Dari Lia Eden ke Imad: Mengklaim Paling Benar, Menolak Ulama Sedunia, Pola Kesesatan yang Sama
Sabtu, 3 Januari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Sejarah mencatat, Lia Eden adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa terjerumus jauh dalam kesesatan karena menganggap akal dan keyakinan pribadinya lebih tinggi dari ulama, umat, dan kebenaran kolektif. Ia menolak Islam, menolak ulama sedunia, menolak umat, dan mengklaim hanya ajaran “Salamullah”-nya yang benar. Tragisnya, Lia Eden baru berhenti pada hari kematiannya, 9 April 2021, tanpa pernah rujuk atau mengakui kesalahannya.
Kini, publik dihadapkan pada pola kesesatan yang nyaris identik, namun dalam wajah berbeda: Imaduddin bin Sarmana bin Arsa.
Jika Lia Eden menolak Islam dan ulama, maka Imad bin Sarman menolak sejarah, sanad, ijma’ ulama, serta Naqobah Asyraf resmi sedunia. Dengan keyakinan sepihak, ia mengklaim bahwa cucu Nabi Muhammad SAW adalah kelompok versinya sendiri (PWI-LS), sementara nasab Ba‘alawi—yang telah diakui ratusan tahun oleh ulama lintas mazhab dan negara—dituduh palsu.
Logika yang digunakan pun serupa:
“Walaupun seluruh ulama sedunia mengakui, saya tetap haqqul yakin pada pendapat saya.”
Ini bukan lagi perbedaan pendapat. Ini adalah pembangkangan terbuka terhadap otoritas keilmuan Islam.
Dalam tradisi Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh teriakan paling keras atau keyakinan paling nekat, tetapi oleh ilmu, sanad, dan konsensus (ijma’). Ketika seseorang menolak semua itu dan berdiri sendirian sambil menunjuk orang lain sesat, maka ia sedang menempatkan dirinya di atas ulama, di atas sejarah, bahkan di atas umat.
Lebih berbahaya lagi, klaim sepihak tentang nasab bukan sekadar isu akademik. Ia menyentuh kehormatan Rasulullah SAW dan keluarganya, yang dalam Islam termasuk perkara besar dan sensitif. Menuduh nasab yang diakui ulama sebagai palsu tanpa bukti ilmiah yang sah bukan kritik, melainkan fitnah intelektual.
Umat Islam patut bertanya dengan jujur:
Jika Lia Eden dikenal sesat karena menolak ulama dan menganggap hanya dirinya yang benar, lalu apa bedanya dengan siapa pun yang hari ini menolak ijma’ ulama dan Naqobah Asyraf sedunia demi membenarkan versinya sendiri?
Sejarah selalu berulang. Dan sering kali, orang-orang yang keras kepala dalam kesesatan baru berhenti ketika ajal datang.
Pertanyaannya kini menggantung di hadapan publik:
Apakah Imad bin Sarman akan memilih jalan bertobat sebelum terlambat, atau akan dikenang sebagai pengulangan tragedi Lia Eden dalam bentuk yang berbeda?
