Rumail Abbas Kutip Pernyataan Pakar Genetika Dunia soal DNA, dan Buktikan Ketololan Sugeng PWI-LS

 



Ahad, 14 Desembet 2025

Faktakini.info

Rumail Abbas

Awalnya saya mendapati Sugeng ngoceh soal hal yang sudah selesai bahkan bagi orang Yahudi dan orang Amerika sendiri.

Selengkapnya: https://www.facebook.com/share/v/1D2ziPwBWa/

Saya mengulas dua orang di video tersebut, yaitu Nadia Abou El Haj dan Kim TallBear. Untuk nama terakhir, dia merupakan profesor di bidang akademik yang bahkan disebut "Studi Pribumi Asli Amerika", yang dalam bahasa Inggris dinamai "Native American Studies (NAS)".

Kenapa hal ini perlu dijelaskan?

Karena, seolah-olah cuma Sugeng yang tahu apa itu yDNA dan mtDNA dengan modal penelitian orang lain (seperti Pak Michael Hammer dan Pak Klyosov). Padahal, perbincangan itu ternyata sudah "dianggap selesai" oleh pakar. Dua dekade silam!

Di bawah ini adalah paper pertama TallBear, diterbitkan tahun 2003. Artikel ini ditulis sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan sains biologi untuk mendefinisikan identitas pribumi.

Hah? Tes DNA untuk mendefinisikan pribumi?

Benar, Anda tidak salah dengar. Dulu, sekitar tahun 2001, sempat ada wacana untuk membuktikan "Anda adalah orang Amerika" dengan tes DNA. Hal yang sama juga diulas Nadia bahwa dulu sempat ada wacana "Anda adalah orang Yahudi" dengan tes DNA.

Kasus "pribumi Amerika" ini cukup menjadi perhatian saya karena ternyata berkaitan langsung dengan hak yurisdiksi politik dan budaya sebagai "suku yang diakui" secara federal (Amerika kan negara serikat). Jadi, ada dampak yang jelas. Beda di Indonesia, isu "siapa keturunan Imam Ali" hanya jadi bahan ocehan di medsos oleh orang-orang tua boomers saja.

TallBear memulai dengan penjelasan terkait kromosom-Y yang terdapat dalam gen manusia. Basis pembuktiannya terletak pada pola pewarisan biologis spesifik: "hanya laki-laki yang mewarisi kromosom-Y, dari ayah mereka".

Dilanjutkan penjelasan tes DNA mitokondria yang merupakan analisis terhadap penanda genetik (markers) yang terdapat dalam DNA Mitokondria manusia. Ia menjelaskan secara spesifik pola pewarisan mtDNA: "baik perempuan maupun laki-laki mewarisi DNA mitokondria dari ibu mereka saja". (hlm. 84)

Singkatnya: DNA Mitokondria diwariskan oleh perempuan dan laki-laki hanya dari ibu mereka, sementara kromosom-Y hanya diwariskan oleh laki-laki dari ayah mereka.

Permasalahannya, ketika mencari "siapakah pribumi asli orang Amerika", ternyata terdapat lima haplotipe mitokondrial DNA utama yang diidentifikasi sebagai "penanda Native American", yaitu A, B, C, D, dan X. Selain mtDNA, penelitian juga mengidentifikasi dua haplogroup yDNA utama: Haplogroup Q-M3 dan Haplogroup C-P39 (C2b1a1a). Itupun dari sampel masyarakat modern, bukan dari ancient DNA (leluhur kuno) langsung.

(NB: detail haplogroup dan haplotipe di atas tidak disebutkan Kim di dalam paper ini, tapi saya validasi lewat paper lain)

Kritik Kim: apa yang sering disebut sebagai "penanda Native American" ini hanyalah penanda yang muncul dengan frekuensi lebih tinggi pada populasi tersebut. Karena apa yang disebut "penanda asli pribumi" juga muncul di komunitas non-Amerika.

Hal ini linier dengan penelitian orang Yahudi, di mana J-P58 (J1c3) muncul dengan frekuensi tinggi sebesar 46.1%. Karena selain itu ada J-M410 (J2a), J-M12 (J2), R1a1, dan seterusnya yang juga punya persentase besar jika diakumulasi.

Masih ingat ucapan rasis bahwa Bani Alawi cucu Yuya atau Yahudi Ashkenazi? Itu karena ada Bani Alawi yang berada di G-Y32612. Tapi ngerti, gak, kalau haplogrop G (secara umum) adalah haplogroup minor yang dibawa oleh 7.2% orang Yahudi Ashkenazi sendiri. Detailnya: 51% dalam Ashkenazi dari Levi itu R1a, sementara sekitar 46% Ashkenazi dari Cohen itu J-P58 (J1c3).

Aneh, bukan? Boomers memang suka aneh.

