Hubungan Kyai dan Habaib: Sarang - Lirboyo - Malang - Tarim, Ikatan Abadi yang Tak Terputus

 


Sabtu, 6 Juni 2026

Faktakini.info

Hubungan Kyai dan Habaib: Sarang - Lirboyo - Malang - Tarim, Ikatan Abadi yang Tak Terputus

Ada satu fakta sejarah yang sangat indah, sangat berharga, dan menjadi kekayaan terbesar umat Islam di Nusantara: Ikatan persaudaraan, rasa hormat, dan kerja sama yang sangat erat antara para ulama besar Jawa dengan para ulama keturunan Rasulullah ﷺ dari Yaman, khususnya dari kota suci Tarim.

Hubungan ini bukan baru kemarin ada, bukan dibuat-buat, dan bukan sekadar pertemuan biasa. Ikatan ini sudah terjalin kokoh, indah, dan saling menguatkan SEJAK DULU SAMPAI SEKARANG.

Memang, belakangan ini ada saja riak-riak kecil, ada saja kegaduhan buatan, ada saja pihak yang berusaha mengadu domba dan membuat keruh air. Tapi percayalah, riak-riak kecil itu TIDAK MENGUBAH APA PUN, tidak mengurangi sedikit pun, dan tidak memutuskan tali kedekatan yang sudah terjalin ratusan tahun itu.

Bukti nyata, sejarah nyata, dan kisah-kisah indah hubungan mulia ini sangat banyak. Mari kita telusuri kisah emas hubungan antara pesantren besar Sarang, Lirboyo, Malang, hingga ke pusat ilmu di Tarim Yaman, yang membuktikan betapa indahnya persatuan Ahlussunnah Wal Jamaah sesungguhnya.

1. Hubungan Sarang - Lirboyo: Saudara Dekat yang Dipererat Ikatan Darah

Hubungan antara Pondok Pesantren Sarang (Rembang) dan Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri) itu ibarat dua mata pisau yang sama tajamnya, dua sumber ilmu yang sama jernihnya, dan dua benteng agama yang sama kokohnya. Kedua ulama besar pendirinya, Mbah Manab (KH. Abdul Manab) dan Mbah Zubair (KH. Zubair Umar), memiliki kedekatan yang luar biasa, jauh sebelum nama mereka tersohor seperti sekarang.

Bahkan, jauh sebelum Al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair menimba ilmu di Lirboyo, hubungan akrab dan saling menghormati antara kedua tokoh besar ini sudah terjalin erat.

Puncak penghormatan Mbah Manab kepada Mbah Zubair:

Perlu diketahui, usia Mbah Zubair sebenarnya LEBIH MUDA dibandingkan Mbah Manab. Namun, rasa hormat Mbah Manab kepada Mbah Zubair sangat tinggi, sangat dalam, dan sangat istimewa. Kenapa? KARENA KEALIMAN, KEBENINGAN ILMU, DAN KETEGASAN Mbah Zubair SUDAH MASYHUR DAN DIKENAL LUAS SEJAK BELIAU MASIH MUDA.

Mbah Zubair adalah santri kinasih, murid kesayangan, dan penerus ilmu dari Mbah Faqih Maskumambang (Gresik), seorang ulama besar yang ilmunya diakui seantero Jawa. Kehebatan ilmunya, kedalaman pemahamannya, dan ketajaman analisisnya membuat Mbah Manab sangat mengagumi dan menaruh hormat tinggi kepadanya, melebihi perbedaan usia mereka.

Bukti kedekatan dan kepercayaan itu tercatat dalam sebuah kisah sejarah yang sangat menyentuh:

Mbah Manab pernah meminta tolong kepada Mbah Zubair untuk "nembung" atau menyampaikan permohonan kepada KH. Mahrus Aly, agar berkenan menjadi besan dan menjodohkan anak beliau.

