Buletin ke-21 DPD FPI Jabar, Habib Rizieq: “Waspada Adu Domba 'Pribumi vs Pendatang" dari Generasi Penerus Abdullah bin Ubay”

 


Jum'at, 22 Mei 2026

Faktakini.info

DPD FPI Jawa Barat Terbitkan Buletin “Waspada Adu Domba Generasi Penerus Abdullah bin Ubay”

DPD Front Persaudaraan Islam (FPI) Jawa Barat kembali menerbitkan buletin dakwah mingguan edisi ke-21 tertanggal 5 Dzulhijjah 1447 H / 22 Mei 2026. Dalam buletin tersebut, FPI Jawa Barat mengangkat tema besar tentang pentingnya menjaga persatuan umat Islam dan mewaspadai upaya adu domba di tengah masyarakat.

Buletin yang diterbitkan oleh Tim Redaksi Lembaga Dakwah Persaudaraan (LDP) DPD FPI Jawa Barat itu menyoroti bahaya fanatisme golongan, suku, maupun sentimen pribumi dan pendatang yang dinilai dapat merusak ukhuwah Islamiyah.

Dalam isi buletin dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ membangun persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar sebagai teladan persatuan umat. Standar persaudaraan dalam Islam ditegaskan bukan berdasarkan suku, ras, budaya, ataupun daerah, melainkan iman dan takwa.

Buletin juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

Selain itu ditegaskan pula bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah bukan karena nasab ataupun suku, melainkan karena ketakwaannya, sebagaimana dalam Surah Al-Hujurat ayat 13.

Dalam pembahasannya, buletin tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak provokasi yang membenturkan antara pribumi dan pendatang. FPI Jawa Barat menyebut pola adu domba seperti itu sebagai bentuk fanatisme jahiliyah yang pernah diperingatkan Rasulullah ﷺ.

Buletin turut menyinggung tuduhan sebagian pihak terhadap habaib sebagai “pendatang” yang ingin menguasai Indonesia. Menurut penjelasan dalam buletin, para habaib datang ke Nusantara untuk berdakwah, berdagang, dan membaur dengan masyarakat lokal, bukan untuk menjajah.

Di bagian penutup, buletin menegaskan kembali tiga prinsip utama:

Standar persaudaraan adalah iman.

Standar kemuliaan adalah takwa.

Umat Islam wajib menjaga persatuan.

DPD FPI Jawa Barat berharap umat Islam tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang memecah belah persaudaraan sesama Muslim.

Transkrip Buletin

BULETIN DPD FPI JAWA BARAT

Edisi ke-21_ 5 Dzulhijjah 1447 H - 22 Mei 2026

WASPADA ADU DOMBA GENERASI PENERUS ABDULLAH BIN UBAY

Nabi Muhammad ﷺ membangun persaudaraan di antara para sahabatnya dengan cara mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Dari peristiwa itu terdapat pelajaran besar tentang hakikat persaudaraan dalam Islam.

Allah ﷻ berfirman:

“Innamal mu’minuuna ikhwatun.”

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Kata “innama” dalam ayat ini menunjukkan pembatasan dan penegasan. Artinya, orang-orang beriman itu hakikatnya adalah saudara. Maka tidak pantas seseorang mengaku beriman tetapi enggan bersaudara dengan sesama Muslim.

Standar persaudaraan dalam Islam bukan suku, bukan darah, bukan budaya, dan bukan negara. Standarnya adalah iman.

Apa pun sukunya, apa pun budayanya, dari mana pun asalnya, selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia adalah saudara kita.

Orang Arab, Cina, India, Persia, Sunda, Jawa, Madura, Aceh, Ambon, Maluku dan lainnya — selama mereka beriman kepada Allah — mereka semua bersaudara.

Kaum Muhajirin adalah pendatang dari Makkah yang hijrah ke Madinah. Sedangkan Anshar adalah penduduk asli Madinah.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa pribumi maupun pendatang, selama beriman kepada Allah, mereka wajib bersatu, saling mencintai, dan saling membantu dalam suka maupun duka.

Allah juga menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan nasab dan bukan suku, tetapi ketakwaan.

“Inna akramakum ‘indallahi atqaakum.”

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Nasab mulia tanpa ketakwaan tidak ada nilainya di sisi Allah. Bahkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa keturunan Nabi ﷺ apabila berbuat maksiat maka dosanya lebih berat karena membawa nama mulia Rasulullah ﷺ.

Sebaliknya, seorang budak yang tidak dikenal nasabnya tetapi beriman dan bertakwa bisa lebih mulia daripada orang kaya atau bangsawan yang tidak bertakwa.

