Sanad Keilmuan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari: Mata Rantai Menuju Sayyid ‘Ubaidillah

 


Jum'at, 29 Mei 2026

Faktakini.info

Sanad Keilmuan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari: Mata Rantai Menuju Sayyid ‘Ubaidillah

Oleh: Muhammad Novel Bsa

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad bukan sekadar daftar nama. Ia adalah jaminan keaslian ilmu, jembatan yang menghubungkan pemahaman kita kembali ke ajaran murni Rasulullah ﷺ, yang dijaga ketat oleh para ulama salaf di setiap zaman. Di Nusantara, salah satu sanad yang paling kokoh, luas, dan menjadi rujukan utama warga Nahdlatul Ulama adalah sanad keilmuan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dan jika kita telusuri mata rantainya ke belakang, ia bersambung langsung ke sosok agung Sayyid ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir, induk dari seluruh keluarga Alawiyah dan sumber utama ilmu yang menyebar ke Asia Tenggara.

Berikut penjelasan lengkap, jelas, dan berdasar riwayat sejarah yang sahih, agar kita memahami kemuliaan warisan ilmu yang kita pegang ini.

1. Siapakah Sayyid ‘Ubaidillah?

Sayyid ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir hidup sekitar tahun 336–383 H (abad ke-10–11 M). Beliau adalah putra dari Imam Ahmad Al-Muhajir, ulama besar yang hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman, untuk menjaga nasab dan ilmu keturunan Rasulullah ﷺ. Nasab beliau bersambung murni ke Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu tercinta Nabi ﷺ.

Beliau adalah ulama yang sangat mendalam ilmunya, ahli fikih mazhab Syafi’i, ahli hadis, tafsir, dan tasawuf. Dari beliau lahirlah Sayyid Alwi bin ‘Ubaidillah, yang kemudian menjadi cikal bakal seluruh marga Ba ‘Alawi—keluarga keturunan Nabi yang paling banyak menyebarkan Islam ke Nusantara. Hampir seluruh ulama besar pembawa ilmu ke Indonesia, baik yang berasal dari Arab maupun pribumi yang berguru kepada mereka, akhirnya bertemu di jalur sanad Sayyid ‘Ubaidillah ini. Beliau adalah sumber mata air ilmu agama yang mengalir sampai ke kita sekarang.

2. Jejak Keilmuan Hadrotusyaikh: Dari Tebuireng ke Makkah

Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari (1871–1947 M) adalah pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama, mujtahid besar yang ilmunya diakui dunia Islam. Beliau tidak mendapat ilmu begitu saja, melainkan melalui perjalanan panjang berguru kepada ulama-ulama puncak di dalam dan luar negeri .

Guru-guru utama beliau yang menjadi mata rantai sambungan ke Sayyid ‘Ubaidillah:

1. Syekh Mahfudz At-Tarmasi (Pacitan, tinggal lama di Makkah) – Beliau berguru 7 tahun penuh, mendalami hadis, fikih, dan ushuluddin.

2. Sayyid Abu Bakar Syatha – Ulama besar Makkah, keturunan Alawiyah.

3. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan – Mufti Mazhab Syafi’i, ulama rujukan dunia Islam saat itu.

4. Syekh Utsman bin Yahya – Mufti Kesultanan Turki Utsmani, keturunan Nabi.

5. Syekh Nawawi Al-Bantani – Ulama Indonesia yang karyanya dipelajari dari Maroko hingga Malaysia, sanadnya langsung masuk jalur Sayyid ‘Ubaidillah .

Semua nama besar ini—tanpa terkecuali—memiliki sanad keilmuan yang bersambung ke jalur ulama Ba ‘Alawi, dan ujungnya bertemu pada Sayyid ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir.

