Kenapa Perlu Ada Gerbong Khusus Perempuan
Kenapa Perlu Ada Gerbong Khusus Perempuan?
#catatan_RV
Antara lain karena gerbong perempuan adalah ruang yang bisa menjamin kaum perempuan terbebas dari potensi mengalami pelecehan seksual.
Memangnya sering terjadi pelecehan seksual di kereta?
Sepertinya iya. Bahkan mungkin makin parah. Buktinya, sejak tahun lalu PT KAI menambah peringatan pada tiap gerbong, "Hati-Hati Dengan Bentuk Pelecehan Seksual," sebagaimana pada foto ini.
Padahal, sebelumnya, peringatan serupa sudah ada, bahkan selalu dilakukan pada tiap perjalanan KRL. Tapi berupa pengumuman lisan. Sepertinya itu masih kurang, sehingga PT KAI merasa perlu menambahkannya dengan peringatan tertulis begini.
Memang, jika kita naik Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek, pasti akan sering mendengar peringatan begini dari pengeras suara di dalam kereta:
"Jika Anda mengalami pelecehan seksual, segera laporkan pada petugas keamanan kereta."
Dalam satu trip perjalanan dari Stasiun Bogor ke Stasiun Tanah Abang, misalnya, kita akan mendengar peringatan demikian beberapa kali.
Awal-awal sering naik kereta dulu, saya agak heran, kenapa sering sekali ada pengumuman untuk waspada pada pelecehan seksual? Apa memang sering terjadi perbuatan tercela itu di kereta?
Belakangan, keheranan saya itu terjawab. Ternyata memang sering muncul di media online berita tentang Satpam PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengamankan pelaku pelecehan. Coba saja googling dengan kata kunci 'pelecehan seksual di kereta'. Pasti muncul banyak berita.
Berikutnya kita mungkin bertanya-tanya: kenapa sampai banyak terjadi pelecehan dalam kereta? Kok ya sempat-sempatnya orang berpikiran kotor kemudian bertindak mesum di dalam gerbong?
Jawabannya: karena gerbong kereta itu memang penuh sesak. Terutama di jam-jam sibuk, yaitu jam pergi dan pulang kerja.
Sesesak apa? Benar-benar sesak. Laki-laki dan perempuan campur aduk. Tempat duduk penuh. Lorong kereta juga dijejali penumpang yang berdiri dempet-dempetan. Tak ada jarak. Tubuh benar-benar saling bersinggungan karena memang tak tersedia lagi sedikitpun ruang supaya posisi tubuh antar penumpang bisa agak berjarak.
Saking rapatnya, penumpang yang berdiri ini tak perlu berpegangan lagi ke pegangan di langit-langit supaya tubuh tidak terdorong oleh efek fisika laju kereta. Karena tubuh sudah saling menyangga akibat posisi berdiri yang benar-benar berhimpitan.
Dalam kondisi demikian, tentu kaum perempuan yang sangat mengalami dilema bagaimana melindungi tubuh mereka supaya tidak menempel pada tubuh penumpang laki-laki.
Bagian depan tubuh, memang bisa terlindungi. Biasanya tas disandang di depan menutupi bagian dada. Tapi bagaimana dengan bagian belakang tubuh? Terutama bok*ng? Tentu tak bisa ditutupi. Sehingga penumpang perempuan terpaksa pasrah saja dengan keadaan.
Nah, kondisi seperti itu lah mungkin yang menyebabkan banyak terjadi pelecehan seksual. Orang-orang yang mungkin punya semacam kelainan prilaku sering tergoda dan tak bisa mengendalikan pikiran kotornya lalu melakukan berbagai bentuk pelecehan.
Apa saja bentuk pelecehan itu? Macam-macam. Mulai dari bentuk yang ringan: mendorongkan tubuh secara berlebihan memanfaatkan momentum kereta yang mengerem, sampai yang paling parah: ada penumpang perempuan yang tiba-tiba di bagian belakangnya terasa ada l*ndir menempel.
Lantas, apa tidak ada upaya PT KAI mengatasi permasalahan ini?
Tentu ada. Untuk penindakan, pengumuman tadi adalah salah satunya. Memperbanyak jumlah Satpam juga sudah dilakukan. Mereka ada hampir di tiap gerbong.
Sedangkan untuk pencegahan, disediakan gerbong khusus perempuan, yaitu gerbong paling depan dan paling belakang. Tapi itu tentu tidak cukup.
Kenapa tidak seluruh gerbong saja dipisahkan laki-laki dan perempuan? Tentu tidak bisa. Ada penumpang laki-laki-perempuan yang suami istri atau orang tua dan anak. Mereka tentu ingin tetap satu gerbong. Terutama yang jompo. Jadi kebijakan itu memang tidak mungkin diterapkan pada semua gerbong.
Lagi pula, bukankah sekarang zaman L-G-B-T?
Meskipun seluruh gerbong dipisah laki-laki dengan perempuan tetap saja bisa terjadi pelecehan, bukan?
