Habib Yaman, Semakin Diserang, Semakin Terang: Mengenal sosok Habib Husein Alkadrie ( Tuan Besar Mempawah )

 


Senin, 26 Januari 2026

Faktakini.info

"Habib Yaman, Semakin Diserang, Semakin Terang: Mengenal sosok Habib Husein Alkadrie ( Tuan Besar Mempawah )"

Semakin banyak saya menulis tentang sejarah para Habaib—tentang peran mereka di istana, di Kraton, di Medan Dakwah, dan di tengah rakyat—satu hal justru makin terang:

yang paling gelisah bukanlah sejarah, melainkan satu kelompok besar yang ingin memadam cahaya kemuliaan para hanaib Dimata masyarakat.

Saya sadar, setiap tulisan saya tentang Habaib hampir pasti mengundang hujatan yang dimuntahakan oleh mereka. Bukan kritik ilmiah, tapi tuduhan berulang yang diputar-putar:

tes DNA, kisah karamah yang ditertawakan, Faqih Muqaddam yang disebut Isra’ Mi‘raj 70 kali dalam sehari, Habaib dituduh “produk Belanda”, sampai kesalahan personal segelintir oknum yang dibesarkan seolah itulah wajah seluruh dzurriyah Rasulullah ﷺ dari Jalur Alawiyin Yaman.

Polanya selalu sama:

bukan membantah peran sejarah—melainkan mengaburkannya.

Dan di sinilah saya makin tertarik menulis. Sebab semakin diserang, semakin jelas bahwa yang dipersoalkan bukan data semata, melainkan ketersambungan nasab Habaib kepada Rasulullah ﷺ—sesuatu yang bagi sebagian orang terasa mengancam kewibawaan atau pamit mereka ditengah tengah Masyarakat.

– Jika Habaib Tak Penting, Mengapa Sejarah Kerajaan Nusantara Dipenuhi Nama Mereka?

Mari kita bicara konkret. Mari bicara sejarah.

Salah satu nama yang mustahil dipisahkan dari sejarah Islam dan kekuasaan di Kalimantan Barat adalah Habib Husein al-Qadri, yang dikenal luas sebagai Tuan Besar Mempawah.

Habib Husein lahir di Tarim ar-Ridha, Hadramaut, pada tahun 1120 H / 1708 M—sebuah kota yang sejak ratusan tahun dikenal sebagai pusat ilmu, tasawuf, dan dakwah Ahlul Bait. Ia tumbuh dalam pendidikan Islam yang ketat, namun tidak berhenti di situ. Ia menguasai ilmu agama dan ilmu umum, belajar pelayaran, perdagangan, bahkan mengarungi jalur internasional dari Teluk Persia hingga Kalkuta dan pantai Afrika.

Pertanyaannya sederhana:

apakah orang seperti ini datang ke Nusantara hanya untuk “mencari pengaruh”, atau justru membawa peradaban yang mulia?

– Empat Sahabat, Satu Arah: Dakwah ke Timur

Habib Husein tidak datang sendirian. Ia tergabung dalam rombongan ulama besar yang dikenal sebagai “empat sahabat”:

• Sayyid Abu Bakar al-‘Aidrus (Tuan Besar Aceh),

• Sayyid Umar as-Saqqaf (Tuan Besar Siak),

Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi (Datuk Marang, Terengganu),

• dan Habib Husein al-Qadri sendiri.

Mereka bukan mubalig musiman. Bukan pula da'i Instan, Mereka menetap, mengajar, mendatang murid, dan membentuk struktur keagamaan di wilayah-wilayah strategis Nusantara.

Habib Husein sendiri singgah dan menetap di Aceh, Siak, Betawi, Semarang—hingga akhirnya tiba di Negeri Matan, Kalimantan Barat. Di sanalah ia bertemu Habib Hasyim bin Yahya (Tuan Janggut Merah / Tunggang Parangan)—nama yang juga sering menjadi sasaran ejekan kaum pembatal nasab dari Sekte Imadiyah.

Ironis, bukan?

–Ketika Wali Berhadapan dengan Istana

Di Matan, terjadi peristiwa yang hingga kini hidup dalam tradisi lokal: insiden tempat sirih istana dengan ukiran ular. Habib Hasyim mematahkannya—Sultan murka. Namun Habib Husein dengan kecerdikan dan karamahnya, atas izin Allah, mengembalikan benda itu seperti semula.

Bagi kaum modernis radikal dan tentunya oleh penganut Paham Imadiyah atau lebih akrab dengan sebutan "Mukimad", kisah seperti ini disebut pasti disebut dongeng.

Padahal bagi masyarakat kerajaan kala itu, inilah bahasa legitimasi spiritual—bahasa yang dipahami raja dan rakyat.

Dan hasilnya nyata:

Habib Husein diangkat sebagai guru istana, dinikahkan dengan bangsawan lokal Utin Candramidi (Nyai Tua), dan dari rahim pernikahan inilah lahir Syarif Abdurrahman al-Qadri, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak.

Sekarang saya balik bertanya:

apakah kesultanan itu juga “khurafat”?

– Mufti, Guru, dan Pusat Peradaban

Ketika Habib Husein pindah ke Mempawah pada 1160 H, Kampung Galah Hirang berubah menjadi pusat ilmu. Ia menjadi mufti pertama Mempawah, mengajarkan bahasa Arab, fiqih Syafi‘i, tasawuf, Ratib al-Haddad, dan Tarekat Qadiriyah.

Bahkan putra Sultan Mempawah sendiri, Gusti Jamiril, diasuh olehnya dan kelak naik tahta sebagai Sultan.

Ini bukan relasi pinggiran.

Ini adalah relasi inti antara Habaib dan negara.

– Mengapa Semua Ini Ingin Dihapus?

Di titik ini, serangan terhadap Habaib menjadi sangat jelas arahnya.

Bukan karena kurang data—tetapi karena sejarah ini meruntuhkan satu narasi penting: bahwa Islam Nusantara berdiri tanpa peran Ahlul Bait dari Jalur Habaib Yaman.

Tes DNA, olok-olok karamah, tuduhan “dibawa Belanda”—semuanya hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuannya satu:

memutus mata rantai sambungan ruhani antara umat dan Rasulullah ﷺ dengan cara membuat umat tidak lagi menaruh hormat pada Habaib.

Dan anehnya, kesalahan kecil segelintir Habaib dijadikan senjata massal, sementara jasa besar mereka dalam membangun kerajaan, hukum Islam, dan dakwah justru dihapus sama sekali dari ingatan publik.

– Penutup: Cahaya Tidak Bisa Dipadamkan dengan Ejekan

Saya menulis ini dengan kesadaran penuh: akan dibully, dicemooh, dijongoskan, diyahudikan ditertawakan. Tapi sejarah tidak pernah gentar pada ejekan. Sejarah hanya tunduk pada kejujuran.

Habib Husein al-Qadri wafat pada 1184 H / 1771 M, namun jejaknya hidup dalam kesultanan, ulama, dan umat yang ia didik. Dan selama nama-nama itu masih dibaca, usaha merak para membegal nasab untuk memadamkan cahaya Habaib akan selalu gagal.

Sebab yang sedang diserang bukan sekadar nasab—

melainkan ingatan umat tentang siapa yang pertama kali menyalakan pelita Islam dan perjuangan di negeri ini.

_________________

Oleh: Tamzilul Furqon S.Pd.