"Bacaan Al-Qur'an Habib Umar bin Hafidh belepotan," kata Wahabi
Selasa, 7 April 2026
Faktakini.info
Ainul Mardiyah
"Bacaan Al-Qur'an Habib Umar bin Hafidh belepotan," kata Wahabi.
Wahai Abdurozak Duhurul, semisal kamu mendengar bacaan Al-Qur'an Umar bin Khattab ra., pasti kamu akan mengatakan bacaan beliau belepotan juga.
Umar bin Khattab dan Ibnu Mas'ud memakai dialek bacaan yang berbeda dari yang kamu kenal sekarang.
Orang Indonesia biasa membaca, وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (...kal-'ihnil manfush), "seperti bulu yang dibusur."
Cara baca Umar bin Khattab, كَالصُّوفِ الْمَنْفُوشِ (...kash-shufil manfush), "seperti wol yang dibusur."
Orang awam dan berpikiran sempit macam Anda pasti akan langsung berteriak bahwa bacaan Umar bin Khattab belepotan! Lalu mulai "mengajari" beliau cara membaca "yang benar". Tentu ini menggelikan sekali.
Orang Indonesia dengan Qiraat Hafs membaca, بُيُوت (buyuut), huruf ba' berdhammah.
Tetapi Ibnu Mas'ud membaca, بِيُوت (biyuut), huruf ba' berkasrah, bukan dhammah.
Orang Indonesia membaca مَٰلِكِ يَوْمِ الدِّين (maaliki yaumiddin), dengan huruf alif panjang.
Umar bin Khattab membaca مَلِكِ يَوْمِ الدِّين (maliki yaumiddin), tanpa alif, pendek.
Orang awam semacam Abdurozak Duhurul yang hanya tahu bacaan Hafs mungkin akan mengkritik bacaan Umar bin Khattab RA atau Utsman bin Affan RA karena dianggap salah, padahal itulah cara baca aslinya.
Kritikmu terhadap bacaan Al-Qur'an Habib Umar bin Hafidz yang kau sebut "belepotan" justru membuktikan betapa dangkal pemahamanmu tentang ilmu Qira'at Sab'ah wa 'Asyrah yang mutawatir. Ini bukan soal lahn jali atau lahn khafi. Tidak ada yang salah dari bacaannya, tapi ilmumu yang dangkal.
Habib Umar menguasai 7 qiraat mutawatir dengan sanad bersambung sampai ke Rasulullah saw. melalui Imam 'Ashim, Nafi', atau Ibnu Katsir, yang kadang menggunakan prinsip isymam, imalah, naql, dan saktah.
Bacaan māliki yaumiddīn dengan maliki dipanjangkan, atau ar-rahmāni dengan tarqiq dan tafkhim tertentu, atau yuhyi wa yumitu dengan yuhayyi, semua itu ada dalam riwayat Qolun, Warasy, atau Ad-Duri. Habib Umar memiliki sanad muttasil untuk semua itu.
Jadi, jika kau mendengar bacaan Habib Umar berbeda dengan bacaan Hafs yang populer di Indonesia, itu bukan "belepotan", melainkan perpindahan qiraat yang jangkar keilmiahannya lebih kuat daripada seleramu yang hanya hafal satu riwayat.
Jangan samakan telinga awam yang hanya terbiasa satu frekuensi dengan telinga ahli yang mampu menikmati harmoni tujuh huruf (ahruf) yang diwariskan secara tawatur. Apalagi jika kau tak paham farshul huruf dan ushulul qiraat.
Seperti kata pepatah ulama:
"Barang siapa yang menyangka ilmu itu hanya apa yang dia ketahui, maka dia telah menampakkan kebodohannya sendiri."
Habib Umar pernah menjadi imam di Masjid Al-Azhar Kairo, Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Uni Emirat Arab (Dubai & Abu Dhabi), serta masjid-masjid di Yaman, Maroko, Yordania, Aljazair, hingga Chechnya. Tidak ada satu pun yang menyalahkan bacaannya. Kenapa? Karena mereka paham.
Tinggallah jangkrik-jangkrik yang berisik tapi tak paham.
Begitu......
