Imigran Yaman Bawa Investasi, Gerombolan Begal Nasab Bawa Provokasi

 


Selasa, 19 Mei 2026

Faktakini.info

Imigran Yaman Bawa Investasi, Gerombolan Begal Nasab Bawa Provokasi

Oleh: [Muhammad Novel Bsa]

Wacana publik di ruang digital belakangan ini diramaikan oleh narasi usang yang mencoba membenturkan sentimen etnis. Sekelompok pihak yang kerap dijuluki sebagai "gerombolan begal nasab" gencar meneriakkan narasi kebencian bahwa imigran asal Yaman (Hadhramaut) adalah penjajah di tanah Nusantara. Klaim tersebut merupakan sebuah kesalahan fatal yang mengabaikan lembaran sejarah sosiologi-ekonomi bangsa Indonesia.

Fakta sejarah justru mencatat perbedaan 180 derajat antara kolonialisme Barat dan kehadiran diaspora Hadhrami. Jika kolonial Barat datang membawa senjata untuk mengeruk kekayaan bumi Nusantara, imigran Yaman datang membawa modal (investasi), jaringan global, dan transmisi ilmu pengetahuan yang berakar kuat pada integrasi sosial.

Investasi Nyata: Bukan Capital Flight, Tapi Capital Retention

Secara ekonomi makro, imigran Yaman yang berlabuh di Nusantara sejak abad ke-7 hingga gelombang besar abad ke-19 bertindak sebagai venture capitalist tradisional yang mandiri. Merujuk pada kajian sejarah dalam Jurnal Avatara (Universitas Negeri Surabaya), kedatangan masyarakat Arab Hadhramaut ke Indonesia murni didorong oleh motif ekspedisi perdagangan mandiri. Mereka menanamkan modalnya untuk menggerakkan roda ekonomi lokal melalui beberapa instrumen:

Pembangunan Pusat Ekonomi: Laporan historis yang dirilis oleh Arina.id menunjukkan bahwa komunitas Arab Hadhrami berhasil membangun kampung-kampung Arab menjadi distrik perdagangan yang sangat hidup di kota-kota besar seperti Batavia, Surabaya, hingga Semarang. Bersama masyarakat Tionghoa, mereka menguasai perdagangan perantara untuk komoditas pakaian, bahan bangunan, mebel, hingga tekstil.

Investasi Menetap (Capital Retention): Berbeda dengan konglomerat Eropa atau VOC yang menerapkan capital flight (membawa pulang keuntungan ke kas negara asal di Eropa), pengusaha Hadhrami melakukan investasi total. Keuntungan dagang diputar kembali di dalam negeri dengan mendirikan bengkel kerja cetak batik dan tenun tekstil lokal, yang menyerap banyak tenaga kerja pribumi.

Asimilasi Aset melalui Pernikahan: Penelitian ilmiah dari ResearchGate (Diaspora Bangsa Arab Hadrami) mencatat bahwa generasi awal imigran Hadhrami berakulturasi secara total dengan penduduk lokal Nusantara. Melalui pernikahan silang, aset ekonomi yang mereka bangun otomatis diwariskan kepada keturunan mereka yang memegang status warga lokal asli, sehingga kekayaan tersebut tetap mengalir di dalam ekosistem domestik Indonesia.

Investasi Sumber Daya Manusia (SDM) Lewat Jalur Ilmu

Investasi terbesar diaspora Yaman di Indonesia adalah intangible asset berupa pembentukan modal manusia (human capital). Ketika pemerintah kolonial Belanda membatasi akses pendidikan bagi kaum pribumi, komunitas keturunan Yaman mempelopori modernisasi pendidikan:

Pionir Madrasah Modern: Berdasarkan dokumen sejarah resmi Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir, organisasi Jamiat Kheir yang didirikan sejak tahun 1901 di Pekojan merupakan organisasi Islam pertama di Indonesia yang berfokus pada bidang sosial dan pendidikan.

