Telah Wafat KH Muhammad Adnan Arsal, Tokoh Perjuangan Poso

 



Jum'at, 27 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Kabar duka menyelimuti masyarakat Sulawesi Tengah. Ulama sekaligus tokoh perjuangan Poso, KH Muhammad Adnan Arsal, wafat pada Jumat, 27 Maret 2026.

Almarhum dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam masa konflik Poso. Ia merupakan figur yang turut berperan sebagai panglima lapangan bersama Habib Soleh bin Abubakar Alaydrus, dalam upaya menjaga dan membela masyarakat Muslim pada masa konflik komunal yang terjadi di wilayah tersebut.

Kepergian KH Muhammad Adnan Arsal meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, tegas, dan memiliki komitmen kuat terhadap perjuangan umat.

Selain dikenal dalam medan perjuangan, almarhum juga aktif dalam dakwah dan pembinaan masyarakat. Ia dihormati sebagai tokoh agama yang konsisten mengajak umat kepada persatuan, keteguhan iman, serta menjaga nilai-nilai keislaman di tengah berbagai ujian sosial.

Sejumlah tokoh masyarakat menyampaikan belasungkawa dan doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Kepergian KH Muhammad Adnan Arsal menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Poso dan umat Islam yang mengenal dedikasi serta perjuangan beliau selama hidupnya.

Mengenang Kyai Adnan Arsal Sang Panglima Poso

Mendengar Poso, ingatan masyarakat masih menyimpan sisa-sisa kekelaman sejarah. Masa di mana malam bukan lagi waktu untuk beristirahat, melainkan saat di mana api menyala di kejauhan dan ketakutan menyusup ke setiap pintu rumah. Di tengah pusaran konflik itulah, nama Muhammad Adnan Arsal muncul sebagai sosok yang kembali merajut masyarakat yang terkoyak.

Sebelum konflik melanda, Adnan Arsal adalah seorang pendidik murni. Kehidupannya berpusat pada pengajian, santri, dan bimbingan spiritual bagi masyarakat. Ia tidak pernah merencanakan untuk memegang kendali di tengah peperangan.

Namun, sejarah memiliki jalannya sendiri. Ketika bentrokan pecah dan rumah-rumah mulai menjadi abu, masyarakat kehilangan arah. Dalam kepanikan itu, mereka berpaling kepada sang Ustadz. Adnan Arsal tidak meminta peran itu, namun tanggung jawab moral memaksanya bertransformasi menjadi pemimpin lapangan.

Salah satu fragmen paling heroik dalam perjalanannya adalah sebuah aksi penyelamatan di tengah kepungan. Saat sebuah kampung terancam serangan, Adnan Arsal tidak memilih konfrontasi fisik yang sia-sia, melainkan penyelamatan nyawa. Antara lain:

•Evakuasi Senyap: Di tengah kegelapan hutan yang pekat, ia memimpin rombongan perempuan, anak-anak, dan lansia.

 • Keheningan yang Menegangkan: Setiap langkah kaki ditahan agar tidak bersuara, bergerak menjauh dari bahaya tanpa cahaya lampu sedikitpun.

 • Kesadaran Baru: Keberhasilan menyelamatkan warga malam itu menanamkan benih kesadaran dalam dirinya: Menjaga kehidupan jauh lebih mulia daripada memenangkan pertempuran.

Kemudian titik balik itupun datang. Perubahan besar seringkali datang dari kalimat sederhana. Pasca sebuah bentrokan, Adnan Arsal bertemu dengan seorang pria tua dari pihak lawan. Pria itu tidak membawa senjata atau kemarahan, hanya tatapan kosong dan satu pertanyaan yang menghujam: "Kalau perang ini selesai, siapa yang bisa mengembalikan anak saya?"

Kalimat itu menjadi hantu yang terus bersemayam dalam pikiran Adnan Arsal. Ia menyadari bahwa dalam perang, kemenangan hanyalah ilusi jika yang tersisa adalah kehilangan yang tak tergantikan.

Berhenti dari konflik bukanlah perkara mudah. Adnan Arsal harus menghadapi risiko dicap pengkhianat oleh kelompoknya sendiri atau dicurigai oleh pihak lawan. Namun, ia tetap teguh melangkah ke meja-meja dialog.

Dalam sebuah pertemuan damai yang sangat tegang, ia mengucapkan kalimat yang membungkam kebencian, "Kalau kita tidak berhenti hari ini, anak-anak kita yang akan melanjutkan perang ini."

Logika masa depan ini perlahan meruntuhkan dinding permusuhan yang telah bertahun-tahun berdiri kokoh.

Warisan Terbesar: Kembali ke Akar. Setelah kedamaian mulai bersemi di Poso, Adnan Arsal tidak mengejar panggung politik atau kekuasaan. 

Lalu iapun memilih pulang ke tempat asalnya dan melakukan langkah-langkah strategis:

•Membina Lembaga Pendidikan: Menanamkan nilai toleransi pada generasi baru.

•Rekonsiliasi Akar Rumput: Menjadi jembatan komunikasi antar kelompok yang dulu berseteru.

• Membagi Pengalaman: Ia tidak hanya mengajar teks agama, tapi juga hikmah tentang mahalnya harga sebuah perdamaian.

Dan baru saja berita berita duka datang bahwa sang Panglima telah menghembuskan nafas terakhirnya. 

إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واسكنه فسيح جناته