Dengki kepada Takdir Allah: Ketika Sekte Imad bin Sarman PWI-LS Memusuhi Qadha dan Qadar
Faktakini.info, Jakarta - Kedengkian sekte Imad bin Sarman PWI-LS telah melampaui batas polemik. Ia bukan lagi soal perbedaan pandangan, melainkan pemberontakan batin terhadap ketetapan Allah SWT. Dengki mereka bukan sekadar kebencian kepada habaib, tetapi kemarahan tersembunyi kepada Allah karena tidak mampu ikhlas menerima satu kenyataan pahit: Imad cs tidak ditakdirkan sebagai cucu Rasulullah ﷺ.
Allah SWT berfirman:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Ayat ini menelanjangi mentalitas imad cs. Mereka seolah ingin mengatur sendiri siapa yang pantas dimuliakan, siapa yang boleh memiliki nasab Rasulullah ﷺ. Padahal nasab, kemuliaan, dan kehormatan adalah hak prerogatif Allah, bukan hasil voting, bukan klaim aktivis, dan bukan hasil riset pesanan.
Ketika Allah memuliakan Ba'alawi dzurriyah Nabi Muhammad ﷺ, Imad cs tidak mampu ridha. Dan di situlah penyakit mereka bermula.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Inilah yang terjadi pada Imad cs. Dengki mereka telah membakar sisa akhlak dan akal sehat. Mereka menolak konsensus ulama nasab sedunia, menentang lembaga naqobah asyraf lintas negara, dan menganggap diri lebih benar dari tradisi keilmuan ratusan tahun. Ini bukan keberanian ilmiah—ini kesombongan yang lahir dari iri.
Lebih jauh lagi, sikap mereka menunjukkan penolakan terhadap rukun iman yang paling dasar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(HR. Muslim)
Namun imad cs justru memperlihatkan kebalikannya. Mereka tidak beriman secara utuh kepada qadar, karena hanya menerima takdir yang menguntungkan ego mereka. Ketika takdir itu berupa kemuliaan orang lain—terutama nasab habaib—mereka memberontak, menyerang, dan memfitnah.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini seperti tamparan langsung bagi sekte iImad bin Sarman PWI-LS. Tetapi alih-alih bertaubat, mereka justru menggandakan serangan. Mereka menjual kebencian kepada masyarakat awam, menyebar fitnah dengan kemasan “ilmiah”, dan menjadikan jamaah polos sebagai korban propaganda.
Padahal inti masalahnya sangat telanjang dan memalukan:
mereka tidak sanggup berdamai dengan takdir Allah. Mereka bukan keturunan Walisongo dan Nabi Muhammad SAW dan tak mampu ikhlas menerima kenyataan itu.
Allah SWT berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Namun imad cs memilih membenci, bukan tunduk. Mereka memilih dengki, bukan ridha. Dan karena tidak berani memprotes Allah secara terang-terangan, mereka melampiaskannya kepada para Habaib pewaris nasab Rasulullah ﷺ.
Inilah hakikatnya:
setiap serangan mereka kepada habaib adalah bentuk kemarahan terpendam kepada Allah SWT.
Sejarah dan agama selalu konsisten: orang yang memusuhi takdir akan hancur oleh kedengkiannya sendiri. Sementara kemuliaan nasab Rasulullah ﷺ akan tetap berdiri—tenang, diakui, dan dijaga langsung oleh Allah—tanpa peduli seberapa keras jeritan orang-orang yang gagal ikhlas menerima kenyataan hidupnya.
