Pesta 2.500 Tahun Persia (1971) — Kemegahan yang Memicu Kontroversi

 


Jum'at, 27 Maret 2026

Faktakini.info

Pesta 2.500 Tahun Persia (1971) — Kemegahan yang Memicu Kontroversi

Pada Oktober 1971, Mohammad Reza Pahlavi menggelar perayaan raksasa untuk menandai 2.500 tahun berdirinya Kekaisaran Persia. Lokasinya bukan sembarang tempat, melainkan di Persepolis — kota kuno peninggalan Kekaisaran Akhemeniyah yang identik dengan kejayaan raja Cyrus the Great. Tujuan utama acara ini adalah menunjukkan kepada dunia bahwa Iran memiliki akar peradaban yang sangat tua sekaligus posisi penting dalam sejarah global.

Untuk menciptakan kesan luar biasa, sebuah “kota tenda” super mewah dibangun di tengah area gurun dekat situs bersejarah. Tenda-tenda tersebut tidak sederhana—desainnya menyerupai hotel elit dengan pendingin udara, dekorasi elegan, karpet mahal, dan sistem komunikasi modern. Semua fasilitas disiapkan agar para pemimpin dunia merasa seperti berada di istana bergerak, bukan di padang pasir.

Bagian paling spektakuler adalah jamuan makan resmi yang ditangani oleh Maxim's de Paris, restoran legendaris Prancis. Menu disusun dengan standar kuliner tertinggi saat itu, disajikan dengan tata meja mewah dan peralatan makan eksklusif. Tamu penting diantar menggunakan limusin Mercedes-Benz, sementara teknologi siaran satelit memungkinkan dunia menyaksikan kemegahan acara tersebut hampir secara real time.

Sekitar 60 negara mengirim perwakilan, termasuk raja, presiden, dan pejabat tinggi. Indonesia hadir melalui Soeharto. Kehadiran tokoh-tokoh dunia menunjukkan bahwa perayaan ini juga merupakan ajang diplomasi besar, bukan sekadar pesta. Iran ingin tampil sebagai negara modern sekaligus pewaris tradisi kuno yang berpengaruh.

Biaya resmi acara diperkirakan sekitar US$17–22 juta (sekitar Rp282–365 miliar dengan kurs saat ini). Namun, rumor yang beredar di media internasional menyebut angka jauh lebih fantastis hingga ratusan juta dolar, sehingga memunculkan citra sebagai salah satu pesta paling mahal sepanjang sejarah.

Meski terlihat megah, banyak kritik bermunculan. Tokoh agama seperti Ruhollah Khomeini menilai pesta tersebut terlalu berlebihan di saat sebagian masyarakat masih hidup dalam kesulitan ekonomi. Bagi kelompok oposisi, perayaan ini menjadi simbol jarak antara pemerintah dan rakyat.

Peristiwa ini tidak langsung menjatuhkan monarki Iran, tetapi memperkuat persepsi bahwa rezim terlalu fokus pada citra kemewahan dibanding kebutuhan publik. Beberapa tahun kemudian, ketidakpuasan sosial yang terus berkembang ikut memicu perubahan besar dalam sejarah Iran.

Sumber: arsip sejarah Iran, laporan media internasional 1971, dokumentasi diplomatik perayaan Persepolis, kajian sejarah Revolusi Iran 1979.

#DPU_FYI