Maka ukuran persaudaraan adalah iman, sedangkan ukuran kemuliaan adalah takwa.

Suatu ketika dalam perjalanan perang, terjadi perselisihan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar.

Orang Anshar berteriak:

“Wahai kaum Anshar!”

Sedangkan Muhajirin juga berteriak:

“Wahai kaum Muhajirin!”

Mereka memanggil kelompok masing-masing.

Ketika Nabi ﷺ mendengar hal itu, beliau marah dan bersabda:

“Tinggalkan seruan jahiliah itu, karena itu seruan yang busuk.”

Nabi ﷺ menolak fanatisme golongan yang dapat memecah persaudaraan Islam.

Tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kemudian mencoba memanfaatkan keadaan. Ia berkata:

“Kalau kita kembali ke Madinah, orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina.”

Yang ia maksud “orang mulia” adalah kaum Anshar pribumi, sedangkan “orang hina” adalah Muhajirin pendatang.

Allah mengabadikan ucapan ini dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8, lalu Allah membantah mereka:

“Walillahil ‘izzatu wa lirasulihi walil mu’minin.”

“Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”

Kemuliaan bukan milik orang munafik yang ingin memecah belah umat.

Sayidina Umar bin Khattab رضي الله عنه sampai meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk membunuh Abdullah bin Ubay karena dianggap pengadu domba kaum Muslimin.

Namun Nabi ﷺ melarangnya karena khawatir orang luar akan berkata:

“Muhammad membunuh sahabatnya sendiri.”

Ketika Nabi ﷺ wafat, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membahas siapa yang akan memimpin umat.

Suku Aus dan Khazraj sempat berselisih karena masing-masing merasa lebih berhak.

Di tengah ketegangan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه datang bersama Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Abu Bakar mengingatkan:

Muhajirin dan Anshar telah dipersaudarakan Nabi ﷺ.

Jangan memilih pemimpin berdasarkan suku atau kelompok.

Pilihlah yang terbaik.

Abu Bakar bahkan menawarkan Umar atau Abu Ubaidah sebagai khalifah.

Namun Umar justru memegang tangan Abu Bakar dan berkata:

“Demi Allah, engkau lebih baik daripada kami.”

Lalu Umar membaiat Abu Bakar, dan seluruh Anshar ikut membaiat beliau.

Padahal Abu Bakar adalah pendatang dari Makkah, bukan pribumi Madinah. Namun kaum Anshar menerima beliau karena ukuran dalam Islam adalah iman, takwa, dan kapasitas, bukan asal daerah.

Begitu pula setelah Abu Bakar wafat: Umar menjadi khalifah, setelah itu Utsman, kemudian Ali RA.

Keempat khalifah semuanya berasal dari luar Madinah, namun kaum Anshar menerima mereka dengan ridha.

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, kepemimpinan Islam berlanjut kepada Bani Umayyah, kemudian Bani Abbasiyah, hingga Khilafah Turki Utsmani.

Bahkan bangsa Arab rela dipimpin oleh Turki Utsmani yang bukan Arab. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam ukuran kepemimpinan bukan ras dan suku, melainkan kemampuan, iman, dan kekuatan menjaga umat.

Islam tidak melarang seseorang bangga dengan suku, budaya, atau daerahnya sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Namun yang dilarang adalah:

merasa paling mulia karena suku,

menghina suku lain,

membenci pendatang,

atau memecah belah umat.

Fanatisme yang melahirkan permusuhan termasuk perbuatan jahiliah.

IB HRS kemudian menyoroti adanya sebagian pihak yang menuduh habaib sebagai penjajah atau pendatang yang ingin menguasai Indonesia.

Beliau membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa banyak habaib datang ke Nusantara untuk berdakwah, berdagang, dan menikah dengan masyarakat lokal.

Beliau juga menyampaikan bahwa banyak tokoh dakwah di Nusantara memiliki hubungan nasab dengan keturunan Nabi ﷺ menurut pandangan yang beliau sampaikan.

Menurut penjelasan beliau, para habaib datang ke berbagai wilayah Indonesia untuk menyebarkan Islam dan menjadi bagian dari masyarakat setempat, bukan untuk menjajah.

Penutup

IB HRS menegaskan kembali bahwa:

standar persaudaraan adalah iman,

standar kemuliaan adalah takwa,

dan umat Islam wajib menjaga persatuan.

Segala bentuk adu domba antara pribumi dan pendatang, suku dan suku, maupun kelompok dan kelompok merupakan hal yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah.

Jj