MENJAGA JARAK DENGAN PENGUASA

 


Kamis, 7 Mei 2026

Faktakini.info

MENJAGA JARAK DENGAN PENGUASA

Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik  

Saya tidak tahu, kenapa ada fenomena ulama atau aktivis merasa bangga bertemu dengan penguasa. Diundang penguasa, bicara dengan penguasa, lalu berkerumun dihadapan media, mengabarkan seolah betapa pentingnya dirinya diundang penguasa.

Ada yang diundang penguasa, lalu menyetujui kebijakan zalim penguasa. Ada yang diundang, setelah itu meminta umat memaklumi keteledoran bahkan kezaliman penguasa, dengan dalih 'menjadi pemimpin itu tidak mudah'.

Ada yang berdalih, ingin menyampaikan kritikan langsung. Agar bisa didengar. Padahal, pasca berdiskusi dengan penguasa kezaliman dilanjutkan, dan makin dilegitimasi. Seolah, suara kritis telah ditampung.

Disisi lain, umat menaruh kecurigaan. Karena boleh jadi bukan kebenaran kekuasaan yang mencerahkan kritik, tapi amplop kekuasaan yang membungkamnya.

Jadi, sudahlah...

Tak usah berebut untuk bertemu dengan penguasa. Seolah, menjadi orang penting yang mau didengar oleh kekuasaan.

Ketika Anda diundang penguasa, itu bukan karena anda ingin didengar. Tapi kehadiran anda, akan dimanfaatkan untuk melegitimasi kekuasaan.

Sehingga, suara lantang anda dikemudian hari akan kehilangan makna dan legitimasi. Akan muncul tudingan, anda kritis agar anda didatangi oleh kekuasaan. Atau mendapatkan jatah amplop kekuasaan.

Cukuplah karib bersama umat, bersama rakyat...

Teruslah menjadi sufi, yang sepi dari pujian kekuasaan, terus menanggung beban penderitaan bersama rakyat. Teruslah bersuara, karena suara itu sampai ke penguasa.

Jika penguasa mendengar, memperhatikan nasib rakyat, maka penguasa akan mendengar kritikan anda. Tanpa perlu mengundang atau anda tak perlu mendatangi pintu kekuasaan.

Mendatangi pintu kekuasaan itu fitnah. Jika benar penguasa butuh nasehat, dia yang mendatangi ulama. Janganlah anda, yang berpredikat ulama, merendahkan diri dengan mendatangi pintu kekuasaan.

Jika mereka butuh, mereka yang mendatangi majelis ilmu Anda. Bukan anda, merendahkan diri dan ilmu, mendatangi pintu pintu kekuasaan.

Lihatlah !

Betapa banyak yang datang dan diundang ke istana. Baik aktivis maupun ulama. Tapi tak ada atsar kebaikan, dari pertemuan itu.

Yang ada, kredibilitas ulama dan aktivis jatuh, kekuasaan makin sombong. Kezaliman dilegitimasi oleh kunjungan ulama dan aktivis.

Ini adalah nasehat, bukan saja untuk anda yang membaca. Tapi juga untuk saya, yang menulis tulisan ini untuk anda. [].