah Nabi) → Dia makin marah-marah.
- Datanya dibantah habis-habisan oleh sains dan sejarah → Dia makin kasar mulutnya.
- Pengikutnya makin banyak yang sadar dan pergi → Dia makin arogan supaya yang tersisa takut lari.
- Kebohongannya soal "klan Ba’alawi" sudah terbongkar → Dia makin teriak keras menutupi malu.
Kasar dan arogansi dia itu bukan tanda kekuatan, tapi tanda KELEMAHAN dan KEPUTUSASAAN. Dia sudah kehabisan akal, kehabisan dalil, kehabisan bukti. Satu-satunya senjata yang tersisa buat dia cuma: MULUT KASAR DAN TERIAKAN KERAS.
Dia ingin menutupi kebodohan dan kebohongannya dengan suara keras dan kata-kata kasar. Dia ingin orang takut sama dia, supaya tidak ada yang berani menentang. Tapi dia lupa: Kasar dan arogan itu tidak akan pernah mengubah kebohongan jadi kebenaran.
Dan satu hal paling jelas: Semakin dia kasar dan arogan, semakin dia membuktikan kepada semua orang bahwa dia BENAR-BENAR KURANG AJARAN.
Tidak ada satu pun ulama besar, tidak ada satu pun orang suci, tidak ada satu pun orang berakhlak mulia yang sifatnya seperti Mukimad. Semua orang baik itu lembut, sopan, dan rendah hati. Mukimad? Kebalikannya 100%.
4. Panggilan "Kurang Ajar" Adalah Paling Pas Buat Dia
Kata orang dulu: "Kelakuan adalah cermin dari isi hati dan didikan."
Melihat kelakuan Mukimad yang makin lama makin kasar, makin sombong, makin tidak punya adab menghormati orang tua, ulama, atau sesama manusia... benar-benar tidak ada kata yang lebih pas selain: "KURANG AJAR...!!"
Kurang ajar dari orang tuanya, kurang ajar dari gurunya, kurang ajar dari lingkungannya. Dia diajarkan membenci, diajarkan berperang, diajarkan menghina, tapi tidak pernah diajarkan sopan santun, tidak pernah diajarkan akhlak mulia, tidak pernah diajarkan rasa hormat.
Dia mengaku-ngaku keturunan Nabi, mengaku keturunan Wali, mengaku pembela agama... tapi akhlaknya jauh di bawah orang biasa. Orang biasa saja kalau bicara tidak sekasar dia. Orang biasa saja kalau beda pendapat tetap sopan. Mukimad? Bukan cuma kurang ajar, tapi tidak punya ajaran sama sekali soal kesopanan.
Dan ingatlah: Orang yang arogan dan kasar itu akhirnya akan hancur sendiri. Kata-kata kasarnya akan menjadi dosa buat dirinya sendiri. Arogansinya akan menjauhkan rahmat Allah. Dan kelakuannya yang kurang ajar itu akan menjadi bukti selamanya bahwa dia bukan orang baik, bukan orang berilmu, dan jauh sekali dari keturunan orang suci.
Biarkan saja dia makin kasar, makin arogan, makin kurang ajar. Itu cara Allah membongkar kedok aslinya di depan mata semua orang. Semakin dia bicara, semakin dia membuktikan: Saya Mukimad, saya penipu, saya pembenci, dan saya benar-benar KURANG AJAR...!! 😤🤬
