Gus Rumail Heran Masih ada yang percaya Sugeng PWI-LS, karena untuk 'komunitas pangan' saja Sugeng tidak dijadikan rujukan

 


Senin, 29 Juni 2026

Faktakini.info

Rumail Abbas

Lho, kalian masih mengikuti Sugeng Sugiharto yang bukan Ahli DNA itu? Untuk 'komunitas pangan' saja dia tidak dijadikan rujukan, ngapain mengikutinya untuk urusan yang sangat-sangat tidak ia kuasai: genetika populasi?

Barusan statusnya nongol di beranda, akhirnya saya mampir ke profile-nya. Masya Allah, dia masih bahas nasab Habib (Bani Alawi).

Jika mau, seharusnya dia menerbitkan publikasi yang selama ini belum mencapai konsensus di kalangan 'saintis resmi' (bukan yang macak Ahli DNA seperti dia): apa haplogroup Imam Ali?

"Ayo seminar di kampusmu kalau kamu berani!"

Lha, saya nDak punya rekam jejak kabur dari perdebatan. Kesultanan Banten, saya datang. UIN Jakarta, saya datang. Rabithah Alawiyah, saya datang.

Waktu saya tawari debat live, biar ditonton orang-orang, terserah pakai bahasa Indonesia, Inggris, atau Belanda, kan, dia sendiri yang menolak. Padahal dia sendiri yang ngocah-ngoceh saya ini bisa Inggris atau tidak, TOEFL-nya berapa.

Tapi dia sendiri yang mangkir. Alasannya sudah pernah diskusi live, lah. Ini, lah. Itu, lah. Ina-inu gak jelas.

Dan kalau mengundangnya di seminar di kampus, jelas merupakan hal yang tidak mungkin. Lawong kepakaran saja tidak punya, kok, mengulas nasab orang lewat DNA?

Jangankan dosen, pithik pun akan tertawa~

Kampus mana yang mau mengundang seminar orang yang kredensinya gak nyambung begitu?

Kalau cuma inferensi-inferensi sambil diulas di media sosial, ya, itu kerjaan orang nganggur. Bukan peneliti. Bahkan Sugeng disebut disebut peneliti pun bukan.

Kalau peneliti, gak mungkin cara membantahnya hanya "PAI-PAI 7 Tahun" mulu. Itu namanya fallacy. Kalau fallacy-nya dibalas fallacy, ya, jangan marah.

Lawong otaknya saja cuma mampu begitu.

Bagi yang mengenalnya, tolong ingatkan. Usianya sudah makin menua, seharusnya dia sadar bahwa salat lima waktu itu wajib dan menjadi amal pertama yang akan dihisab di akhirat. Ngoceh-ngoceh di media sosial sambil membicarakan nasab orang itu hisabnya belakangan.

Kecuali dia memang dibayar untuk itu, ya, jelas bayarannya akan kena hisab juga. Itupun kalau bayarannya halal. Kalau haram, jelas kena adzab.

Jika pun tidak dibayar, apa yang ia tulis sudah hampir mendekati qadzaf, dan jelas gak ada manfaatnya. Apa kalian mau mengikuti kesimpulan orang yang bukan pakar hingga mendekati qadzaf begitu?

Saya memang menakut-nakuti kalian, lho, ini. Karena kelak jika ditanya malaikat, dan alasannya "saya ngikut Sugeng", dan terbukti Sugeng salah, maka tidak jadi udzur bagi kalian.

"Memang kepakaranmu apa, sih, Mail? Dasar tulul!"

Lho, saya ahli mencari fakta.

Soal Mufti Yaman yang diklaim Ki Imad membatalkan nasab Bani Alawi, dan diunggah di situs resmi RMINU Banten itu siapa memangnya yang dapat? Saya ngontak anggota kemuftian Yaman yang tinggal di Mesir dan menghubungi anaknya langsung.

Soal naskah-naskah tua yang bahkan Pak Menachem Ali dan Ki Imad tidak pernah tahu wujudnya seperti apa, tapi diulas secara yak-yak'o di buku Judeo-Arab, itu manuskrip temuan siapa memangnya?


😅


Foto hanya pemanis, ya, Gais~