Emak-emak Ngaku Dapat Rp 100 Ribu Saat Demo Dukung Program MBG di Monas
Selasa, 23 Juni 2026
Faktakini.info, Jakarta - Massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Jakarta dan Emak-Emak Bersatu Mendukung MBG menggelar unjuk rasa mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah di kawasan Monas, Jakarta Pusat pada Senin (22/6/2026).
Dalam aksi tersebut, peserta unjuk rasa mengaku mendapat uang saku Rp100 ribu, wajan, roti, buah-buahan, hingga susu.
Menanggapi hal itu, koalisi masyarakat yang memantau pelaksanaan program MBG pemerintah yakni MBG Watch memandang ada sejumlah hal yang perlu diketahui kalangan ibu-ibu terkait program MBG.
Inisiator yang juga Ahli Kebijakan Kesehatan dan Ketahanan Pangan MBG Watch, Isnawati Hidayah, mengatakan kekhawatiran terbesar terkait pelaksanaan program MBG tersebut datang dari kalangan ibu-ibu.
Hal itu karena penerima manfaat dari MBG adalah anak-anak mereka.
Pertama, kata dia, dampak tata kelola MBG terhadap anak penerima manfaat.
"Itu mulai dari perencanaannya, dari strategi yang digunakan untuk bagaimana pemilihan dan distribusi makanannya, kualitasnya, lalu juga bagaimana celah korupsi ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu mengoptimalkan keuntungan mereka," kata Isnawati saat dihubungi Tribunnews.com pada Selasa (23/6/2026).
"Dan itu dampak langsungnya adalah misal makanan yang disediakan ke anak itu jadi tidak berkualitas, atau jadi berbahaya ya, menimbulkan keracunan, dan lain sebagainya. Itu yang menjadi catatan penting untuk ibu-ibu semuanya," lanjut dia.
Kedua, kata dia adalah upaya yang bisa dilakukan ibu-ibu bila keberatan anaknya menjadi penerima manfaat MBG.
Bagi ibu-ibu yang keberatan dengan MBG, kata dia, bisa mengirimkan surat ke sekolah atau ke SPPG.
"Dan mengatakan bahwa nama anak kami tidak berkenan untuk menjadi penerima manfaat program ini. Itu juga bisa. Itu yang bisa dilakukan mungkin oleh orang tua dan ibu-ibu," kata dia.
"Dan juga kalau ada intimidasi dalam melakukan itu mungkin bisa dilakukan secara kolektif, imbuhnya.
Dia memandang frustasi yang dialami orang tua atau ibu-ibu salah satunya karena tidak ada suatu mekanisme yang benar-benar menampung aspirasi masyarakat secara transparan ya.
Menurutnya kanal resmi yang fisediakan Badan Gizi Nasional untuk menampung aspirasi masyarakat juga tidak efektif dalam mengumpulkan aspirasi masyarakat.
"Memang ada kanal 127 ya dari BGN, tetapi pun itu tidak efektif dalam mengumpulkan masukan, komplain dari masyarakat akar rumput dan menindaklanjutinya secara serius, seperti itu.
Sumber: Tribunnews/Gita Irawan)
