Imad yang tidak mau diteliti ( Klarifikasi Ki Imad tentang kitab NU-nya yang dicopas dari situs-situs Wahhabi )

 


Senin, 25 Mei 2026

Faktakini.info

Ki Imad, sang Mujaddid yang tidak mau diteliti ( Klarifikasi Ki Imad tentang kitab NU-nya yang dicopas dari situs-situs Wahhabi )

• Ki Imad, sang Mujaddid yang tidak mau diteliti ( Klarifikasi Kiai Imad tentang kitab NU-nya yang dicopas dari situs-situs Wahhabi ) 


Alkisah seorang Kiai sepuh di Jawa Tengah meminta klarifikasi dari Ki Imad terkait sebuah video Youtube berikut ini :

https://youtu.be/UJea-iKB3c0?si=-pgIUtSIwQn-KL1M

Video ini adalah reaction dari tulisan saya berikut ini yang mengkritisi salah satu kitab fenomenal Kiai Imad “ Al-Fikrah Al-Nahdhiyah “ yang ternyata banyak berisi “ copasan “ dari situs-situs Wahhabi : 

( Ki Imaduddin Al-Bantani, menulis kitab pemikiran NU tapi isinya “copas” dari situs-situs Wahhabi, sebuah catatan seorang pembaca ) 

saya sejak lama memang menunggu klarifikasi Kiai Imad terkait masalah ini, tapi alih-alih mengklarifikasi dengan argumen dan data, Kiai Imad justru bergaya bijak menyebutkan kata-kata hikmah hari ini dibalik viralnya tulisan saya itu :

“ itu biar kitab saya dibaca banyak orang Kiai, Lora Ismail itu minim referensi dan data, maklum lulusan Yaman, kena pengaruh halu “ 

Saya jadi teringat pendukung Real Madrid yang terpojok karena kalah dari Barcelona, alih-alih mengakui kekalahan, dia malah sibuk beralih kepada pembahasan 15 UCL 😁

Kiai Imad yang terhormat, jika memang njenengan kaya akan data dan referensi, silahkan tunjukkan data dan referensi mana yang memperbolehkan njenengan menyusupkan maklumat-maklumat dari situs Wahhabi itu ke sebuah Kitab yang njenengan klaim sebagai kitab pemikiran NU ? 

Kiai Imad juga seperti terjangkit “phobia” kepada setiap hal yang berbau Yaman, beliau berusaha meyakinkan bahwa lulusan Yaman itu tidak kredibel karena terdoktrin cerita-cerita halu, beliau mungkin tidak menyadari bahwa para lulusan Yaman ( Tarim ) yang punya kiprah di Indonesia entah sudah berapa banyak jumlahnya, dan mereka bukan hanya dari golongan Ba’alawi saja. dari kaum pesantren saja, di Langitan ada Kh. Abdullah Habib Faqih, di Lirboyo ada Yai Said Ridwan, Gus Adib Anwar Manshur, Gus Reza, Gus Hakim An’im dll, di Sarang ada Kak Iemam Waee Bin Kh. Roghib Mabrur, di Pakis Pati ada Gus Aan El Hoeda putra Kh. Aniq Muhammadun, belum lagi yang nyantri di Madinah tapi berguru kepada Habib Yaman ( Habib Zain Bin Smith ) seperti Gus Melvin Lirboyo, Gus Zaki Lasem ( ipar Gus Kautsar ),

Mas Cholil Nawawi Sidogiri, dan masih banyak lagi beliau-beliau yang lain yang kebanyakan tidak saya ketahui ( bisa kalian tuliskan di kolom komentar ). dan saya yakin beliau-beliau adalah orang-orang alim yang terdidik dengan didikan kitab-kitab Mutun dan Syuruh ilmiah, bukan kitab cerita-cerita karomah. 


Lagi pula Bagi saya lucu sekali jika cerita-cerita keramat itu dianggap oleh Kiai Imad sebagai kumpulan doktrin yang berusaha disebarkan ulama Ba’aalwi secara masif kepada para murid dan pencintanya, lah wong kitab-kitab itu ( Al-Ghurar, Al-Jauhar Al-Syaffaf dll ) layaknya kitab-kitab bergenre manaqib bukanlah kurikulum di lembaga manapun di Tarim, para ulama disana juga bukan yang menganjurkan banget kitab itu untuk dibaca santri-santrinya, lulusan Yaman yang punya kitab-kitab itu mungkin hanya beberapa saja,termasuk Abdul Aziz Jazuli yang memang sengaja mencari-cari sesuatu dalam kitab-kitab itu sebagai bahan konten sekaligus setoran untuk atasannya. 

