Serangan Imad Bikin Majelis Habaib Makin Membludak, Jangan-jangan dia Muhibbin Menyamar?
Selasa, 17 Maret 2026
Faktakini.info, Jakarta - Allah Allah…
Mungkin ini salah satu ironi terbesar di era media sosial.
Datang dengan niat menyerang.
Berakhir sebagai promotor paling sukses.
Datang membawa tuduhan.
Pulang membawa simpati untuk lawan.
Dan nama fenomena itu hari ini hanya satu: Efek Imaduddin bin Sarmana bin Arsa PWI-LS cs.
Serangan Paling Ribut, Hasil Paling Terbalik
Empat tahun penuh serangan.
Video dibuat.
Narasi digoreng.
Fitnah diproduksi.
Konten digelontorkan tanpa henti.
Targetnya jelas: menjatuhkan habaib.
Tapi yang terjadi?
❌ Habaib tidak hilang.
❌ Majelis tidak sepi.
❌ Jamaah tidak pergi.
Yang terjadi justru kebalikannya:
✅ Majelis makin penuh.
✅ Shalawat makin keras.
✅ Nama habaib makin dikenal sampai pelosok.
Ini bukan gagal biasa.
Ini bumerang level nuklir.
Dari Penyerang Jadi Tim Marketing Gratis
Setiap konten serangan ternyata bekerja seperti iklan raksasa:
Orang melihat → penasaran → mencari → membaca → akhirnya tahu:
“Oh… habaib itu keturunan Nabi Muhammad ﷺ.”
Tanpa sadar, pihak penyerang melakukan edukasi massal gratis kepada masyarakat.
Yang dulu tidak tahu — jadi tahu.
Yang dulu netral — jadi simpati.
Yang dulu diam — jadi datang ke majelis.
Promosi gratis skala nasional.
Candaan yang Jadi Viral: “Kloning Imad!”
Di kalangan jamaah muncul satire yang kini makin sering terdengar:
“Habaib harusnya berterima kasih. Satu Imad saja bikin majelis membludak.”
Lalu muncul kalimat yang lebih pedas:
“Kloning saja Imad jadi 100 orang. Indonesia mungkin penuh majelis tiap malam.”
Awalnya cuma bercanda.
Tapi lama-lama orang sadar…
candaan itu lahir dari fakta.
Dugaan Paling Pedas: Muhibbin Berkedok?
Karena efeknya terlalu aneh, muncul teori satire yang makin ramai dibicarakan:
jangan-jangan Imad sebenarnya muhibbin yang menyamar. Alias Imad pecinta Habaib paling sejati.
Berpura-pura jadi pembenci yang membongkar nasab Habaib. Tapi itu cuma kedoknya saja.
Tujuannya membuat orang jadi mencari tau tentang Habaib, lalu jatuh cinta.
Logikanya sederhana:
Tidak masuk akal seseorang menyerang habis-habisan…
tetapi hasil akhirnya justru membuat targetnya semakin dicintai.
Setiap serangan → jamaah bertambah.
Setiap tuduhan → rasa penasaran naik.
Setiap konten → majelis makin ramai.
Ini bukan sekadar salah strategi.
Ini seperti membantu lawan — tanpa sadar.
Realita Lapangan Tidak Bisa Dibohongi
Ramadhan 1447 H jadi saksi.
Majelis habaib di berbagai kota dipadati manusia.
Alhawi Condet membludak, Zawiyah Pekojan meledak, Kramat Kwitang, Kramat Luar Batang, Kramat Empang, dll, jangan ditanya.. bergerak pun susah saking padatnya.
Era digital kini, live streaming, foto-video acara-acara bersama Habaib itu mudah dicari. Ini bukan omong kosong, ramai benar ramai.
Lautan jamaah. Jalan penuh. Masjid meluber.
Bukan karena kampanye besar.
Bukan karena iklan mahal.
Tetapi justru setelah gelombang serangan paling keras terjadi.
Semakin diserang, semakin ramai.
Hukum Sosial yang Selalu Terulang
Sejarah punya pola tetap:
Yang difitnah terus-menerus → mendapat simpati.
Yang tenang → dipercaya.
Yang terlalu marah → ditinggalkan.
Publik melihat.
Dan publik menilai.
Bukan hanya dari kata-kata, tapi dari sikap.
Ledakan yang Salah Arah
Bom narasi sudah dilempar.
Tapi yang hancur bukan habaib.
Yang meledak justru popularitas mereka.
Yang terbakar justru rasa ingin tahu masyarakat.
Yang tumbuh justru kecintaan umat.
Punchline yang Kini Beredar di Mana-mana
Orang mulai berkata setengah bercanda, setengah serius:
“Kalau benar ingin menghentikan habaib, mungkin berhenti menyerang mereka.”
Karena faktanya hari ini jelas:
Serangan bukan melemahkan.
Serangan justru memperbesar.
Dan satire paling tajam yang kini beredar:
“Satu Imad saja sudah bikin majelis meledak. Kalau dikloning, mungkin shalawat terdengar dari setiap sudut negeri.”
Allah Allah…
Kadang sejarah tidak membutuhkan pembela.
Ia cukup membiarkan ironi bekerja sendiri.

