Sepatu Mewah Yaqut Disorot di Tengah Kasus Kuota Haji, Diduga Zegna Seharga Rp16 Juta hingga Nyaris Rp 20 Juta
Sepatu Mewah Eks Menag Ikut Disorot di Tengah Kasus Kuota Haji, Diduga Zegna Seharga Rp16 Juta hingga Nyaris Rp 20 Juta
Di tengah sorotan perkara hukum yang menjerat mantan Menteri Agama, perhatian publik meluas hingga ke detail gaya hidup, termasuk sepatu premium yang dikenakannya.
JAKARTA — Di tengah sorotan tajam terhadap perkara dugaan korupsi kuota haji yang menjerat mantan Menteri Agama, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada proses hukumnya. Detail penampilan eks pejabat itu pun ikut dibedah, termasuk sepasang sepatu mewah yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Bukan tanpa alasan. Sepatu yang dikenakan eks Menag itu dinilai memiliki tampilan khas dan identitas visual yang kuat, sehingga dengan cepat menarik perhatian warganet. Sejumlah akun media sosial dan pengamat fashion kemudian mengaitkannya dengan lini premium ZEGNA Triple Stitch, salah satu seri sneaker mewah dari rumah mode Italia ZEGNA yang dikenal berada di kelas luxury fashion.
Penelusuran terhadap sejumlah listing produk menunjukkan bahwa model yang paling mendekati adalah ZEGNA Brown Triple Stitch Sneakers berbahan grained deerskin atau kulit rusa bertekstur. Deskripsi produk di pasar fashion internasional menyebut sepatu ini sebagai slip-on sneaker premium dengan ciri khas strap elastis silang di bagian atas, lapisan kulit, dan rubber sole bertekstur—sebuah kombinasi desain yang memadukan kesan santai dengan kemewahan yang sangat kentara.
Dari sisi harga, nilainya memang tidak bisa disebut biasa. Di pasar internasional, model serupa tercatat dijual pada kisaran US$1.150 hingga US$1.360, tergantung wilayah penjualan. Dengan kurs rupiah saat ini, angka tersebut setara kurang lebih Rp18 juta hingga Rp23 juta. Sementara itu, jejak harga di agregator fashion juga menunjukkan kisaran C$1.966 melalui retailer mewah SSENSE, yang bila dikonversi juga tetap berada di rentang belasan hingga puluhan juta rupiah. Artinya, klaim publik bahwa sepatu itu bernilai sangat mahal bukan sekadar asumsi liar, melainkan memiliki basis harga pasar yang cukup masuk akal.
Meski demikian, dari sudut pandang jurnalistik yang cermat, harga persis dari sepatu yang dikenakan eks Menag itu tetap tidak boleh dipastikan secara mutlak tanpa konfirmasi resmi, nota pembelian, atau identifikasi model yang benar-benar final. Karena itu, penyebutan harga paling aman adalah: diduga berada pada kisaran Rp16 juta hingga nyaris Rp20 juta, bahkan bisa lebih tinggi tergantung varian dan pasar penjualan.
Namun yang membuat isu ini membesar bukan semata nominalnya. Dalam persepsi publik, sepatu tersebut kini telah bergeser dari sekadar pelengkap penampilan menjadi simbol gaya hidup. Ia dibaca bukan hanya sebagai produk fesyen, melainkan sebagai representasi selera, citra sosial, dan bahkan sensitivitas seorang pejabat terhadap realitas masyarakat.
Konteksnya menjadi jauh lebih sensitif karena figur yang mengenakan sepatu itu kini sedang berada dalam pusaran perkara besar. KPK telah memanggil Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi kuota haji, dan kasus tersebut terus menjadi perhatian publik nasional. Dalam situasi seperti itu, setiap simbol kemewahan yang melekat pada seorang mantan pejabat akan lebih mudah dibaca sebagai bagian dari gaya hidup elite yang kontras dengan penderitaan dan ekspektasi rakyat.
Di titik inilah, sorotan terhadap sepatu mewah itu menjadi lebih dari sekadar gosip fesyen. Bagi banyak orang, ia menyentuh wilayah yang lebih dalam: etika pejabat publik. Ketika seorang tokoh yang pernah mengelola urusan umat dan ibadah publik tampil dengan simbol kemewahan bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah, publik dengan cepat menghubungkannya dengan pertanyaan tentang kesederhanaan, empati, dan rasa kepantasan.
Karena itu, polemik ini sesungguhnya bukan hanya soal sepatu. Ia adalah cermin dari cara masyarakat hari ini membaca kekuasaan. Dalam era digital, rakyat tidak lagi sekadar menilai pejabat dari pidato dan kebijakannya, tetapi juga dari simbol-simbol visual yang tampak di hadapan kamera: jam tangan, tas, mobil, rumah, hingga apa yang dikenakan di kaki.
Pada akhirnya, publik mungkin tidak hanya melihat siapa yang berjalan, tetapi juga apa yang dipakai di kakinya. Dan dalam suasana ketika kepercayaan publik sedang retak, sepasang sepatu pun bisa berubah menjadi metafora tentang kuasa, privilese, dan jarak antara elite dengan rakyat.