Kurikulum Modern untuk Semua: Catatan dari Profil Jamiat Kheir menegaskan lembaga ini memelopori sistem madrasah modern pertama di Indonesia. Mereka menginvestasikan dana besar untuk mengajarkan bahasa asing, sains, dan matematika. Sekolah-sekolah ini terbuka bagi kaum pribumi dan melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional yang krusial bagi kemerdekaan Indonesia.

Kontras Dua Kunjungan di Gedung Istana: Jembatan Sinergi vs Gerakan Polarisasi

Bukti nyata perbedaan kontribusi dan motif gerakan ini terekam jelas dalam rekam foto kedatangan para tokoh ke Kantor Staf Kepresidenan (KSP), yang memperlihatkan perbedaan mencolok di hadapan Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman: [1, 2] 

Ulama Ba'Alawi Menyambungkan Investasi Global: Pada dokumentasi bagian atas, terlihat jelas bagaimana representasi dari habaib, di antaranya Habib Al-Jufri, hadir mendampingi jajaran delegasi dan investor dari Timur Tengah di kantor KSP. 

Pertemuan strategis dengan Jenderal Dudung ini membawa misi riil ekonomi makro: menarik penanaman modal asing, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat diplomasi ekonomi antara Indonesia dan jaringan global gurun Arab. Kehadiran figur keturunan Yaman dalam koridor ini konsisten dengan peran historis mereka sebagai pembuka keran investasi yang menyejahterakan masyarakat domestik.

Imaduddin Membawa Buku Pembatalan untuk Memecah Belah: Pemandangan berbalik 180 derajat tampak pada dokumentasi bagian bawah, ketika Imaduddin Utsman mendatangi Gedung KSP membawa buku tesisnya mengenai pembatalan nasab klan Ba'Alawi. 

Alih-alih menyodorkan gagasan pembangunan SDM atau penguatan ketahanan ekonomi nasional, kedatangan tersebut semata-mata demi memamerkan lembaran propaganda yang menyerang silsilah sekelompok warga negara. 

Kajian ilmiah dari Jurnal Jawi (UIN Raden Intan) menilai isi buku pembatalan nasab tersebut mengandung kelemahan metodologi genealogi yang fatal dan ahistoris. Langkah menyerahkan buku ini ke institusi kepresidenan dinilai publik sebagai upaya provokasi digital demi mencari panggung pengakuan politis sekaligus memicu segregasi sosial di akar rumput. [1] 

Gerombolan Begal Nasab Merugikan Ekonomi Negara

Fenomena "begal nasab" yang terus digoreng oleh aktor digital penentang Habaib sama sekali tidak memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan bangsa. Analisis sosiologis di platform Kompasiana mengenai Dampak Negatif Polemik Nasab menegaskan bahwa gerakan pembatalan silsilah ini berisiko tinggi mengikis Integrasi Nasional. [3] 

Lebih lanjut, artikel dari Tawazun.id memaparkan bahwa kebencian yang diproduksi secara berlarut-larut merugikan negara dari kancah ekonomi-politik:

Merusak Iklim Investasi: Investor membutuhkan stabilitas keamanan sosial dan kepastian hukum. Gaduh sosial berbasis sentimen etnis menimbulkan persepsi risiko (risk perception) yang tinggi bagi penanaman modal baru.

Distraksi Produktivitas: Energi kolektif bangsa yang seharusnya dialokasikan untuk inovasi ekonomi dan pembangunan SDM justru habis tersedot untuk memperdebatkan kebencian digital di kolom komentar. [3, 4] 

Kesimpulan

Mencap kontribusi sejarah imigran Yaman dengan narasi "penjajah" adalah bentuk ketunaan sejarah yang nyata. Data jurnal, dokumen sejarah, hingga bukti dokumentasi kenegaraan mutakhir membuktikan bahwa diaspora Yaman telah menyatu, berinvestasi, dan ikut menyokong kemajuan stabilitas nasional Indonesia. [3] 

Sudah saatnya masyarakat cerdas menyaring informasi dengan saksama. Kita harus mampu berdiri di atas fakta objektif: memuliakan para tokoh dan ulama yang membawa kemitraan investasi bagi kemakmuran bangsa, serta mengisolasi gerombolan provokator yang mengeksploitasi panggung negara demi memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. [3]

https://www.arina.id/