Bom Tak Mempan: Iran Pulihkan Silo Rudal Bawah Tanah Hanya Dalam Hitungan Jam
Laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip *The New York Times* mengungkap fakta mengejutkan di balik kampanye militer gabungan AS-Israel terhadap Iran: serangan udara yang diklaim telah meluluhlantakkan infrastruktur militer Tehran ternyata tidak seefektif yang dideklarasikan. Operatif Iran dilaporkan telah berhasil memulihkan bunker dan silo rudal bawah tanah yang dihajar bom AS dan Israel, dan mengembalikannya ke kondisi operasional hanya beberapa jam setelah serangan berlangsung. Temuan ini langsung memicu tanda tanya besar atas klaim-klaim kemenangan yang ramai dikumandangkan Washington.
Pentagon memang sempat sesumbar. Dalam sebuah briefing pekan ini, Departemen Pertahanan AS menyatakan telah menyerang 11.000 target di Iran selama lima pekan konflik berlangsung, dan mengklaim telah membuat "kemajuan signifikan" dalam melemahkan kemampuan militer Tehran. Namun laporan intelijen internal justru membantah narasi tersebut. Badan-badan intelijen AS dikabarkan mempertanyakan seberapa dekat Washington pada tujuannya untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran — sebuah sasaran kunci yang ditetapkan sendiri oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Yang membuat situasi semakin rumit adalah kecerdikan taktis Iran di lapangan. Penilaian akurat atas kemampuan Iran saat ini masih sangat sulit dilakukan, sebab Tehran secara masif menggunakan *decoy* atau peluncur rudal palsu — membuat pihak AS tidak yakin berapa banyak target yang dihancurkan adalah peluncur nyata, dan berapa banyak yang sekadar jebakan. Di sisi lain, Iran dilaporkan masih mampu meluncurkan sekitar 20 rudal per hari ke arah Israel — satu atau dua rudal sekaligus — sementara data lain menyebut angka 15 hingga 30 rudal balistik dan 50 hingga 100 drone kamikaze setiap harinya.
Meski tekanan militer terus berdatangan, strategi bertahan Iran tampaknya terencana dengan matang. Intelijen AS meyakini Iran semakin agresif memindahkan peluncur rudalnya ke dalam bunker dan gua untuk melindunginya dari serangan lanjutan, dengan tujuan mempertahankan sebanyak mungkin kemampuan rudal guna menjaga tekanan terhadap kawasan — baik selama maupun setelah konflik berakhir. Seorang pejabat senior Barat menyebut Iran masih menyimpan lebih dari 1.000 rudal balistik, dan Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap menjadi tulang punggung operasi tersebut. Situasi ini menempatkan klaim "kemajuan perang" pemerintahan Trump dalam sorotan tajam di dalam negeri.
**#IranMissileCrisis #IRGCMissiles #MiddleEastWar #USIranConflict #PentagonReport**
