Gagal Diakui, Lalu Menyerang: Fenomena Lembaga Nasab Tandingan dan Serangan terhadap Habaib
Senin, 23 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Belakangan ini publik kembali diguncang oleh beredarnya poster lama yang dikemas seolah-olah sebagai peristiwa baru. Narasi tersebut menampilkan ilustrasi dramatis seorang “habib” ditangkap polisi, seakan-akan hendak membangun persepsi bahwa praktik jual-beli nasab adalah wajah umum kalangan habaib.
Padahal faktanya berbeda.
Kasus yang dimaksud adalah perkara lama, di mana seorang pemuda membuat situs palsu jasa pencatatan nasab. Yang mengungkap, melaporkan, dan mendorong proses hukumnya justru organisasi Rabithah Alawiyah. Artinya, lembaga resmi pencatatan nasab Ba‘alawi itulah yang berdiri di garda depan memberantas pemalsuan.
Namun yang lebih menarik untuk dicermati bukan sekadar kasus hukumnya. Melainkan fenomena sosial di baliknya.
Banyak yang Ingin Menjadi Habib
Status “Habib” dalam tradisi Ba‘alawi bukan sekadar gelar sosial. Ia terkait silsilah, tanggung jawab moral, dan pengakuan genealogis yang ketat. Tidak semua orang bisa serta-merta mengklaimnya.
Faktanya, ada banyak pihak yang ingin mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari nasab Alawiyyin. Sebagian mengajukan klaim, berharap tercatat dan diakui. Namun ketika klaim tersebut tidak memenuhi standar verifikasi yang berlaku, kekecewaan pun muncul.
Di titik inilah persoalan sering berubah arah.
Alih-alih menerima hasil verifikasi, sebagian pihak justru memilih membangun lembaga nasab tandingan versi mereka sendiri. Mereka mendirikan struktur, menerbitkan dokumen, dan memproduksi narasi alternatif—seolah-olah otoritas resmi tidak sah atau bahkan sedang menyembunyikan sesuatu.
Dari sini, serangan demi serangan terhadap nasab habaib mulai digulirkan.
Dari Kekecewaan ke Framing
Polanya hampir seragam:
Mengklaim diri atau kelompoknya memiliki garis nasab tertentu.
Tidak mendapat pengakuan resmi.
Membuat lembaga tandingan.
Melancarkan framing bahwa lembaga resmi tidak kredibel.
Menggiring opini bahwa seluruh sistem nasab habaib bermasalah.
Poster-poster sensasional dengan ilustrasi provokatif menjadi alat propaganda. Visualisasi “habib ditangkap” digunakan untuk membangun persepsi kolektif, padahal kasusnya justru menunjukkan bahwa pemalsu ditindak karena laporan lembaga resmi.
Ini bukan lagi soal satu perkara hukum. Ini adalah pertarungan narasi.
Ironi yang Terbalik
Ironisnya, ketika Rabithah Alawiyah mengungkap pemalsuan, hal itu justru dipelintir untuk menyerang eksistensi nasab Ba‘alawi secara keseluruhan.
Padahal logikanya sederhana:
Jika ada pemalsuan dan lembaga resmi menindaknya, itu menunjukkan sistem pengawasan berjalan. Bukan sebaliknya.
Menyerang nasab habaib karena adanya pemalsu sama saja seperti menyalahkan institusi pendidikan karena ada ijazah palsu—padahal justru institusi itulah yang membongkar pemalsuan tersebut.
Serangan yang Terus Diulang
Fenomena ini menunjukkan satu hal: bagi sebagian pihak, kegagalan mendapatkan pengakuan tidak diakhiri dengan introspeksi, melainkan dengan perlawanan naratif.
Lembaga tandingan dibangun.
Opini digiring.
Framing disebar.
Dan setiap kasus lama diangkat kembali untuk memukul reputasi habaib secara kolektif.
Padahal yang diuji bukan sekadar dokumen nasab, tetapi integritas moral dalam menerima hasil verifikasi.
Penutup
Masyarakat perlu jernih membaca situasi. Jangan sampai ilustrasi dramatis dan narasi yang dipelintir memicu konflik horizontal.
Jika benar ingin memberantas pemalsuan nasab, maka dukung proses verifikasi yang ketat dan transparan. Bukan malah membangun struktur tandingan karena kecewa.
Karena pada akhirnya, yang paling keras menyerang sistem sering kali adalah mereka yang pernah mencoba masuk ke dalamnya—namun tidak berhasil.



