JASA AMERIKA UNTUK KEMERDEKAAN INDONESIA??

 


Rabu, 11 Maret 2026

Faktakini.info

JASA AMERIKA UNTUK KEMERDEKAAN INDONESIA??

Menyimak yang lagi viral tentang Abu Janda di acaranya Aiman, ada sisi yang ditekankan berkali-kali oleh si Janda sampe teriak-teriak. Sisi itu kemudian dishare ulang oleh para evangelis pro-Amerika-Israel.

Menurut Abu Janda, Amerika berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia, karena menekan Belanda untuk berunding di Konferensi Meja Bundar di Den Haag, 1949--lalu dari situ kedaulatan Indonesia diakui.

Nah, di sini pentingnya kita memahami gambar besar situasi. Begini.

Pertama, kalo narasi itu urusannya cuma demi menjilat Israel sampe termehek-mehek, jangan lupa fragmen sejarah yang disebut tadi berlangsung pada 1948-1949. Itu Amerika belum sepenuhnya jadi jongos Israel. AIPAC belum berdiri, masih berupa kecambah yang merintis kekuatan di tahun pertama selepas potong pita berdirinya Israel.

Proses penguatan lobi Israel di Gedung Putih baru dijalankan di 1950 hingga puncaknya di 1970. Ingat pula, Presiden Kennedy itu di 1960an masih berani menekan keras Israel untuk mencegah program nuklirnya.

Lalu Kennedy dibunuh (hmmm aku tau apa yang kalian pikirkan), lalu Lyndon Johnson naik, dan si Johnson ini yang kemudian ditundukkan oleh para lobyist.

Itu sebatas gambaran posisi Amerika pada 1949 kaitannya dengan Israel. 

Nah, soal Indonesia, ini dimulai dari Agresi Militer Belanda I di 1947. Serangan itu membawa Republik harus berunding dengan Belanda, dimediasi oleh Komisi 3 Negara (Australia, Belgia, Amerika).

Perundingan di atas kapal Renville milik Amerika yang bersandar di Tanjung Priok itu membuat Republik harus kehilangan banyak wilayahnya, harus mundur dari Garis Van Mook, pasukan Divisi Siliwangi melakukan long march meninggalkan Jawa Barat karena Jabar bukan lagi wilayah Republik, dst.

(Geger Renville itu yang kemudian bikin ambruk pemerintahan Amir Syarifuddin, Amir gabung ke kelompok kiri, Hatta naik dan melakukan perombakan tentara lewat program Rera, lalu terjadilah Peristiwa Madiun 1948 yang sering disimplifikasi sebagai pemberontakan PKI itu.)

Saya cuma mau bilang bahwa Perjanjian Renville itu menyisakan banyak persoalan bagi Republik. Dan, Amerika di atas kapal Renville justru ikut menekan Republik agar menyepakati isi perjanjian. Kenapa? Agar perang segera berhenti, stabilitas kawasan Asia Tenggara tercipta, fokus membendung pengaruh komunisme dapat dilakukan. (Jangan lupa, Perang Dingin sudah dimulai.)

***

Kemudian, dalam kondisi Republik sedang banyak masalah internal, Agresi Militer II dilakukan Belanda pada 1948. Ibu kota Jogja diserang, Sukarno-Hatta ditangkap, Jogja dikuasai Belanda, disusul Serangan Umum 1 Maret, dst.

Melihat agresi ini, banyak negara mengecam Belanda di PBB. Termasuk Amerika. Amerika pula yang bersama negara-negara lain disebut oleh Si Janda "menyeret Belanda untuk dipaksa berunding di KMB."

Nah, apakah lantas Amerika melakukannya karena cinta Indonesia, atas nama perikemanusiaan dan perikeadilan? Apakah KMB benar-benar berlangsung karena kebaikan hati Amerika? Tunggu dulu. Simak beberapa situasi ini:

Pertama, Belanda memang terlalu brutal dengan Agresi II. Agresi yang pertama isinya sebatas merebut wilayah sumber ekonomi, tapi Agresi kedua benar-benar seperti usaha menghancurkan Republik. Ini sesuatu yang gak kompatibel dengan zaman baru, ketika negara-negara di Asia dan Afrika memang sedang musim-musimnya lepas dari jerat kolonialisme pasca-PD II.

