"Drama Besar Desember PBNU: Gus Yahya Tumbang, Tambang Memecah Ulama, dan Rais Aam Ambil Komando”
Ahad, 7 Desember 2025
Faktakini.info
*"Drama Besar Desember PBNU: Gus Yahya Tumbang, Tambang Memecah Ulama, dan Rais Aam Ambil Komando”*
Desember 2025 berubah menjadi panggung drama terbesar dalam sejarah terbaru PBNU. Dalam hitungan hari, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini diguncang peristiwa-peristiwa yang membuat mata publik tak bisa berpaling.
Awal bulan ini, sebuah surat edaran beredar dan langsung meledakkan suasana. Isinya: Syuriyah PBNU menyatakan Yahya Cholil Staquf bukan lagi Ketua Umum PBNU per 26 November 2025. Yang membuat heboh, dokumen itu tak memuat stempel digital resmi sehingga dianggap “misterius”. PBNU buru-buru menjelaskan bahwa absennya stempel hanyalah problem teknis sistem digital. Namun publik sudah terbelah sebelum penjelasan itu tiba.
Kisruh makin panas ketika isu konsesi tambang menyeruak ke permukaan. Desember ini, mantan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj tampil dengan pernyataan keras: lebih baik konsesi tambang dikembalikan ke pemerintah agar PBNU tidak ditarik ke pusaran konflik bisnis dan politik. Suaranya segera disambut intelektual muda NU yang menilai tambang telah menjadi “bara” yang membakar ketenangan jam’iyah.
Di sisi lain, organisasi otonom seperti GP Ansor mengeluarkan sikap resmi di awal Desember, menyerukan pendinginan suasana. Mereka khawatir tubuh PBNU retak jika percakapan tak lagi memakai akal sehat dan adab musyawarah. Namun seruan itu tak cukup meredam komentar ulama akar rumput yang menyebut kegaduhan ini sebagai “aib besar PBNU”.
Sementara itu, kendali organisasi kini praktis berada di tangan Rais Aam KH Miftachul Akhyar, yang ditengarai memainkan peran penentu dalam menata ulang struktur setelah pencopotan Gus Yahya. Publik Nahdliyin menatap satu tanggal penting: 9 Desember 2025, saat PBNU menggelar rapat pleno untuk menetapkan Penjabat Ketua Umum dan menentukan arah penyelesaian konflik.
Semua mata kini tertuju pada Desember — bulan ketika PBNU berada di persimpangan sejarah. Apakah jam’iyah kembali ke khitahnya sebagai penjaga moral umat, atau terseret makin jauh ke pusaran tambang, politik, dan kekuasaan? Badai ini belum menunjukkan tanda mereda, dan Desember seolah menjadi panggung penentu arah masa depan PBNU.
