Muhammad bin Abdul Wahhab, pelopor gerakan Wahhabi.
Selasa, 25 November 2025
Faktakini.info
Muhammad bin Abdul Wahhab, pelopor gerakan Wahhabi.
Sekitar tiga abad silam, kaum Muslimin di Jazirah Arab pada khususnya, dan di seluruh belahan dunia Islam pada umumnya, digemparkan oleh kemunculan seorang teolog bernama Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Pandangan-pandangan barunya berhasil mengusik tatanan ideologi keagamaan kaum Muslimin yang telah mapan saat itu. Dalam dakwahnya, ia mengangkat jargon “pemurnian akidah” dari berbagai praktik yang ia pandang menyimpang dari aturan agama. Kaum Muslimin pada masanya ia nilai tidak jauh berbeda dari kaum musyrikin pada era Nabi saw. Dengan pandangan ekstrem semacam itu, ia tidak segan menggerakkan para pengikutnya untuk mengangkat senjata dan memerangi sesama Muslim yang tidak seideologi dengannya.
Sikap ekstrem tersebut menuai kecaman dari para ulama pada masanya. Fakta adanya banyak peperangan yang terjadi antara Ibnu Abdul Wahab (IAW) dan kaum Muslimin semakin menegaskan betapa sengitnya benturan ideologi ketika itu, sehingga perang argumen tidak lagi cukup dan akhirnya berubah menjadi kontak fisik.
Gerakan dakwah yang dipelopori IAW dikenal luas dengan sebutan “Wahhabi”¹. Sejak kemunculannya, gerakan ini selalu menjadi momok bagi sebagian besar kaum Muslimin. Pandangan keagamaannya yang kaku dan sulit berkompromi dengan perbedaan menjadikannya “common enemy” bagi berbagai mazhab dalam Islam. Namun demikian, gerakan ini tetap eksis hingga kini karena disokong oleh penguasa Kerajaan Saudi.
Membicarakan sosok IAW selalu menimbulkan pro dan kontra. Hal itu wajar, karena setiap tokoh akan dibela mati-matian oleh para pengikut fanatiknya. Di sisi lain, kelompok oposisi akan menghadirkan kritik yang tidak kalah keras terhadap seluruh pemikirannya. Dalam tulisan singkat ini, penulis berfokus pada kajian kritis terhadap pemikiran IAW yang termaktub dalam berbagai buku dan risalahnya. Pembahasan mengenai sejarah hanya disinggung seperlunya saja. Sebab sejarah yang semestinya kelam dapat dengan mudah diputihkan oleh sejarawan Wahhabi, dan sebaliknya sejarah perjuangan purifikasi akidah yang mungkin patut diapresiasi dapat hilang di tangan sejarawan penentangnya.
Karena topik ini sangat luas dan kompleks, penulis memilih untuk tidak bertele-tele dan lebih mengedepankan penyajian referensi, dengan harapan para pembaca dapat meneliti lebih dalam dari yang penulis paparkan.
Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Barid bin Musyarraf at-Tamimi lahir pada 1115 H/1703 M di Uyainah, bagian dari wilayah Najd yang berjarak sekitar 70 km di utara Riyadh. Sejak kecil ia menimba ilmu agama kepada para ulama di Makkah dan Madinah, serta beberapa daerah lain seperti Ihsa dan Basrah².
Menurut sejarawan Wahhabi, Ibnu Ghannam, mayoritas kaum Muslimin pada awal abad ke-12 H hidup dalam kesyirikan dan kembali pada praktik jahiliyah. Hal itu, menurutnya, terjadi akibat kebodohan masyarakat dan maraknya para pendakwah kesesatan. Ia bahkan menilai bahwa kaum Muslimin telah berpaling dari tauhid, menyembah kaum salihin baik yang masih hidup maupun telah wafat, serta menyembah kuburan-kuburan mereka. Kesimpangsiuran teologis itu, menurut Ibnu Ghannam, telah terjadi sejak berabad-abad sebelumnya³.
Pandangan tersebut jelas berlebihan karena bertentangan dengan fakta historis. Kondisi kaum Muslimin saat itu tidak jauh berbeda dengan umat Islam pada masa kini. Ziarah kubur dan tabarruk terhadap para salihin adalah praktik yang telah dilakukan sejak zaman Nabi hingga sekarang. Ritual semacam ini tidak sesuai dengan ideologi Wahhabi sehingga dianggap sebagai penyembahan kuburan. Padahal bagi orang yang memahami agama, ziarah dan tabarruk sangat jauh dari makna penyembahan. Pemahaman keliru inilah yang menjadi dasar bagi IAW dan para pengikutnya untuk memvonis praktik tersebut sebagai kesyirikan.
Menurut catatan Ibnu Ghannam, IAW adalah sosok yang sangat luar biasa. Ia diklaim telah menghafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun, bahkan ayahnya dikatakan banyak belajar agama kepadanya⁴. Namun informasi ini bertentangan dengan kesaksian Syekh Muhammad bin Abdullah an-Najdi al-Hambali, mufti Mazhab Hambali di Makkah (w. 1295 H), dalam kitab As-Suhub al-Wabilah ‘ala Dara’ih al-Hanabilah. Beliau menuturkan bahwa IAW baru berani berdakwah secara terang-terangan setelah ayahnya wafat. Ayahnya bahkan sangat marah karena IAW tidak mau mempelajari ilmu fikih sebagaimana para pendahulunya⁵.
Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mazhab Syafi’i di Makkah pada akhir era Utsmaniyah, memaparkan bahwa sejak menuntut ilmu di Madinah, ayah, saudara, dan guru-guru IAW memiliki firasat buruk terhadapnya setelah melihat kecenderungan pemikiran serta perilakunya dalam banyak persoalan agama (al-Futuhat al-Islamiyyah, 2/66)⁶.
IAW adalah sosok yang cenderung independen dan tidak mau berpegang pada pemahaman guru-gurunya. Bila ada tokoh yang dianggap memengaruhi cara berpikirnya, kemungkinan besar itu adalah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Namun, Sulaiman bin Abdul Wahab —saudaranya sendiri— menolak klaim bahwa pemikiran IAW selaras dengan keduanya. Dalam kitab bantahannya yang berjudul Ash-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi Raddi ‘ala Wahhabiyyah, ia justru menggunakan argumen Ibnu Taimiyah untuk membantah saudaranya, terutama dalam masalah takfir.
Independensi berpikir IAW dapat dilihat dari beberapa pernyataannya. Di antaranya ia berkata:
“Alhamdulillah, aku tidak mengajak kepada mazhab sufi, ahli fikih, ahli kalam, atau seorang imam yang aku agungkan seperti Ibnu Qayyim, Dzahabi, Ibnu Katsir, dan lainnya. Akan tetapi aku mengajak kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya dan kepada Sunnah Rasulullah saw.”⁷
Dalam kesempatan lain, ia juga menuturkan:
“Aku menuntut ilmu dan orang-orang menyangka bahwa aku telah memilikinya. Padahal aku tidak mengetahui makna ‘la ilaha illallah’ dan tidak mengetahui agama Islam sebelum datangnya anugerah Allah kepadaku. Demikian pula guru-guruku; tidak seorang pun dari mereka mengetahui hal itu. Barang siapa mengira dirinya atau gurunya mengetahui makna tersebut sebelum saat ini, maka sungguh ia telah berdusta dan mengaku-ngaku.” (ad-Durar as-Saniyyah, 10/51)⁸
Beberapa ulama menyebutkan bahwa IAW gemar membaca kisah-kisah para pendusta yang mengaku nabi seperti Musailamah al-Kadzdzab, al-Aswad al-‘Ansi, dan Tulaihah al-Asadi. Karena itu sebagian orang menduga bahwa ia memiliki kecenderungan mengikuti jejak mereka⁹. Akibat banyaknya kontroversi, IAW mendapat penolakan dari para ulama Makkah dan Madinah hingga akhirnya diusir pada 1142 H. Sejak itu ia kembali ke Najd untuk merancang strategi dakwah barunya¹⁰.
Salah satu bantahan paling terkenal terhadap ajaran IAW ditulis oleh saudaranya sendiri, Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam risalah As-Shawa’iq al-Ilahiyyah. Tidak hanya saudaranya; gurunya, Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi, juga memberikan nasihat keras. Ia berkata:
“Wahai Ibnu Abdul Wahab, keselamatan adalah bagi mereka yang mengikuti jalan yang benar. Aku menasihatimu agar menghentikan lisammu dari mencela kaum Muslimin. Jika engkau melihat ada orang yang meyakini adanya kekuatan selain Allah, maka kafirkanlah dia saja, dan jangan mengafirkan mayoritas kaum Muslimin. Engkau adalah orang yang menyimpang dari mayoritas. Maka mengafirkanmu lebih pantas, karena engkau telah keluar dari jalan kaum Muslimin.”¹¹
Karena pola pikirnya dianggap ekstrem, IAW mengalami kesulitan menyebarkan dakwahnya. Setelah diusir dari Najd, ia pindah ke Irak, namun ditolak pula. Ia kemudian pergi ke Mesir dan Syam, namun tetap tidak diterima. Ia akhirnya kembali ke Uyainah, tetapi pemimpin Uyainah, Utsman bin Mu’ammar, mengawasinya dengan sangat ketat. IAW pun berpindah ke Dar’iyyah. Di sinilah ia bertemu dengan Muhammad bin Sa’ud. Pertemuan keduanya sangat strategis: Ibnu Sa’ud membutuhkan legitimasi agama, sementara IAW membutuhkan kekuatan politik untuk menyebarkan ideologinya¹².
Daftar Referensi
1. ‘Abdullah bin ‘Abd al-Latif, ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah.
2. Ibnu Ghannam, Rawdat al-Afham wa Manhaj al-Islam.
3. Ibid.
4. Ibid.
5. Muhammad bin Abdullah an-Najdi al-Hambali, As-Suhub al-Wabilah ‘ala Dara’ih al-Hanabilah.
6. Ahmad Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyyah.
7. ad-Durar as-Saniyyah, jilid 1–10.
8. Ibid., 10/51.
9. Zaini Dahlan, Fitnat al-Wahhabiyyah.
10. Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyyah, 2/65–67.
11. Sulaiman al-Kurdi, dalam riwayat ulama Madinah (kutipan dalam karya Zaini Dahlan).
12. Utsman bin Bishr, ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd.
