BENARKAH Soekarno Utus Ahmad Yani Usut Nasab Ba'alawi dan Rencana Deportasi..??

 


Kamis, 16 April 2026

Faktakini.info

Anton Syakiri

BENARKAH Soekarno Utus Ahmad Yani Usut Nasab Ba'alawi dan Rencana Deportasi..??

#cekfakta.

Belakangan ini beredar unggahan di media sosial, khususnya dari akun oknum mukimad, yang mengeklaim bahwa Presiden Soekarno pernah memerintahkan Jenderal Ahmad Yani untuk mengusut nasab keturunan Ba'alawi (Habaib) dengan ancaman deportasi ke Yaman. Unggahan tersebut menggunakan narasi bahwa kaum Ba'alawi memiliki "nasab palsu" dan merupakan "abdi Belanda".

Namun, berdasarkan penelusuran sejarah dan verifikasi fakta, narasi tersebut adalah HOAKS dan merupakan bentuk manipulasi sejarah.

Fakta-Fakta Pendukung:

1. Tidak Ada Catatan Sejarah Valid

Hingga saat ini, tidak ditemukan satu pun dokumen resmi, catatan harian tokoh bangsa, maupun literatur sejarah yang mencatat adanya perintah Presiden Soekarno kepada Jenderal Ahmad Yani untuk mengusut nasab Ba'alawi. Ahmad Yani adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat yang fokus pada masalah keamanan nasional, seperti penumpasan pemberontakan DI/TII dan konfrontasi Ganyang Malaysia, bukan urusan silsilah keluarga.

2. Kedekatan Soekarno dengan Para Habib

Sejarah justru mencatat hubungan harmonis antara Soekarno dan para ulama keturunan Nabi (Habaib). Beberapa bukti sejarah menunjukkan:

Habib Ali Al-Habsyi (Kwitang): Soekarno sering meminta nasihat spiritual kepada beliau, termasuk dalam menentukan hari proklamasi kemerdekaan (17 Agustus 1945 yang jatuh pada hari Jumat di bulan Ramadan).

Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua): Tokoh pendiri Alkhairaat ini memiliki hubungan baik dengan Soekarno dan sangat mendukung kemerdekaan RI.

Syarif Kasim II: Sultan Siak yang merupakan keturunan Ba'alawi adalah pendukung utama finansial kemerdekaan RI yang memberikan donasi 13 juta gulden kepada Soekarno.

3. Pola Penyebaran Hoaks yang Berulang

Narasi serupa sebelumnya juga sempat viral dengan mencatut nama tokoh masa kini, seperti Presiden Prabowo Subianto. Pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mengonfirmasi bahwa klaim-klaim semacam itu adalah disinformasi.

4. Manipulasi Visual dan Narasi Provokatif

Gambar yang digunakan dalam unggahan tersebut adalah foto sejarah yang ditambahi teks provokatif. Akun akun oknum Mukimad sering kali terdeteksi menyebarkan konten yang memicu polarisasi dengan menggunakan sentimen anti-nasab tertentu tanpa dasar kajian ilmiah yang diakui.

Kesimpulan:

Narasi yang menyebutkan Soekarno memerintahkan deportasi Ba'alawi adalah fabrikasi atau karangan belaka yang bertujuan untuk memecah belah masyarakat di tengah polemik nasab yang sedang hangat.

Sumber Data & Referensi:

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI): Koleksi naskah dan dokumentasi Kepresidenan Sukarno 1945-1967.

Buku "Sisi Lain Istana" (J.B. Sudarmanto): Catatan mengenai hubungan Soekarno dengan tokoh-tokoh agama.

Kementerian Kominfo RI (aduankonten.id): Database identifikasi hoaks terkait isu SARA dan tokoh nasional.

Literasi Sejarah Hubungan Soekarno & Ulama: Kajian dari NU Online dan sumber sejarah Islam Nusantara mengenai peran Habaib dalam kemerdekaan.