Stop Fitnah Nasab! Imad cs Harus Ikhlas Menerima Takdir Nasabnya dan Jangan Jadikan Medsos Arena Menghina Keluarga Nabi
Jum'at, 6 Maret 2026
Faktakini.info, Jakarta - Peringatan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bahwa media sosial Indonesia sudah “tidak sehat” bukan sekadar pernyataan biasa. Siapa pun yang mengikuti dinamika beberapa tahun terakhir tahu persis maksudnya: ruang digital dipenuhi cacian, fitnah, dan provokasi yang merusak persatuan umat.
Salah satu contoh paling nyata adalah serangan tanpa henti kelompok Imaduddin bin Sarmana bin Arsa (orang-orang gila nasab) terhadap para habaib terkait isu nasab. Selama kurang lebih empat tahun terakhir, media sosial digiring oleh Imad PWI-LS dan gerombolannya, yang hampir setiap hari menjadikan habaib sebagai sasaran hinaan, tuduhan, dan fitnah.
Padahal dalam kajian ilmu nasab, hubungan nasab para habaib kepada Rasulullah SAW bukan perkara yang baru muncul belakangan. Nasab tersebut telah diriwayatkan secara turun-temurun selama berabad-abad, dicatat dalam berbagai kitab nasab, serta dikenal luas dalam tradisi keilmuan Islam.
Dalam disiplin ilmu nasab, jalur Ba‘alawi—yang menjadi leluhur banyak habaib di Nusantara—bahkan dikenal sebagai nasab yang mutawatir, yaitu silsilah yang diriwayatkan melalui banyak jalur secara berantai sehingga mustahil dipalsukan secara massal. Nasab ini juga diakui dan dicatat oleh berbagai lembaga pencatat nasab keluarga Nabi (naqabah) serta para ahli nasab lintas generasi di dunia Islam.
Karena itu, banyak kalangan menilai serangan terhadap habaib yang marak di media sosial bukan lagi sekadar diskusi ilmiah. Yang terjadi justru kampanye sistematis untuk merendahkan kehormatan habaib di mata masyarakat.
Dalam polemik ini, nama Imaduddin Sarman kerap dikaitkan dengan kelompok yang sangat agresif menyerang nasab habaib. Narasi yang mereka bangun bukan hanya mempertanyakan data sejarah, tetapi juga dipenuhi tuduhan, olok-olok, dan penghinaan yang terus dipropagandakan di media sosial.
Sebagian pengamat bahkan melihat polemik ini tidak lepas dari ambisi Imad cs yang ingin memunculkan klaim baru sebagai keturunan tokoh besar Islam di Nusantara, termasuk dikaitkan dengan para wali seperti Sunan Gunung Jati dari kalangan Wali Songo, bahkan hingga mencoba menghubungkannya dengan keluarga Muhammad.
Ketua Umum PWI-LS Abbas Tompel secara terbuka mengumumkan dirinya adalah seorang Syarif asli dari Hijaz, cucunya Sayyidina Hussein dan Nabi Muhammad SAW. Dan klaim ini tak hanya sekali Abbas lontarkan, namun berkali-kali ia umumkan dari panggung ke panggung.
Bagi banyak kalangan, menyerang nasab habaib sambil mengangkat klaim-klaim baru seperti itu dipandang sebagai upaya untuk meruntuhkan posisi habaib sebagai keluarga Rasulullah di tengah masyarakat, sekaligus membuka jalan bagi kelompok penuduh (Sekte Imad) untuk mengambil legitimasi tersebut.
Imad, Abbas Tompel dan gerombolannya diimbau untuk ikhlas menerima takdir dari Allah SWT yaitu mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi cucu Nabi Muhammad SAW, dan jangan iri kepada nasab Habaib yang ditakdirkan Allah SWT menjadi dzurriyah Rasulullah SAW.
Padahal dalam tradisi Islam, menghormati Ahlul Bait—keluarga Nabi Muhammad SAW—merupakan bagian dari akhlak umat sejak dahulu. Para ulama besar sepanjang sejarah selalu menekankan pentingnya menjaga kehormatan mereka.
Perbedaan pendapat dalam kajian sejarah tentu boleh. Penelitian ilmiah juga sah. Namun menjadikannya sebagai alat untuk mencaci, menghina, dan menyebar kebencian jelas bukan tradisi keilmuan Islam.
Fenomena “pemburu nasab” yang setiap hari memproduksi fitnah di media sosial bukan hanya merusak kehormatan ulama dan habaib, tetapi juga memperkeruh persatuan umat.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, seruan persatuan yang juga disampaikan Presiden Prabowo Subianto seharusnya menjadi pengingat bahwa energi umat lebih baik digunakan untuk membangun, bukan untuk memproduksi kebencian.
Media sosial seharusnya menjadi ruang dakwah, ilmu, dan persaudaraan—
bukan panggung bagi orang-orang yang terobsesi merobohkan kehormatan keluarga Nabi demi ambisi dan sensasi.
Fitnah boleh disebar setiap hari.
Namun sejarah, ilmu nasab, dan warisan para ulama tidak akan runtuh oleh teriakan para pembenci.
.