Kembali ke TallBear, dia tidak sampai bilang bahwa tes DNA itu tidak saintifik. Masalahnya, hal seperti ini melebih-lebihkan bukti. Ini cuma jumlah mayoritas haplogroup, tapi apa buktinya bahwa pribumi asli Amerika berada di sana? Apa evidence based-nya? Mana tulang dan fragmentasi biologis dari leluhur asli tersebut?

Dulu saya pernah mengulas bahwa diskrepansi semacam ini tidak ekslusif bagi Bani Alawi, tapi para Sadah yang sudah tes DNA juga memiliki keragaman haplogroup (ada di J1, J2, R, E, dan G). Jadi, baik orang Yahudi, penduduk Indian, dan orang Arab yang mengaku Sadah atau bukan, punya problem yang sama: diskrepansi.

Masalahnya, ketika saya mengatakan data ini, tiba-tiba Sugeng yang berseloroh:

"Rumail Abbas  itu menganggap keturunan paternal Imam Ali bisa lebih dari satu haplogroup. Padahal definisi Haplogroup adalah populasi yang memiliki kesamaan genetik karena berasal dari SATU kakek."

Logika macam apa ini?

Padahal, semua pakar yang saya jadikan rujukan, termasuk Kim, sudah sangat tahu bahwa yDNA itu stabil, bertahan hingga ribuan tahun, dan diwariskan dari ayah, kakek, buyut, dan seterusnya lelaki ke atas (lineage).

Masalahnya, apakah sampel yang diuji sudah representatif? Apakah sampel pembandingnya juga sudah pasti valid? Dan yang terpenting, apakah ada fragmen biologis dari Imam Ali, sebagai pihak yang menurunkan pada Sadah?

Sejak TallBear merilis papernya, hingga tahun 2025 saya mewawancarani Bu Herawati Sudoyo, Pak Klyosov, Pak Ahmad Utomo, dan Mas Zen Hafy, semuanya punya kesimpulan identik: tanpa ada sampel langsung, maka hasilnya tetap asumsi. Tidak ada yang definitif. Bahkan untuk mengambil sedikit sampel dari Imam Ali saja, sudah menjadi problem tersendiri secara teologis, di samping letak presisi makam beliau pun tidak ada yang menyepakati.

Ini artinya, selama dua dekade, tidak ada perubahan signifikan dan semua pakar sepakat harus memakai sampel pembanding langsung dari leluhur kuno yang disepakati semuanya sebagai leluhur patrilineal.

Tanpa itu, maka tidak ada yang definitif alias pasti alias absolut alias evidence based. Jadi apa yang dilakukan Sugeng itu cuma asumsi dari orang yang bukan pakar. Asumsi yang dilebih-lebihkan (dia sampai membatalkan nasab orang-orang dengan ini) seperti ini adalah bentuk melebih-lebihkan tingkat kepercayaan.

Kalau pakar saja tidak berasumsi seperti ini, lantas kapasitasnya apa?

Terakhir, Pak Rob Stadler, dalam The Scientific Approach to Evolution: What They Didn't Teach You in Biology (2016) ketika ia menjelaskan keterbatasan sains dalam menjawab pertanyaan tentang peristiwa yang terjadi di masa lampau, yang ia ilustrasikan dengan analogi "seberapa cepat bola bowling jatuh lima ribu tahun yang lalu" (lihat gambar kedua):

"In this case, nobody was there to witness the experiment or to provide an accurate result to us in the present time. Thus, to address this question, most people would conduct the measurement today and assume that nothing has changed in the last five thousand years. This is a very indirect measurement."

(Dalam kasus ini, tak seorang pun berada di sana untuk menyaksikan eksperimen tersebut atau menyajikan hasil yang akurat kepada kita di masa kini. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan ini, kebanyakan orang akan melakukan pengukuran pada hari ini dan berasumsi bahwa tidak ada yang berubah selama lima ribu tahun terakhir. Ini merupakan pengukuran yang sangat tidak langsung)

Dalam perspektif Stadler, upaya menentukan garis keturunan leluhur kuno hanya dengan mengandalkan data genetik populasi modern merupakan bentuk "pengukuran tidak langsung" yang ekstrem. Karena tidak ada sampel biologis yang "diukur secara langsung dan akurat" dari tokoh masa lalu tersebut, peneliti terpaksa mengisi celah data dengan asumsi yang tidak dapat diuji validitasnya.

Stadler memperingatkan bahwa metode retrospektif semacam ini memiliki "peluang bias yang jelas" dan hanya menghasilkan bukti berkeyakinan rendah, sehingga klaim kepastian mutlak mengenai identitas genetik tokoh sejarah tanpa sampel pembanding adalah tindakan yang melampaui batasan sains.

Ilmiah dari mana si Sugeng itu?

Salam,
Rumail Abbas