Kedua, Republik sendiri membuktikan diri bertahan kokoh. Meski Jogja direbut dan Karno-Hatta ditahan, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia terus berjalan di Sumbar di tangan Presiden Syafruddin Prawiranegara.

Dari sisi militer, Sudirman Sang Panglima terus bergerilya. Lalu, Serangan Umum 1 Maret yang membawa nama Sultan HB IX, Bambang Sugeng, dan Suharto, menggedor kesadaran internasional "bahwa Indonesia masih ada" (itu bunyi narasi standar di buku PSPB masa saya dulu, sambil promo heroisme Suharto hehe).

Ketiga, banyak negara di PBB teriak mengumpati Belanda. PBB pun sudah bikin United Nations Commissions for Indonesia untuk mediasi.

Nah, keempat, ya tekanan Amerika ke Belanda itu.

Memang Amerika cukup kuat untuk menekan Belanda. Dia sedang jadi jagoan selepas menang PD II pada 4 tahun sebelumnya--bareng Uni Soviet. Dia juga punya program suntikan dana Marshall Plan yang salah satunya didapatkan oleh Belanda. Ancaman nyetop Marshall Plan cukup bikin jiper Belanda.

Namun, kemenangan di PD II sekaligus menandai dimulainya Perang Dingin vs Soviet. Ada rivalitas besar sekali antara negeri Harry Truman vs negeri Stalin itu. Dan persis di sinilah kepentingan Amerika kenapa dia "menyeret" Belanda buat mau rembukan ke KMB di Den Haag.

Kepentingan itu adalah berebut pengaruh global, tak terkecuali di kawasan Asia Tenggara. Di AsTeng, belum lama berlalu kekuatan komunis show off di Madiun (meskipun segera dilibas oleh pemerintahan Hatta, dengan Gatot dan Nasution sebagai operatornya). Tapi tetap kekuatan komunis masih besar, basis sosial kelompok kiri masih kuat. Itu bikin Amerika ketar-ketir.

Sementara, kalau Belanda dituruti dengan membiarkan mereka melumpuhkan Republik, lebih bahaya lagi. Sentimen anti-Barat akan kian mengental, potensi radikalisasi kiri semakin nyata, dan perlawanan gerilya bisa-bisa dilancarkan dalam jangka panjang. Itu ancaman konkret bagi Amerika.

Maka, Amerika pun menekan Belanda untuk berunding di KMB, dan akhirnya 1949 kedaulatan Indonesia diakui.

***

Dengan segala fakta historis tersebut, sekali lagi, apakah keberhasilan kita di KMB itu semata karena kebaikan Amerika atas dasar kemanusiaan? Hehe. Tentu saja tidak. Jelas ada kepentingan pragmatis Amerika untuk menjadikan kita sebagai salah satu bemper strategis dalam mengganjal pengaruh komunis Soviet, China, dan yang terdekat adalah Paman Ho di Vietnam Utara (meski saat itu masih perang melawan Prancis).

Mau bilang Amerika berbuat atas dasar sikap antikolonialisme? Itu pun segera dibantah oleh fakta, karena hanya 4 tahun selepas KMB, Amerika dengan CIA-nya mengorkestrasi kudeta atas PM Iran yang menasionalisasi minyak mereka, yaitu Mohammad Mosaddeg. (Itu sepertinya jadi salah satu praktik awal neokolonialisme Amerika selepas PD II.)

Jadi, alih-alih Amerika mendukung kemerdekaan Indonesia dalam makna yang sesungguhnya, yang lebih tepat adalah: Amerika utang budi ke kita, karena Indonesia jadi menahan diri beberapa saat dari dominasi komunis--sehingga persaingan Perang Dingin jadi sedikit bisa mereka kendalikan (meski kemudian PKI menguat lagi pada 1950an, dan ikut jadi pemenang Pemilu 1955.)

Ringkasnya: Amerika itu gak segitunya berjasa buat kemerdekaan Indonesia. Yaa cuma kebetulan aja kepentingan "pribadi" Amerika sejalan dengan kepentingan Indonesia buat merdeka.

Gitu kan, ya? Dah ah, kepanjangan.

(Foto hanya pemanis. Bacanya dulu udah lama banget, semoga gak ada data yang meleset. Yang Kennedy cuma buat gaya-gayaan, belum dibaca. Yang paling atas numpang beken aja wkwk.)