STANDAR GANDA DALAM DISKURSUS GENETIKA PWI-LS.: O TETAP DIANGGAP CUCU NABI
Jum'at, 17 April 2026
Faktakini.info
STANDAR GANDA DALAM DISKURSUS GENETIKA.
Pernyataan menohok dari Jauhari atau yang di sebut Hasan Syarif yang merupakan ahli nasab andalan dari KH Imaduddin Utsman. Sempat membuat geleng geleng kepala,dalam pernyataanya dia menyebutkan: bahwa "Haplogroup O yang notabene merupakan hasil tes dari KH Imadudin cs merupakan mutasi dari J1 yang berarti juga dzuriat Nabi." Pernyataan tsb seakan membuka tabir sebuah fenomena menarik yang oleh banyak pengamat disebut sebagai "Standar Ganda Pro-Imad" dalam diskursus genetika.
DNA sebagai Senjata Pembatal Nasab
Awal mula polemik ini memuncak ketika kelompok KH Imaduddin dan para pendukungnya, termasuk Hasan Syarif, mulai menggunakan hasil tes DNA sebagai instrumen ilmiah untuk menggugat keabsahan nasab klan Ba’Alwi (Habaib) di Indonesia.
Argumen utama mereka sangat lugas: Seorang keturunan Nabi Muhammad SAW, yang berasal dari suku Quraisy (Bangsa Arab), secara teoretis harus memiliki Haplogroup J1. Berdasarkan premis ini, mereka menyerang klan Ba’Alwi yang dalam beberapa hasil tes menunjukkan Haplogroup G (Kaukasus), dan menyimpulkan bahwa nasab tersebut batal secara biologis karena tidak sinkron dengan asal-usul Arab.
Kontradiksi Haplogroup O
Namun, badai argumen tersebut justru berbalik arah. Isu mengenai hasil tes DNA KH Imaduddin dan kelompoknya sendiri mulai mencuat ke publik. Beberapa klaim menyebutkan bahwa hasil tes DNA mereka menunjukkan Haplogroup O—sebuah kelompok genetik yang dominan ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan Nusantara (Austronesia), bukan di Timur Tengah.
Di sinilah letak titik kritis yang dianggap sebagai standar ganda:
Untuk Lawan: Jika klan Ba’Alwi memiliki Haplogroup G (bukan J1), maka nasab mereka dianggap batal karena "bukan Arab".
Untuk Diri Sendiri: Ketika kelompok mereka sendiri teridentifikasi memiliki Haplogroup O (yang juga bukan J1), mereka tetap bersikukuh sebagai "Cucu Nabi yang Asli" dengan bersandar pada argumen mutasi dan catatan manuskrip dan sejarah lokal yg mereka yakini.
Antara Sains dan Sentimen
Sikap ini menciptakan paradoks ilmiah. Jika Haplogroup J1 dijadikan standar mutlak untuk membatalkan nasab orang lain, maka secara logika ilmiah yang sama, Haplogroup O juga seharusnya menggugurkan klaim nasab Arab bagi siapa pun yang memilikinya.
Para pengkritik menilai bahwa kelompok Pro-Imad sedang menerapkan metode "Cherry Picking"—hanya mengambil data sains yang menguntungkan posisi mereka dan mengabaikan data sains yang sama ketika data tersebut menyerang posisi mereka sendiri.
