Setelah Rusak Makam Ulama, Antek Imad Ngemis Donasi di Medsos, Publik Geram

 



Rabu, 7 Januari 2025

Faktakini.info, Jakarta - Kebiadaban tak berhenti di perusakan makam ulama. Setelah mencederai kehormatan para wali dan habaib di Winongan, Pasuruan, oknum-oknum yang diduga bagian dari gerombolan PWI LS kini justru tampil tanpa rasa malu: meminta-minta sumbangan di media sosial.

Alih-alih bertobat, meminta maaf, atau menunjukkan penyesalan atas dosa besar merusak makam ulama, mereka justru memainkan narasi iba. Anak dan istri dijadikan tameng. Air mata virtual diperas demi rupiah, sementara luka umat Islam masih menganga.

Ironisnya, di saat para pengikut kebingungan dan keluarga pelaku dipertontonkan sebagai objek belas kasihan, Abbas Tompel, Ketua Umum PWI LS, justru dikabarkan asyik melancong ke Hongkong bersama Dadang Zul. Jalan-jalan ke luar negeri, sementara barisan sendiri ditinggal tanpa arah. Beginikah wajah “pemimpin perjuangan”?

“Di dunia saja pengikutnya ditinggal, apalagi di akhirat,” demikian kecaman keras yang membanjiri kolom komentar warganet.

Publik pun bereaksi keras. Banyak yang menyerukan agar donasi tidak jatuh ke tangan pelaku perusakan makam, melainkan dialihkan untuk korban bencana di Aceh dan Sumatera yang benar-benar membutuhkan uluran tangan, bukan manipulasi simpati.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menilai fenomena ini sebagai puncak kebusukan moral:

merusak makam ulama, memprovokasi kebencian terhadap habaib, lalu mengemis dana seolah-olah sebagai korban.

“Ini bukan sekadar penyimpangan pemikiran, tapi kehancuran akhlak,” tegas seorang tokoh agama.

Kasus Winongan menjadi bukti nyata bagaimana kebencian terhadap nasab Nabi dan ulama bisa melahirkan tindakan biadab, tanpa adab, tanpa rasa bersalah. Jika hukum dunia belum membuat mereka gentar, umat percaya hisab akhirat tak akan bisa dihindari.

Semoga Allah menyelamatkan Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kesesatan, fitnah, dan tipu daya kelompok yang menjadikan agama sebagai alat provokasi, kebencian, dan kepentingan pribadi.