Prabowo Dikritik Usai Singgung “Kabur ke Yaman”, Dinilai Abaikan Sensitivitas Hubungan Diplomatik
Kamis, 30 April 2026
Faktakini.info, Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto kembali menuai kritik publik setelah menyinggung narasi “kabur ke Yaman” dalam pidatonya pada acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Dalam sambutannya, Prabowo merespons narasi “Indonesia Gelap” dan “Kabur Aja Dulu” yang sempat ramai sebelumnya. Ia menilai pandangan tersebut tidak mencerminkan kondisi Indonesia saat ini yang menurutnya berada dalam situasi baik dan relatif aman dibanding banyak negara lain.
“Mau kabur ke mana? … kita ditempatkan sebagai negara yang paling aman di dunia sekarang,” ujarnya. Ia bahkan mempersilakan pihak-pihak yang dianggapnya kerap membuat gaduh untuk meninggalkan Indonesia. “Kabur aja deh… Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan,” tambahnya.
Namun, pernyataan tersebut memicu kritik karena dinilai tidak sensitif terhadap hubungan historis Indonesia dengan Yaman. Sejumlah pihak menilai narasi tersebut berpotensi merendahkan negara sahabat yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Yaman diketahui sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, serta hingga kini menjadi tujuan pendidikan bagi ribuan pelajar Indonesia setiap tahunnya.
Selain itu, kritik juga menyinggung rekam jejak pribadi Prabowo pascareformasi 1998, di mana ia diketahui pernah kabur ke luar negeri, yaitu ke Yordania. Hal ini dinilai membuat pernyataannya soal “kabur” menjadi kontradiktif dan rentan dipersoalkan secara publik.
Pengamat menilai, sebagai kepala negara, setiap pernyataan yang menyangkut negara lain seharusnya disampaikan dengan pertimbangan diplomatik yang matang, mengingat dampaknya tidak hanya pada persepsi domestik tetapi juga hubungan internasional.
