Dasco Soroti Medsos yang Tidak Sehat, Fenomena Fitnah Nasab dan Caci Maki terhadap Habaib Harus Dihentikan

 


Jum'at, 6 Maret 2026

Faktakini.info, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyoroti kondisi media sosial di Indonesia yang dinilainya semakin tidak sehat karena dipenuhi budaya saling mencaci dan menyerang satu sama lain. Ia mengingatkan pentingnya persatuan nasional agar bangsa ini tidak terpecah oleh konflik yang tidak produktif.

Dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026), Dasco menegaskan bahwa masyarakat sipil seharusnya memberi kontribusi nyata bagi bangsa, bukan sekadar memproduksi kegaduhan.

“Kita perlu persatuan nasional dan sumbangsih yang bukan sekadar omon-omon,” ujar Dasco.

Menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Media sosial dipenuhi pertengkaran, cacian, dan serangan yang tidak sehat antar sesama anak bangsa.

“Masyarakat sipil kita tidak kompak, satu sama lain saling mencaci. Di media sosial saya lihat sudah tidak sehat,” kata Dasco.

Pernyataan tersebut terasa sangat relevan jika melihat fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir, di mana media sosial dipenuhi serangan terhadap ulama dan kalangan habaib terkait isu nasab.

Selama kurang lebih empat tahun terakhir, muncul kelompok Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, yang obsesif mempersoalkan nasab para habaib. Kelompok orang-orang gila nasab ini dikenal sering menyebarkan provokasi, tuduhan, hingga penghinaan kepada para habaib hampir setiap hari di media sosial.

Alih-alih menghadirkan diskusi ilmiah yang beradab, narasi yang dibangun justru penuh caci maki, fitnah, dan kebencian. Bahkan tidak sedikit tokoh habaib yang menjadi sasaran serangan personal, hanya karena mereka memiliki nasab yang dihormati umat.

Fenomena ini oleh banyak kalangan dinilai bukan lagi sekadar perdebatan akademik tentang sejarah atau silsilah, melainkan telah berubah menjadi kampanye sistematis untuk merendahkan kehormatan habaib serta menimbulkan kebencian di tengah masyarakat.

Ironisnya, sebagian pelaku justru menjadikan isu nasab sebagai alat untuk memprovokasi umat dan memecah belah persatuan. Padahal dalam tradisi Islam, menjaga kehormatan keturunan Nabi merupakan bagian dari adab yang diajarkan para ulama.

Karena itu, seruan untuk menghentikan budaya saling mencaci di media sosial menjadi semakin penting. Kritik tentu sah dalam negara demokrasi, namun kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, penghinaan, atau kampanye kebencian.

Dasco juga menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membutuhkan dukungan persatuan nasional agar dapat menjalankan program-programnya demi kesejahteraan rakyat.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat tetap boleh memberikan kritik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang sehat, beradab, dan dilandasi niat membangun.

Dalam situasi saat ini, menghentikan budaya fitnah, provokasi, dan penghinaan di media sosial bukan hanya soal etika bermedsos, tetapi juga menjadi bagian penting dari menjaga persatuan bangsa dan ukhuwah di tengah umat.

Foto: Sufmi Ahmad Dasco