Fatwa-fatwa Kiai Imad semakin hari juga semakin kesana, termasuk dalam video dibawah ini, ketika beliau menganjurkan kepada para orang tua untuk tidak memondokkan anaknya kepada Kiai-Kiai yang masih jadi Kibin Ba’aalwi, entah standar Kibin Ba’alawi itu seperti apa, yang jelas jika yang dimaksut adalah Kiai yang masih percaya Ba’aalwi sebagai Dzurriah Nabi, tentunya fatwa Kiai Imad ini akan “memakan“ banyak sekali, Allahumma kecuali beliau memang pede bahwa yang percaya tesisnya adalah mayoritas Kiai dan ulama se Indonesia raya. 

Berbagai statement Kiai Imad belakangan ini juga semakin menegaskan bahwa pembahasan Bab Ba’aalwi ini sudah offside kemana-mana dan sangat jauh dari sekedar “penelitian nasab “, kapan kira kira semua ini akan berakhir ? Ya Nggak Tau Kok Nanya Saya 😁

namun sekali lagi, dalam menyikapi setiap pembahasan nasab yang penuh dengan hoax dan framing ini, kita memang tidak harus berfikiran sama, tapi mari kita sama-sama berfikir 

Tesis “mujaddid” Kyai Kocak Imaddudin dari Banten dibalas dengan anti-tesis oleh keturunan Ba’alawi Arab langsung.

Begini ini saya suka. Buku dibalas buku. Data dibalas data.

Berikut terjemahan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:

---

Ini adalah sebuah buku yang kaya, penuh dengan faedah, teks-teks sejarah, dan silsilah; sarat dengan dokumen dan gambar manuskrip berharga yang langka. Mutiara-mutiara isinya telah dipungut, dirangkai, dan disusun dalam untaian indah oleh seorang peneliti yang mulia dan tekun, Ahmad bin ‘Awwad bin ‘Alawi Āl Ibrāhīm Fadaq Bā‘Alawī al-Husainī secara nasab, berdomisili di Oman. Beliau mendekatkan isinya kepada para pembaca dan peneliti, serta melimpahkan dalam bab-bab bukunya ilmu dan adab. Sungguh luar biasa beliau sebagai seorang peneliti, dan sungguh mulia sebagai penyelam yang mencari mutiara dari tempat tersembunyinya.


✍️ Buku ini merupakan bantahan terhadap sebagian orang congkak di zaman kita, yang berusaha menutupi matahari dengan ayakan, berusaha menyembunyikan fakta, memalsukan sejarah, dan mempopulerkan kebohongan di hadapan sekelompok orang yang hanya mengetahui apa yang mereka lihat, dan hanya mempercayai apa yang disodorkan kepada mereka, walaupun itu batil—karena dominasi media massa atas akal manusia dan lemahnya kesadaran serta pemahaman mereka. Kadang penerima informasi itu tahu kebenarannya, tetapi karena suatu keinginan tersembunyi dalam dirinya, ia malah bertepuk tangan untuk kebatilan, mengira hal itu akan memenuhi ambisi pribadinya, sambil mengabaikan bahwa dengan tepuk tangannya itu ia menempatkan dirinya dalam penjara kehinaan dan kerendahan, dan bahwa suatu hari nanti ia akan menyesalinya.


✍️ Buku ini adalah jawaban terhadap seorang laki-laki *Banten* (disebut “Bantani”), yaitu yang dinisbatkan kepada Banten—sebuah wilayah di Pulau Jawa bagian barat—yang pernah memiliki nama besar di masa awal pemerintahan Islam yang berjaya di timur dan barat negeri ini. Maka sungguh mengherankan, di zaman kita ini ada seorang “Bantani” yang menyeru untuk memecah belah barisan, membangkitkan fitnah yang tidur, bersuara lantang di depan umum, di media sosial, dan di stasiun televisi, lalu menulis sebuah buku untuk menguatkan fitnah dan pemikirannya, demi menyerang nasab kaum terhormat—orang-orang yang beragama, berilmu, bertakwa, dan berakhlak—dengan melakukan distorsi, pemalsuan fakta, dan menghapus cahaya Islam. Ia mengklaim bahwa para sayyid asyraf Bani ‘Alawi—yang secara darah, garis keturunan ibu,dan pernikahan sudah menjadi bagian dari masyarakat Jawa—adalah para pengaku palsu (padahal jauh dari itu), serta menuduh bahwa mereka memakai gelar kehormatan semata untuk tujuan pribadi dan ambisi duniawi, dan seterusnya dari ucapan-ucapannya yang aneh dan mengherankan!


