Buletin DPD FPI Jabar ke-20, Habib Rizieq: FPI Harus Perkuat Dakwah, Kemanusiaan, dan Perang Opini di Media Sosial

 


Jum'at, 15 Mei 2026

Faktakini.info, Jakarta - Imam Besar Habib Rizieq Syihab (IB-HRS) kembali menegaskan arah perjuangan Front Persaudaraan Islam (FPI) sebagai organisasi Islam yang fokus pada dakwah, hisbah, serta amar ma’ruf nahi mungkar. Penegasan tersebut dimuat dalam Buletin DPD FPI Jawa Barat Edisi ke-20 yang terbit pada Jumat, 15 Mei 2026.

Dalam pesannya, IB-HRS menekankan bahwa FPI bukan partai politik dan tidak menempatkan diri sebagai oposisi. Menurut beliau, sikap yang harus diambil adalah objektif, adil, dan jujur, yaitu mendukung kebijakan pemerintah yang sejalan dengan syariat Islam serta mengkritisi kebijakan yang merugikan umat.

“FPI harus tetap independen dan konsisten dalam memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa,” tegas beliau.

IB-HRS juga mengingatkan bahwa medan perjuangan saat ini tidak hanya berada di lapangan, tetapi juga di dunia maya. Ia menyoroti keberadaan buzzer berbayar yang selama ini menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap ulama serta tokoh Islam.

Karena itu, beliau menyerukan agar para aktivis membentuk komunitas mujahid media sosial yang bekerja secara ikhlas untuk menyebarkan fakta, menangkal disinformasi, dan melaporkan akun-akun penyebar kebohongan.

Menurut IB-HRS, perang opini tidak dapat dihindari. Umat Islam harus hadir secara aktif di berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Telegram, X, dan Facebook untuk menyebarkan dakwah, advokasi kemanusiaan, serta melawan propaganda yang menyesatkan.

Dalam aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, beliau menekankan pentingnya membangun sinergi dengan masyarakat. Kegiatan seperti penutupan tempat maksiat, misalnya, sebaiknya dilakukan bersama warga agar tidak mudah dipersepsikan sebagai tindakan sepihak.

“Gerakan harus melibatkan RT/RW, karang taruna, remaja masjid, petani, hingga pengusaha agar lebih kuat dan tidak mudah dikriminalisasi,” ujarnya.

Selain dakwah, IB-HRS menekankan pentingnya kiprah kemanusiaan. Ia mengapresiasi partisipasi FPI dalam berbagai aksi sosial, termasuk operasi SAR bencana longsor yang mendapat apresiasi dari Basarnas Bandung.

Menurut beliau, hal tersebut menjadi bukti bahwa FPI tidak hanya aktif dalam dakwah, tetapi juga hadir membantu masyarakat dalam situasi darurat.

Menutup pesannya, IB-HRS menyerukan kepada seluruh aktivis perjuangan Islam agar terus mempersiapkan diri menghadapi perang media sosial melalui pelatihan, pembuatan akun, serta penyebaran informasi yang akurat dan bermanfaat.

Transkrip Pesan IB-HRS dalam Buletin DPD FPI Jawa Barat

Imam Besar Habib Rizieq Syihab (IB-HRS) menegaskan kembali jati diri Front Persaudaraan Islam (FPI) sebagai organisasi Islam yang berfokus pada dakwah, hisbah, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa FPI bukan partai politik dan tidak menempatkan diri sebagai oposisi. Sikap yang harus diambil adalah objektif, adil, dan jujur: mendukung kebijakan pemerintah yang sesuai syariat, serta mengkritisi kebijakan yang merugikan umat.

IB-HRS mengingatkan bahwa medan perjuangan terbesar saat ini bukan hanya di lapangan, melainkan di dunia maya. Praktik buzzer berbayar yang jumlahnya diklaim mencapai puluhan ribu akun internasional telah lama menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap ulama serta tokoh Islam.

Mereka digaji hingga miliaran rupiah per bulan untuk membentuk opini publik dan menormalisasi kebohongan.

Karena itu, IB-HRS menyerukan agar FPI membentuk komunitas mujahid media sosial yang bekerja ikhlas, menyebarkan fakta, dan melaporkan akun perusak hingga ditutup. Perang opini tidak bisa dihindari, dan umat harus hadir di ruang digital dengan strategi yang cerdas.

Dalam pesannya, IB-HRS menekankan agar aksi nahi mungkar tidak dilakukan sendirian dengan atribut organisasi. Gerakan harus berpadu dengan masyarakat—RT/RW, karang taruna, remaja masjid, petani, hingga pengusaha—agar lebih kuat sekaligus sulit diarahkan sebagai kesalahan FPI semata.

Untuk kegiatan dakwah dan kemanusiaan, atribut organisasi boleh ditampilkan. Namun untuk aksi sensitif, strategi berbaur dengan masyarakat menjadi kunci agar tidak mudah disorot atau dikriminalisasi. Contoh nyata adalah penutupan tempat maksiat yang dilakukan bersama warga sehingga tidak bisa dikambinghitamkan sebagai aksi sepihak.

Pesan IB-HRS kepada para aktivis jelas: hadir di berbagai platform—Instagram, TikTok, Telegram, X, dan Facebook—untuk menyebarkan kebaikan, kontra-hoaks, dan advokasi isu kemanusiaan.

Aktivis diingatkan untuk menggunakan istilah yang aman dari blokir algoritma serta selalu mengedepankan fakta. Gerakan Muslim Cyber Army atau mujahid medsos dipandang sebagai garda terdepan dalam perang opini.

IB-HRS juga menekankan pentingnya kiprah kemanusiaan. Basarnas Bandung memberikan apresiasi atas partisipasi FPI dalam operasi SAR longsor pada Januari 2025 hingga Februari 2026. Aktivitas ini menjadi bukti bahwa FPI tidak hanya bergerak dalam ranah dakwah, tetapi juga hadir membantu masyarakat dalam kondisi darurat.

Pesan beliau: terus berkhidmat secara ikhlas, terlepas dari penghargaan.

Sebagai penutup, IB-HRS menegaskan kembali prinsip objektif, adil, dan jujur, serta menjaga independensi dakwah dari kepentingan politik. Seruan utama adalah mempersiapkan diri menghadapi perang media sosial melalui pelatihan, pembuatan akun, dan penyebaran fakta, sekaligus memperkuat basis gerakan lapangan dengan melibatkan masyarakat dalam aksi nahi mungkar.