FPI Parepare Kecam Keras Penembakan di Masjid San Diego: UFN Sebut Islamophobia di Barat Kian Mengkhawatirkan
FPI Parepare Kecam Keras Penembakan di Masjid San Diego: Ustadz Fahri Nusantara UFN Sebut Islamophobia di Barat Kian Mengkhawatirkan
San Diego, California — Senin, 19 Mei 2026
Tragedi berdarah mengguncang komunitas Muslim di Amerika Serikat setelah aksi penembakan terjadi di kompleks Islamic Center of San Diego, California, pada Senin siang waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan tiga jamaah dan memicu kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk organisasi Islam di Indonesia.
Kepolisian San Diego menjelaskan bahwa laporan mengenai penembak aktif diterima sekitar tengah hari. Aparat yang tiba di lokasi menemukan tiga korban pria meninggal dunia akibat luka tembak di area luar masjid. Salah satu korban diketahui merupakan petugas keamanan masjid yang disebut berusaha melindungi jamaah sebelum akhirnya turut menjadi korban.
Situasi sempat mencekam setelah polisi melakukan evakuasi terhadap area masjid dan sekolah yang berada dalam kompleks tersebut untuk mengantisipasi ancaman lanjutan.
Tak lama setelah kejadian, dua pelaku yang masih berusia remaja ditemukan tewas di dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari lokasi penembakan. Polisi menduga keduanya meninggal akibat tembakan yang mereka lakukan sendiri usai menjalankan aksinya.
Pihak FBI bersama kepolisian setempat kini mendalami kemungkinan motif kebencian dalam kasus tersebut. Sejumlah laporan awal menyebut adanya indikasi catatan bernuansa anti-Islam serta ujaran kebencian yang berkaitan dengan para pelaku.
Peristiwa itu langsung memicu gelombang duka dan kemarahan di kalangan masyarakat Muslim dunia. Rumah ibadah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk beribadah justru berubah menjadi lokasi pertumpahan darah.
Di Indonesia, kecaman keras datang dari Front Persaudaraan Islam (FPI) Kota Parepare. Ketua FPI Parepare, Ustadz Fahri Nusantara, menilai tragedi tersebut merupakan bukti nyata bahwa islamophobia di dunia Barat masih sangat kuat dan terus berkembang.
“Ini bukan lagi sekadar tindak kriminal biasa. Penyerangan terhadap masjid menunjukkan adanya kebencian terhadap Islam yang semakin berbahaya. Kami dari FPI Parepare mengecam keras aksi penembakan tersebut,” tegas Ustadz Fahri Nusantara UFN.
Menurutnya, propaganda anti-Islam yang terus disebarkan melalui media, politik identitas, dan ruang digital telah menciptakan suasana permusuhan terhadap umat Islam di sejumlah negara Barat.
Ia juga menyerukan kepada seluruh aktivis Islam, tokoh masyarakat, dan organisasi kemanusiaan agar bersatu menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk islamophobia dan kekerasan terhadap rumah ibadah.
“Jangan diam ketika masjid diserang dan umat Islam menjadi korban. Semua elemen masyarakat harus bersatu mengecam tindakan biadab seperti ini agar tragedi serupa tidak terus terulang,” tambahnya.
Analisis: Pola Serangan terhadap Masjid dan Ancaman Radikalisasi Digital
Kasus penembakan di kompleks masjid San Diego dinilai memiliki pola yang mirip dengan sejumlah serangan terhadap umat Islam di negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir. Jika motif anti-Islam terbukti, maka peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian kekerasan berbasis kebencian terhadap komunitas Muslim global.
Dunia sebelumnya pernah diguncang tragedi penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019 yang menewaskan puluhan jamaah Muslim. Banyak pengamat keamanan menyebut bahwa serangan semacam ini sering dipicu oleh radikalisasi digital, propaganda supremasi ras, dan narasi kebencian yang berkembang di internet.
Fakta bahwa pelaku masih berusia remaja juga menjadi perhatian serius. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa generasi muda sangat rentan terpapar ideologi ekstrem melalui media sosial, forum tertutup, hingga konten kekerasan yang tersebar bebas di dunia maya.
Selain itu, tingginya angka kepemilikan senjata api di Amerika Serikat turut memperbesar risiko terjadinya penembakan massal. Kombinasi antara akses senjata yang mudah dan radikalisasi ideologi dianggap menjadi ancaman serius bagi keamanan publik.
Pengamat menilai bahwa penanganan kasus seperti ini tidak cukup hanya melalui pendekatan keamanan semata. Pencegahan propaganda kebencian, penguatan pendidikan toleransi, pengawasan radikalisme digital, dan perlindungan terhadap rumah ibadah menjadi langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.
