Gus Rumail: KABUR KE YAMAN?

 

Selasa, 23 Juni 2026

Faktakini.info

Rumail Abbas

KABUR KE YAMAN?

Di Cilacap, 29 April 2026, Presiden Prabowo Subianto menyindir tagar #KaburAjaDulu dengan satu lemparan:

"Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan."

Yaman disebut seolah berada di ujung dunia, negeri pelarian bagi yang sudah kehabisan harapan. Hhe~

Padahal dari Yaman ada satu tokoh yang jejaknya tercecer di kain penutup Ka'bah dan di dua ayat yang kita baca, padahal ia hidup berabad sebelum Islam.

Namanya Tubban As'ad Abu Karib, raja Himyar, yang lebih dikenal lewat gelar Tubba'. Gelar itu bukan nama, melainkan pangkat raja terbesar Himyar, sebagaimana orang Arab menamai raja Persia Kisra dan raja Romawi Qaishar.

Al-Thabari (w. 310 H/923 M), sejarawan dari Tabaristan, dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menulis ia menembus sampai Cina, lalu meninggalkan dua belas ribu penunggang Himyar di Tibet yang sampai hari riwayat itu dicatat masih mengaku diri orang Arab.

Dalam perjalanan pulang ia singgah di Yathrib (kini Madinah), hendak membinasakan penduduknya, tetapi dua pendeta Yahudi mencegahnya: kota ini akan menjadi tempat hijrah seorang nabi Quraisy di akhir zaman. Tubba' pun mengurungkan niat, lalu mengikuti agama keduanya.

Ibn Hisyam (w. 213 H/828 M) dalam Kitab al-Tijan fi Muluk Himyar menyebutnya orang pertama yang meng-kiswah (memberi kain penutup) Baitullah, yang membuatkan pintu dan kuncinya. Kain hitam yang menutup Ka'bah hari ini adalah pewaris tradisi yang, menurut riwayat ini, dimulai oleh seorang raja Yaman.

Ia beriman kepada Nabi Muhammad tanpa pernah melihatnya, lalu menggubah syair yang, menurut Ibn Katsir (w. 774 H/1373 M), dihafal kaum Anshar turun-temurun dan tersimpan pada Abu Ayyub al-Anshari, tuan rumah pertama Rasulullah di Madinah.

شَهِدْتُ عَلَى أَحْمَدَ أَنَّهُ رَسُولٌ مِنَ اللهِ بَارِئِ النَّسَمِ

"Aku bersaksi atas Ahmad bahwa ia benar-benar utusan dari Allah, Pencipta sekalian jiwa."

(al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibn Katsir, Juz II, hlm. 204)

Jejaknya pun ada di al-Qur'an dalam bentuk "qaum Tubba'". Yang menarik, para mufassir (ahli tafsir) menegaskan yang dicela adalah kaumnya, bukan Tubba' sendiri.

«لَا تَسُبُّوا تُبَّعًا فَإِنَّهُ قَدْ كَانَ أَسْلَمَ»

"Janganlah kalian mencela Tubba', karena sungguh ia telah masuk Islam."

(Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Ibn Katsir, Juz VII, hlm. 238)

Imam al-Alusi (w. 1270 H/1854 M) dalam Ruh al-Ma'ani menimbang bukti-bukti itu lalu menyimpulkan ia seorang mukmin di atas agama Ibrahim, tetapi bukan seorang nabi.

Ketika "Yaman" disebut negeri pelarian yang jauh dan kelam, kitab-kitab yang saya baca justru menyimpan seorang anak Yaman yang jejaknya menempel pada kain Ka'bah.

Dan tentang dia, Nabi hanya berpesan satu hal: jangan dicela.