Sekte Imad: "Tak Mungkin Cucu Nabi bernama Ubaidillah", ini Bantahannya
Sabtu, 3 Januari 2025
Faktakini.info, Jakarta - Polemik seputar klaim nasab yang diangkat oleh kelompok Sekte Imad Begal Nasab (PWI-LS) kembali menuai kritik luas. Kali ini, pernyataan mereka terkait penggunaan nama Ubaidillah dinilai sebagai kekonyolan, bentuk framing keliru yang menyesatkan dan tidak berdasar ilmu.
Dalam narasi yang disebarkan, kelompok tersebut menyatakan bahwa nama Ubaidillah tidak mungkin digunakan oleh keturunan Rasulullah SAW dengan alasan nama itu pernah dipakai oleh pembunuh Sayyidina Husain bin Ali RA. Atas dasar itu, mereka menyimpulkan bahwa setiap penggunaan nama Ubaidillah oleh kalangan habaib adalah mustahil dan otomatis batal secara nasab.
Pernyataan tersebut langsung menuai bantahan keras dari berbagai kalangan pemerhati sejarah Islam dan nasab Ahlul Bait. Mereka menilai logika tersebut sebagai cacat nalar dan ahistoris.
“Jika logika itu dipakai, maka nama Abdurrahman juga harus dilarang,” ujar seorang pemerhati sejarah Islam. “Padahal, nama Abdurrahman adalah nama pembunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Apakah kemudian keturunan Sayyidina Ali tidak boleh memakai nama Abdurrahman? Faktanya, justru sangat banyak dzurriyah Rasulullah SAW yang menggunakan nama tersebut.”
Para ahli menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, nama tidak diwarisi dari satu individu tertentu, melainkan memiliki makna umum yang mulia. Nama Ubaidillah berarti “hamba kecil Allah”, sementara Abdurrahman berarti “hamba Tuhan Yang Maha Pengasih”. Keduanya adalah nama yang sah, baik secara bahasa maupun syariat, dan telah digunakan secara luas oleh umat Islam, termasuk oleh para saadah dan dzurriyah Nabi Muhammad SAW dari berbagai jalur nasab.
“Logika melarang nama karena pernah dipakai oleh seorang pelaku kejahatan adalah logika berbahaya,” lanjutnya. “Kalau ada penjahat bernama Muhammad, Ali, Hasan, atau Husain, apakah nama-nama itu juga harus dilarang? Lama-lama stok nama-nama Islami bakal habis donk? Maka itu tentu tidak.”
Sejumlah sejarawan juga mengingatkan bahwa dalam kitab-kitab nasab klasik, nama Ubaidillah dan Abdurrahman tercatat berulang kali dalam silsilah Ahlul Bait yang diakui oleh para naqib dan lembaga nasab resmi dunia Islam.
Polemik ini dinilai sebagai bagian dari upaya sistematis untuk menyudutkan habaib melalui manipulasi isu nama, alih-alih debat ilmiah berbasis sanad, manuskrip, dan pengakuan lembaga nasab internasional.
Masyarakat pun diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi simplistik yang mengabaikan kaidah sejarah, ilmu nasab, dan logika dasar. Para ulama mengingatkan bahwa perbedaan pandangan hendaknya diselesaikan dengan ilmu, bukan dengan framing dan pengaburan fakta.
