Khayalan Menang Sekte Imad dan Realitas: Majelis Habaib Semakin Ramai dan Nasabnya Tetap Diakui Naqobah Asyraf se-Dunia
Kamis, 26 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Setiap hari narasi Sekte Imad bin Sarman PWI-LS (orang-orang gila nasab) sama: “Nasab Ba‘alawi runtuh.” “Naqobah dunia menolak.” “Habaib sudah tamat.” "Acara Habaib sekarang sepi." "Tesis Kyai Imad tak terbantahkan".
Narasi-narasi semacam ini sengaja diulang tanpa lelah, disebar tanpa henti, dideklarasikan seolah sudah menjadi keputusan global. Padahal ini semua cuma deretan narasi kebohongan hampa untuk menghibur diri sendiri, dan berharap akan ada orang yang percaya pada kibulan dan hasutan mereka.
Aksi Imad beserta buzzer dan team cyber nya di medsos ini mengingatkan kita pada strategi ahli propaganda anti-Semit rezim Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Joseph Goebbels, tangan kanan Adolf Hitler, yang mengatakan, “Kebohongan yang diulang terus-menerus akan dianggap sebagai kebenaran.”
Sekarang kita kritisi klaim Sekte Imad. Masalahnya sederhana: mana dokumen resminya?
Di mana keputusan kolektif lembaga-lembaga nasab internasional yang membenarkan klaim mereka?
Naqobah Mesir, Iraq, Hijaz dan lainnya apakah berubah sikap terhadap nasab Ba'alawi? Tidak sama sekali.
Di mana bisa ditemukan pernyataan ahli nasab dunia yang mencabut pengakuan terhadap nasab Ba'alawi? Satu pun juga tidak ada.
Di mana pernyataan resmi organisasi yang selama ini menjaga silsilah dzurriyah Rasulullah SAW di Indonesia yaitu Rabithah Alawiyah yang menyatakan “kami salah selama ini”?
Tidak ada.
Yang ada hanya klaim sepihak Sekte Imad yang diputar ulang para buzzernya di medsos supaya terdengar seolah-olah kebenaran. Padahal, pengulangan bukanlah verifikasi. Echo chamber bukanlah konsensus ilmiah.
Propaganda Bukan Fakta
Mengatakan “sudah tidak laku” tidak membuat majelis Habaib menjadi kosong.
Mengklaim “sudah ditolak dunia” tidak menciptakan keputusan resmi.
Menyebut “sudah runtuh” tidak otomatis merobohkan legitimasi yang berdiri ratusan tahun.
Menuding "sudah sepi" pun sia-sia karena kini era live streaming, terlihat jelas acara Habaib tetap ramai
Jika sebuah tesis benar-benar mengguncang dunia, seharusnya ia dibahas dalam forum ilmiah internasional, diuji oleh para pakar lintas negara, dan menghasilkan keputusan tertulis yang bisa diverifikasi. Bukan sekadar viral di timeline sendiri.
Syekh Ibrahim bin Manshur Naqib Hijaz di Mekkah menyebut Imad jahil murokkab. Sayyid Mahdi Ar Roja'i menyebut Imad tak mengerti kaidah ilmu nasab.
Semua ucapan pakar nasab seragam, nasab Ba'alawi sudah ijma' tersambung ke Nabi Muhammad SAW, dan Imad beserta pengikutnya orang bodoh kuadrat (jahil murokkab). Titik.
Buzzer Imad di medsos bisa saja mengglorifikasi Imad setinggi langit supaya terkesan pintar dan pakar nasab, tapi ketika dihadapkan dengan Ahli Nasab dan Naqobah Asyraf resmi dunia, faktanya Imad cuma sampah yang menjijikkan. Sama seperti Lia Eden yang dianggap Malaikat Jibril oleh pengikutnya, tapi dianggap sesat sedunia.
Realitas Tak Bisa Dihapus dengan Narasi
Majelis Habaib tetap berjalan.
Kegiatan tetap ramai.
Lembaga tetap berdiri.
Pengakuan resmi tetap ada.
Sementara itu, klaim kemenangan yang terus diteriakkan Sekte Imad — mungkin bukan untuk meyakinkan dunia, tapi untuk meyakinkan diri sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling keras meneriakkan “kami sudah menang” sering kali adalah pihak yang belum pernah mendapatkan pengakuan resmi atas klaimnya.
Penutup
Sejarah tidak runtuh oleh slogan.
Legitimasi tidak hilang oleh framing.
Dan kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling sering mengulang klaim.
Jika benar sudah “meruntuhkan,” tunjukkan keputusan resminya.
Jika tidak ada, maka yang sedang dipertontonkan bukan revolusi ilmiah — melainkan euforia kemenangan fiktif yang hanya hidup di ruang sendiri.
Foto: Para Habaib dan Ulama berserta puluhan ribu umat Islam menghadiri Haul ke-549 Sunan Ampel tahun 2026 pada Jumat hingga Minggu, 6-8 Februari 2026, bertepatan dengan 18-20 Sya'ban 1447 H. Di Kawasan Masjid Ampel, Surabaya