Jika ini bukan fitnah, lalu apa itu fitnah?! Jika perkataan dan pidato Kyai Imad al-Din al-Bantani ini—yang hendak ia sebarkan—bukanlah persis seperti yang diinginkan penjajah dan inti dari apa yang dikehendaki kekuatan-kekuatan jahat dan kegelapan di dunia untuk menguasai akal manusia, lalu apa lagi yang disebut kemungkaran dan kebatilan?!

✍️ Aku telah mengikuti dari dekat dampak kampanye Kyai Imad al-Din al-Bantani sejak membesar dan meluas pada bulan Ramadhan tahun 1444 H / Maret 2023 M. Banyak orang dari Jakarta, Cirebon, dan Surabaya menghubungiku untuk mengumpulkan teks-teks yang membantah ucapannya dan menepis tuduhan-tuduhannya. Sejumlah peneliti muda mengumpulkan risalah-risalah terkait, ada yang berbicara di majelis-majelis dan program televisi—semua itu baik dan bermanfaat. Namun perkara ini bukan sekadar perbedaan ilmiah atau perbedaan pendapat, melainkan memiliki dimensi politik dan kolonial yang tidak tersembunyi.

Di antara orang-orang tulus yang bergerak untuk memadamkan fitnah ini adalah Sayyid Dr. ‘Ali Hasan al-Bahr—anggota Rabithah ‘Alawiyyah dan Nahdlatul Ulama, sekaligus salah satu penasihat presiden (semoga Allah memberkahinya). Juga Kyai ‘Alim dan dai terkenal Buya Yahya Jazuli, serta ustaz mulia Sayyid Muhammad Hanif al-‘Aththas yang membuat diskusi panjang direkam untuk membahas klaim-klaim Bantani. Di antara penulis penelitian tentang hal ini adalah peneliti nasab Sayyid Amjad Abu Fathim Bā‘Alawī, dan masih banyak lainnya.

✍️ Kini di tangan kita ada buku yang penuh manfaat, disusun oleh Sayyid Ahmad bin ‘Awwad bin ‘Alawi Āl Ibrāhīm Fadaq Bā‘Alawī. Beliau menghimpun ringkasan dan teks-teks langka dari manuskrip, kitab sejarah, dan kitab nasab, yang membantah kebohongan dan tuduhan Kyai Imad al-Din ‘Utsman al-Bantani, serta menampakkan kebenaran yang jelas. Betapa benar pepatah *“ada berkah di balik musibah”*—jika bukan karena kampanye penuh kebencian terhadap nasab para sayyid Bani ‘Alawi, mungkin kita tidak akan melihat penelitian indah dan bermanfaat ini.

✍️ Penulis membangun bukunya di atas dua pembahasan utama:

1. Bantahan terhadap klaim Bantani bahwa Sayyid Ahmad bin ‘Isa tidak pernah hijrah ke Hadramaut, karena menurutnya tidak ada bukti sejarah yang menegaskan hal itu.

2. Pengantar terhadap kitab-kitab, manuskrip, dan ijazah-ijazah yang menyebutkan nasab mulia atau menggambarkan mereka sebagai keturunan Nabi, berupa daftar panjang sekitar 40 halaman atau lebih.

Beliau berusaha keras untuk memaparkan teks-teks paling tua yang menyebut Sayyid Ahmad bin ‘Isa dalam rantai nasab keturunan tokoh-tokoh besar dari garisnya. Di antaranya yang paling penting adalah ijazah yang dikeluarkan oleh Sayyid ‘Ali bin Jadid (w. 620 H) dan daftar *samā‘* yang ditulis pada salinan kitab-kitab hadis, yang di dalamnya tertulis nasab beliau bersambung hingga Sayyid Ahmad bin ‘Isa—tertulis dengan tangan para ulama ahli hadis dari Yaman.

✍️ Buku ini juga memuat banyak pembahasan baru yang bermanfaat, di antaranya:

* Penolakan bahwa Imam ‘Ali bin Ja‘far yang disebut dalam sanad-sanad Syi‘ah Imamiyah adalah ‘Ali al-‘Aridhi bin Ja‘far al-Shadiq, kakek para sayyid ‘Aridhiyyin.

* Penolakan atribusi kitab *al-Syajarah al-Mubārakah* kepada Fakhr al-Razi.

* Pembahasan tentang *al-Hawthah* dan penjelasan beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal para sayyid di sana.


* Pembahasan tentang *al-Khifārah* yang dikenal dari Muhammad bin ‘Ali Bā‘Alawī, pemilik kota Mirbat. Dan penelitian-penelitian indah lainnya.