Raden Ario Majang Koro Antek Terbesar Penjajah dengan Seabreg Lencana Penghargaan Belanda
Raden Ario Majang Koro lahir di Bangkalan, Madura, pada tahun 1832. Ia disebut sebagai keturunan Panembahan Cakraningrat II. Dalam karier militernya, ia menjadi perwira terkemuka dari Barisan Bangkalan, bagian dari Korps Barisan Madura yang berafiliasi dengan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).
Karier militernya dimulai sejak usia muda di Surabaya. Seiring waktu, ia dikenal sebagai komandan Barisan Bangkalan yang memiliki peran penting dalam berbagai operasi militer pemerintah kolonial Belanda untuk menumpas perlawanan rakyat di berbagai daerah di Indonesia.
Majang Koro bukan tokoh biasa. Hal ini terlihat dari banyaknya penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda atas jasanya.
Gelar dan Penghargaan dari Belanda
Ridders Militaire Willems-Orde (MWO) Kelas IV Diberikan atas jasanya dalam operasi militer Belanda, termasuk perannya dalam menewaskan Panglima Polem VII Teuku Sri Imam Muda Mahmud Arifin, tokoh besar perjuangan Aceh.
Gelar "Ario" Diberikan oleh empat raja atau penguasa Madura sebagai bentuk penghormatan atas kedudukan dan jasanya.
Orde van Oranje-Nassau Salah satu penghargaan bergengsi dari Kerajaan Belanda atas jasanya dalam operasi penaklukan, termasuk di Lombok.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Raden Ario Majang Koro dikenal sebagai salah satu perwira pribumi yang paling berjasa bagi pemerintah kolonial Belanda. Ia terlibat dalam berbagai operasi militer, seperti penumpasan perlawanan di Bali, Palembang, Kalimantan Barat, Aceh, hingga Lombok.
Ironisnya, sosok yang secara nyata mendapat penghargaan dari penjajah atas perannya dalam menumpas perjuangan rakyat justru jarang dibahas. Sementara itu, ulama besar seperti Habib Utsman bin Yahya terus menjadi sasaran fitnah tanpa dasar oleh Sekte Imad hanya karena iri dan dengki terhadap nasab Habaib. Sejarah semestinya dibaca secara jernih, adil, dan berdasarkan fakta.
N

