Allahu Akbar! Serangan dan Fitnah Sekte Imad Tak Padamkan Cahaya: Majelis Habaib Justru Semakin Dihadiri Umat

 

 


Ahad, 21 Juni 2026

Faktakini.info

Allahu Akbar! Serangan dan Fitnah Sekte Imad Tak Padamkan Cahaya: Majelis Habaib Justru Semakin Dihadiri Umat

Gelombang kritik, polemik, dan serangan di ruang publik terhadap para Habaib selama beberapa tahun terakhir ternyata tidak menghasilkan dampak seperti yang diharapkan sebagian pihak.

Alih-alih melemahkan kecintaan umat kepada para Habaib dan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ, berbagai perdebatan tersebut justru membuat perhatian masyarakat semakin besar. Majelis-majelis ilmu, shalawat, haul, dan peringatan Maulid Nabi ﷺ bersama para Habaib semakin ramai di berbagai daerah.

Sejarah Islam sendiri mencatat bahwa kebenaran sering kali menghadapi penolakan. Pada masa Rasulullah ﷺ, berbagai bentuk ejekan dan tantangan pernah dilontarkan oleh kaum yang menolak dakwah beliau. Bahkan ketika datang tanda-tanda kebesaran Allah, sebagian tetap memilih mengingkari karena hati telah tertutup oleh kesombongan dan prasangka.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa persoalan keyakinan dan sejarah tidak selalu selesai hanya dengan perdebatan, karena sikap manusia dalam menerima kebenaran juga dipengaruhi oleh niat, kejujuran, dan keterbukaan hati.

Polemik Nasab dan Gelombang Perdebatan

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, Abbas Tompel, Oma Irama PWI-LS (orang-orang Ajam gila nasab) melontarkan klaim bahwa nasab para Habaib perlu dipertanyakan, padahal  silsilah Ba‘alawi memiliki catatan sejarah panjang dalam tradisi keilmuan Ahlul Bait dan ilmu nasab, dan diakui 100 persen ahli nasab dan naqobah asyraf resmi dunia.

Perdebatan tersebut kemudian berkembang luas di media sosial. Berbagai konten, tudingan, dan serangan terus dilontarkan oleh Sekte Imad beserta team cyber, buzzer dan youtubernya. Namun fenomena yang terlihat di tengah masyarakat justru menunjukkan hal berbeda.

Semakin ramai diperdebatkan, semakin banyak masyarakat yang mencari informasi, membaca sejarah, bertanya kepada para ahli, dan mempelajari kembali tentang Ahlul Bait Rasulullah ﷺ.

Alih-alih menghapus perhatian publik, serangan, caci maki dan fitnah dari Sekte Imad justru membuat pembahasan tentang sejarah keluarga Nabi ﷺ semakin dikenal luas.

Serangan yang Berbalik Menjadi Gelombang Dukungan

Selama bertahun-tahun, berbagai kritik keras dan kampanye di media sosial diarahkan Sekte Imad kepada para Habaib.

Namun hasil akhirnya tidak seperti yang diperkirakan oleh para pembenci Habaib.

Majelis-majelis Habaib tetap berjalan. Jamaah tetap hadir. Shalawat tetap berkumandang. Kecintaan masyarakat kepada Rasulullah ﷺ dan keluarganya justru semakin terlihat.

Salah satu contoh terbaru adalah Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi 2026 di Monas, Jakarta, Jumat 19 Juni 2026, yang dihadiri puluhan ribu hingga lebih dari seratus ribu jamaah. 

Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Haji Pramono Anung beserta jajaran Pemprov DKI Jakarta, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, Habib Rizieq Syihab, para ulama, habaib, serta tokoh masyarakat dan 100 ribu lebih jamaah.

Besarnya antusiasme jamaah menunjukkan bahwa perdebatan di dunia maya tidak selalu menggambarkan suara masyarakat secara keseluruhan.

Kritik yang Berubah Menjadi "Promosi Gratis"

Fenomena menarik lainnya adalah setiap kali nama Habaib menjadi sasaran perdebatan, justru semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mencari tahu tentang mereka.

Konten yang awalnya dibuat untuk menyerang sering kali menjadi pintu bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah, tradisi keilmuan, dan peran para Habaib dalam dakwah Islam di Nusantara.

Sebuah tradisi yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat tidak mudah dihapus hanya dengan narasi di media sosial.

Ketenangan Lebih Kuat daripada Kebisingan

Di tengah derasnya perdebatan, banyak majelis Habaib memilih tetap fokus pada kegiatan dakwah, pendidikan agama, shalawat, dan pelayanan kepada umat.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menilai sebuah kelompok dari klaim dan perdebatan, tetapi juga dari sikap, akhlak, dan kontribusi nyata di tengah kehidupan sosial.

Waktu sering kali menjadi penguji paling adil.

Penutup

Sejarah mengajarkan bahwa serangan, ejekan, dan tuduhan tidak selalu mampu menghentikan sesuatu yang telah memiliki akar kuat dalam hati masyarakat.

Semakin besar tekanan yang datang, semakin terlihat pula bagaimana sebuah tradisi meresponsnya.

Bagi para pendukung Habaib, gelombang kritik yang terjadi beberapa tahun terakhir justru menjadi bukti bahwa kecintaan umat kepada Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait bukanlah sesuatu yang mudah dipadamkan.

Karena cahaya tidak akan padam hanya karena seseorang mencoba menutupinya.