3. Sambungan Lengkap: Dari Hadrotusyaikh ke Sayyid ‘Ubaidillah

Berikut urutan mata rantai sanad yang sahih dan tercatat dalam kitab-kitab rijal dan ijazah keilmuan:

KH. Hasyim Asy’ari

➡️ Berguru kepada: Syekh Mahfudz At-Tarmasi

➡️ Berguru kepada: Sayyid Abu Bakar Syatha

➡️ Berguru kepada: Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

➡️ Berguru kepada: Sayyid Muhammad bin Husain Al-Habsyi

➡️ ... dan terus ke atas melalui para ulama Ba ‘Alawi

➡️ Sampai ke: Sayyid Alwi bin ‘Ubaidillah

➡️ Sampai ke induknya: Sayyid ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir

➡️ Dan dari beliau bersambung terus ke para Imam, Sahabat, hingga Rasulullah ﷺ.

Ini bukan sekadar urutan nama. Setiap mata rantai ini memiliki ijazah resmi, izin mengajarkan ilmu, dan diakui kepercayaannya oleh seluruh dunia Islam. Artinya: ilmu yang diajarkan Hadrotusyaikh, kitab-kitab yang beliau tulis, fatwa-fatwanya, dan dasar pemikiran Nahdlatul Ulama, berasal langsung dari sumber murni yang dijaga oleh Sayyid ‘Ubaidillah dan para pendahulu beliau.

4. Mengapa Sambungan Ini Sangat Penting?

Ada makna besar yang harus kita pahami, agar kita tidak salah langkah dalam memegang ajaran agama:

Bukti Keaslian Ajaran Aswaja

Sanad ini membuktikan bahwa apa yang kita amalkan—fikih Syafi’i, aqidah Asy’ariyah, tasawuf yang seimbang—bukan pemikiran baru atau buatan ulama Nusantara semata. Ini adalah warisan utuh yang dijaga Sayyid ‘Ubaidillah dan keluarga beliau, diteruskan ke ulama Nusantara, lalu sampai ke Hadrotusyaikh. Tidak ada tambahan atau pengurangan.

Jaminan Kemurnian Dakwah

Islam masuk ke Indonesia melalui jalur ini: damai, penuh kasih sayang, menyeimbangkan syariat dan hakikat, menghormati leluhur, dan bersatu. Semua ini adalah ciri khas pemikiran Sayyid ‘Ubaidillah, yang kemudian diturunkan sampai ke Hadrotusyaikh. Berbeda dengan pemahaman yang kaku atau keras, jalur sanad ini selalu membawa rahmat.

Identitas Kita Sebagai Umat islam di Nusantara 

Kita bangga karena memegang ilmu yang akarnya kuat. Ketika kita mengaji kitab kuning, mengikuti fatwa NU, kita sedang meneruskan mata rantai yang sama yang dipegang Sayyid ‘Ubaidillah lebih dari 1.000 tahun lalu. Ini kepercayaan diri yang besar: kita tidak terputus dari sejarah besar Islam.

5. Penutup: Kewajiban Kita Sebagai Penerus

Mengetahui bahwa sanad Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersambung mulus ke Sayyid ‘Ubaidillah, harus menumbuhkan dua sikap:

1. Menjaga Ilmu: Jangan mengubah, mengurangi, atau menambah pemahaman yang sudah jelas warisannya. Tetap pada jalur Ahlussunnah wal Jama’ah.

2. Mengamalkan Akhlak: Sayyid ‘Ubaidillah dikenal sangat rendah hati, dermawan, dan peneduh umat. Hadrotusyaikh juga memiliki sifat yang sama. Kita wajib meniru akhlak mereka, bukan sekadar tahu nama-nama dalam silsilah.

Sanad ini adalah harta paling berharga kita. Semoga kita semua termasuk golongan yang memegang tali agama Allah dengan kokoh, meneruskan warisan mulia dari Rasulullah ﷺ, melalui Sayyid ‘Ubaidillah, sampai ke Hadrotusyaikh, dan sampai ke tangan kita sekarang.

 

“Ilmu itu terikat dengan sanad, seperti badan terikat dengan jiwa.” — (Pepatah Ulama)