Ini bukti nyata! Mbah Manab menaruh kepercayaan penuh, menaruh harga diri tinggi, dan menganggap Mbah Zubair sebagai saudara dekat yang paling pantas dan paling berhak mewakili urusan keluarga. Hubungan ini kemudian dipererat dan disempurnakan dengan ikatan PERBESANAN atau persaudaraan keluarga, sehingga kedua pesantren besar ini tidak hanya bersaudara dalam ilmu, tapi juga bersaudara dalam darah dan keturunan.

Hubungan Sarang dan Lirboyo itu: ERAT, HORMAT, DAN SATU SUARA. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perselisihan, apalagi rasa benci.

2. Hubungan Sarang - Lirboyo dengan Habib Abdul Qodir Bilfaqih (Malang)

Dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kita bergerak ke kota Malang, tempat berdiri kokoh Pondok Pesantren Darul Hadits yang didirikan oleh ulama besar, waliyullah, dan ulama keturunan Rasulullah ﷺ: Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih.

Beliau lahir di kota ilmu, Tarim Yaman, dan sengaja hijrah ke Indonesia semata-mata untuk berdakwah, menebarkan ilmu agama, dan mengajarkan akhlak mulia. Dalam waktu yang sangat singkat, nama beliau tersohor ke seantero Nusantara. Bukan karena harta, bukan karena kekuasaan, tapi semata-mata karena KEALIMAN BELIAU YANG LUAR BIASA dan karena beliau adalah murid utama, murid kinasih, dan penerus ilmu dari Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, sosok raksasa ilmu di Tarim yang bergelar Syeikhul Masyayikh (Gurunya Para Guru).

Hubungan Habib Abdul Qodir Bilfaqih dengan para Kyai besar Sarang dan Lirboyo sangatlah indah, sangat akrab, dan penuh rasa saling membutuhkan ilmu.

✅ KH. Mahrus Aly & KH. Kafabih Mahrus:

KH. Kafabih Mahrus pernah bercerita tentang ayah beliau, KH. Mahrus Aly, dengan sangat kagum. Beliau berkata: "Apabila Ayahanda (KH. Mahrus Aly) memiliki kemusykilan, masalah pelik, atau persoalan ilmu yang sulit dijawab... maka beliau pasti akan menanyakannya kepada Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih. Dan setiap kali ditanya, beliau selalu langsung mendapatkan jawaban yang jelas, tuntas, dan memuaskan hati."

Ini bukti nyata! Ulama besar pesantren pun mengakui kehebatan ilmu para Habaib, saling bertukar pikiran, dan saling melengkapi. Tidak ada rasa sombong, tidak ada rasa "aku lebih hebat", yang ada hanyalah rasa saling menghormati kelebihan masing-masing demi kemaslahatan umat.

✅ Mbah Zubair (KH. Zubair Umar) & KH. Maimoen Zubair:

Hubungan keluarga besar Lirboyo dengan Habib Abdul Qodir Bilfaqih dan para Sadah Ba’Alawi secara umum, sangatlah istimewa.

Mbah Zubair dikenal sangat menghormati, sangat mencintai, dan sangat membela kehormatan para Habaib. Bahkan, ada seorang Habib yang begitu mengagumi kealiman, ketegasan, dan kebijaksanaan Mbah Zubair, sampai-sampai membuatkan GUBAHAN SYAIR SEBANYAK LEBIH DARI 20 BAIT yang isinya memuji-muji kemuliaan, kebesaran, dan kealiman Mbah Zubair. Bukti nyata bahwa rasa hormat itu timbal balik dan saling mengalir indah.

Kedekatan ini tercatat jelas saat acara Haul Habib Abdul Qodir Bilfaqih di Malang:

- Saat Haul pertama, Mbah Zubair hadir memenuhi undangan, duduk bersanding, dan mempererat persaudaraan.

- Saat Haul kedua, Mbah Zubair berhalangan atau ma'dzur tidak bisa hadir. Namun, bukti kedekatan tetap ada: Ada SURAT KHAS DARI AL-HABIB ABDULLAH BIN UMAR BILFAQIH (anak Habib Abdul Qodir) yang ditujukan khusus kepada Mbah Zubair, yang dibawa langsung oleh Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair) mewakili ayahanda beliau.

