Selat Hormuz Ditutup, Indonesia Terancam Krisis BBM? Padahal Negeri Ini Kaya Minyak, Lalu Mengapa Kita Masih Impor?

 


Ahad, 15 Maret 2026

Faktakini.info

Selat Hormuz Ditutup, Indonesia Terancam Krisis BBM? Padahal Negeri Ini Kaya Minyak, Lalu Mengapa Kita Masih Impor?

Wacana penutupan jalur energi dunia di Selat Hormuz memunculkan kegelisahan baru. Banyak orang bertanya dengan nada heran: jika jalur ini benar-benar terganggu, apakah Indonesia bisa mengalami kelangkaan BBM?

Pertanyaan yang lebih tajam segera muncul: bukankah Indonesia memiliki minyak sendiri? Mengapa masih khawatir kekurangan bahan bakar?

Secara geologi, Indonesia memang bukan negara miskin minyak. Ladang-ladang minyak tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa hingga Papua. Namun dalam realitas energi modern, memiliki sumber minyak tidak otomatis berarti cukup memenuhi kebutuhan sendiri.

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan produksi minyak Indonesia saat ini berada di kisaran 600 hingga 700 ribu barel per hari. Sementara konsumsi nasional mencapai sekitar 1,5 sampai 1,6 juta barel per hari.

Artinya setiap hari Indonesia mengalami kekurangan hampir 800 hingga 900 ribu barel minyak. Kekurangan inilah yang harus ditutup melalui impor dari pasar global.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia saat ini berstatus sebagai net importer, yaitu negara yang lebih banyak mengimpor minyak daripada mengekspor.

Ketergantungan ini membuat jalur distribusi energi global menjadi sangat vital. Salah satu jalur paling strategis adalah Selat Hormuz. Jalur laut sempit di antara Iran dan Oman ini menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur ini. Negara produsen raksasa seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak dan Uni Emirat Arab mengirim sebagian besar ekspor minyak mereka melalui selat tersebut sebelum menuju pasar Asia, termasuk Indonesia.

Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik geopolitik, dampaknya akan terasa langsung di seluruh dunia. Pasokan minyak global akan terganggu, harga melonjak, dan negara pengimpor seperti Indonesia berpotensi kesulitan mendapatkan pasokan.

Masalah Indonesia tidak berhenti pada produksi minyak yang terbatas. Kapasitas pengolahan di dalam negeri juga masih belum memadai. Kilang milik Pertamina seperti di Kilang Cilacap, Kilang Balikpapan dan Kilang Balongan memang mengolah minyak mentah menjadi BBM, tetapi kapasitas totalnya masih belum mampu menutupi seluruh kebutuhan nasional.

Akibatnya Indonesia tidak hanya mengimpor minyak mentah untuk diolah, tetapi juga mengimpor BBM yang sudah jadi seperti bensin dan solar.

Di kawasan timur Indonesia situasinya bahkan lebih terbatas. Salah satu kilang yang memasok wilayah timur adalah Kilang Minyak Kasim di Sorong dengan kapasitas sekitar 10 ribu barel per hari. Jumlah ini sangat kecil dibanding kebutuhan kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua yang mencapai ratusan ribu barel setiap hari.

Karena itu wilayah seperti Sulawesi masih sangat bergantung pada pasokan BBM dari kilang besar di Jawa dan Kalimantan yang kemudian didistribusikan melalui terminal energi seperti di Makassar.

Ironisnya, Indonesia pernah berada di posisi yang sangat berbeda. Pada masa lalu Indonesia termasuk negara eksportir minyak dunia dan bahkan menjadi anggota aktif OPEC. Namun sejak awal 2000-an produksi terus menurun karena banyak ladang minyak yang sudah tua, sementara konsumsi energi meningkat tajam akibat pertumbuhan kendaraan, industri, dan ekonomi.

Perubahan inilah yang membuat Indonesia beralih dari negara penjual minyak menjadi negara pembeli.

Karena itu jika jalur energi global seperti Selat Hormuz terganggu, dampaknya bisa terasa langsung pada pasokan dan harga BBM di dalam negeri. Bukan karena Indonesia tidak memiliki minyak, tetapi karena produksi nasional, kapasitas kilang, dan kebutuhan energi sudah tidak lagi seimbang.


Di dunia energi modern, kekayaan sumber daya saja tidak cukup. Yang menentukan adalah produksi stabil, teknologi pengolahan, serta jalur distribusi global yang aman. Ketika salah satu mata rantai itu terganggu, seluruh sistem bisa ikut bergetar.