Ketololan dan Manipulasi Narasi Marzuqi Mustamar soal Ceramah Mbah Maimoen dan Maulid Simtudduror
Senin, 23 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Belakangan ini beredar potongan video almarhum Maimun Zubair (Mbah Yai Maimun) yang kemudian digunakan dalam sebuah kanal oleh Marzuqi Mustamar untuk membangun opini tertentu terkait pembacaan maulid. Sangat disayangkan apabila potongan video tersebut dijadikan framing seolah-olah terdapat pertentangan tajam antara pembaca Maulid Simtudduror dengan amaliah maulid lainnya.
Banyak alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang memahami betul maksud dawuh Mbah Yai. Beliau tidak pernah melarang pembacaan Maulid Simtudduror. Yang beliau tekankan adalah agar santri tidak meninggalkan tradisi maulid yang sudah menjadi ketetapan dan rutinitas pesantren, seperti Maulid Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Burdah, dan lainnya. Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, pembacaan maulid memang rutin dilaksanakan setiap malam Jumat dengan kitab yang bergantian.
Menggiring opini bahwa pembaca Maulid Simtudduror tidak bertawassul kepada ulama Nusantara adalah tuduhan yang tidak berdasar. Faktanya, banyak habaib dan masyayikh yang tetap menghadiahkan Al-Fatihah kepada para pendiri pesantren dan para ulama Nahdlatul Ulama. Tidak ada pertentangan di sana.
Lebih jauh, framing yang seolah-olah memonopoli Maulid Al-Barzanji dan Ad-Diba’i sebagai “milik ulama Nusantara” juga perlu diluruskan. Secara historis:
Maulid Al-Barzanji disusun oleh Ja'far bin Hasan al-Barzanji, seorang ulama kelahiran Madinah.
Maulid Ad-Diba’i disusun oleh Abdurrahman ad-Diba'i, ulama kelahiran Yaman.
Keduanya bukan ulama Nusantara, melainkan ulama Timur Tengah yang karya-karyanya menyebar luas ke dunia Islam, termasuk Indonesia. Justru ini menunjukkan bahwa tradisi maulid adalah warisan lintas bangsa dan lintas wilayah, bukan milik satu kelompok tertentu.
Islam mengajarkan persaudaraan sesama Muslim tanpa melihat asal negara atau etnis. Muslim Yaman, Madinah, Indonesia, maupun wilayah lain tetap bersaudara dalam iman. Tidak sepatutnya narasi digiring seolah-olah ada sekat, apalagi permusuhan, hanya karena perbedaan pilihan kitab maulid.
Perbedaan amaliah bukan alasan untuk membangun prasangka. Yang diperlukan adalah kejernihan, kejujuran dalam menyampaikan konteks, dan sikap adil dalam memahami dawuh para ulama. Jangan sampai potongan video dijadikan alat untuk membelah umat.
Wallahu a’lam.