Surat-surat itu, kunjungan itu, dan pertemuan itu adalah dokumen sejarah hidup yang membuktikan: KYAI DAN HABAIB ITU SATU, ITU BERSATU, DAN ITU SAMA-SAMA BERJUANG DI JALAN YANG SAMA.

Cerita indah seperti ini masih sangat banyak, berjilid-jilid, dan kalau diuraikan semuanya... memang bisa menjadi satu buku tebal yang luar biasa isinya 😁.

3. Tarim: Pusat Ilmu yang Menghubungkan Semua

Semua benang merah hubungan indah ini bermuara dan bersambung ke satu tempat suci: TARIM, HADRAMAUT, YAMAN.

Tarim adalah kota ilmu, kota para ulama, dan pusat penyebaran dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di sanalah berdiri para guru besar yang menjadi akar ilmu kita semua.

Kita kenang kembali silsilah ilmu mulia yang mengalir sampai ke Nusantara:

Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri (Syeikhul Masyayikh Tarim)

➡️ Murid-murid beliau yang membawa ilmu ke Indonesia dan menjadi rujukan umat:

1. Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih (Pendiri Darul Hadits Malang)

2. Al-Habib Muhammad bin Salim Asy-Syathiri (Ayahanda Al-Habib Umar BSA, Dai Paling Berpengaruh Masa Kini & Penulis Biografi Gurunya)

3. Al-Habib Ahmad Asy-Syathiri (Pengarang Kitab Yaqutun Nafis, kitab akhlak masyhur yang ditulis berdasarkan petunjuk langsung gurunya)

4. Dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Inilah alasan kenapa para Kyai besar kita seperti Mbah Manab, Mbah Zubair, Mbah Mahrus Aly, dan Mbah Maimoen Zubair begitu menghormati para Habaib.

Karena mereka sadar, mereka paham, dan mereka tahu persis: Para Habaib ini adalah penerus ilmu dari guru-guru besar Tarim. Ilmu yang sama, pemahaman yang sama, akidah yang sama, dan tujuan yang sama.

Bagi mereka, menghormati Habaib sama artinya dengan menjaga kesinambungan ilmu yang lurus. Mencintai Habaib sama artinya dengan mencintai Rasulullah ﷺ yang darah dan ajarannya mengalir di dalam dada mereka.

KESIMPULAN: Riak Kecil Tidak Akan Memutus Ikatan Abadi

Kini kita paham betul sejarah aslinya.

Hubungan Sarang - Lirboyo - Malang - Tarim itu adalah sejarah kebersamaan, sejarah saling menguatkan, sejarah persaudaraan yang murni karena Allah.

Ada kelompok seperti Mukimad, Imaduddin, Sugeng Sugiarto, dan kawan-kawan pembenci yang berusaha mati-matian memutarbalikkan fakta, bilang ada permusuhan, bilang Kyai tidak suka Habaib, bilang ada perpecahan...

ITU SEMUA KEBOHONGAN! ITU SEMUA FITNAH!

Mereka cuma melihat riak-riak kecil di permukaan air buatan mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah melihat ke dalam, ke dasar laut yang dalam, tenang, dan kokoh.

Fakta sejarah berbicara keras dan jelas:

✅ Mbah Manab hormat Mbah Zubair.

✅ Mbah Zubair dan Mbah Manab percaya dan hormat Habib Abdul Qodir Bilfaqih.

✅ KH. Mahrus Aly bertanya ilmu ke Habib Abdul Qodir.

✅ Semuanya bersambung ke Tarim, ke guru yang sama, ke ajaran yang sama.

Ikatan ini sudah terjalin ratusan tahun, jauh sebelum mereka lahir, jauh sebelum mereka ada. Dan ikatan ini TIDAK AKAN PERNAH PUTUS.

Biarkan mereka terus menggonggong, biarkan mereka terus mengarang cerita.

Sejarah tetaplah sejarah.

Hubungan Kyai dan Habaib tetaplah ERAT, INDAH, DAN ABADI.

Karena kita sadar: Kami bersaudara, kami sejalan, dan kami sama-sama menjaga warisan Rasulullah ﷺ sampai akhir zaman.