Dua Aidid (dengan d) Menghalau PKI
Dua Aidid (dengan d) Menghalau PKI
Dalam sejarah disebutkan setidaknya ada dua Aidid yang melakukan serangan frontal kepada PKI
1. Hasan Aidid.
Seorang tokoh Masyumi. Beliau bersama dengan putra KH Mas Masyhur dan KH Isa Anshari menginisiasi organisasi FAK (Front Anti Komunis). Beliau juga pernah melakukan serangan frontal kepada DN Aidit (dengan t) saat mengadakan kongres PKI di kota Malang.
Sobron Aidit (Adik DN AIdit) menceritakan dalam Memoarnya:
"Lalu pernah terjadi "pemboman - pelemparan granat" di Malang ketika DN Aidit sedang berkampanye di Malang. Kebetulan yang jadi biangkeladinya bernama Hasan Aidid, katanya DN Aidit dibom dan dilempari granat dari adiknya sendiri. Ini tidak benar, adik dari DN Aidit adalah bukannya Hasan tetapi Asahan."
Tentang Pemboman itu ada beberapa versi, lihat gambar..
2. Abdullah Aidid, beliau adalah anggota DPR di awal tahun 1950 an, yang unik Ayah DN Aidit (dengan t) juga bernama Abdullah, yakni Abdullah Aidit (dengan t) dan juga menjadi anggota DPR di tahun yang sama.
Sobron Aidit (adik DN Aidit) menceritakan dalam memoarnya:
"Dulu nama jalannya, Citadelweg, dekatnya ada hotel yang namanya Hotel Centraal. Lalu berubah menjadi Jalan Nusantara sekian, dan nama hotelnya juga berubah menjadi Hotel Sriwijaya.
Ini terjadi pada tahun 1949 menjelangTahun 50-an awal.
Ke hotel itulah saya sering datang buat melihat ayah yang menginap sementara belum dapat rumah. Ayah menjadi anggota DPR( Sementara ) mewakili suara ( Rakyat ) Belitung bersama tiga temannya lagi, semuanya guru, guru Saat, guru Abubakar
dan guru Djohar. Mereka mewakili daerah dan sekaligus ayah mewakili golongan Angkatan 45.
Ayah salah seorang yang turut memimpin gerakan pemuda
di Belitung angkat senjata melawan kekuasaan kolonial Belanda. Dan akhirnya melarikan diri ke daerah Yogyakarta, daerah RI, sedangkan kami berada di daerah Federal, di Belitung.
Yang lucunya dan anehnya, Ayah satu kamar berdua dengan orang yang namanya sama dengan ayah, hanya beda tulisan satu huruf saja! Dan dua-duanya sama-sama anggota DPR. Yang satu namanya Abdullah Aidit, ayah saya, sedangkan seorang lagi namanya Abdullah Aidid, dari partai Masyumi, saudagar batik dan seorang philatelis dari Solo, turunan Arab. Ayah saya pakai huruf t ujungnya, sedangkan yang lainnya lagi pakai huruf d ujungnya. Saya sangat senang kalau mendengarkan Pak Aidid memanggil teman sekamarnya itu, suaranya sangat dalam dan dialeknya
diucapkan sangat kental bahasa Arabnya.
"Abdullah-------Abdullah" katanya memanggil ayah buat sama-sama makan, dengan suaranya yang sangat kental huruf l nya dan dialeknya ke Arab-araban. Dan waktu itulah aku turut diajak makan. Yah, tentu saja aku sangat senang, biasanya makan apalah di rumah, kini makan di hotel, makanan enak, maklumlah makanan anggota DPR."
Abdullah Aidid adalah seorang yang mempunyai inisiatif untuk membuat Himpunan Seni Budaya Islam atau disingkat HSBI sebagai perlawanan atas LEKRA (organisasi seni berafiliasi kepada PKI)
Sidi Gazalba mengatakan :
“Dengan bersenjatakan fatwa ulamak-ulamak itu terbukalah bagi HSBI kegiatan-kegiatan, baik menyaingi LEKRA, membentengi pemuda-pemuda Islam supaya jangan sampai menjadi mangsa LEKRA, menyediakan kesempatan bagi kaum muda untuk memuaskan rasa-seninya. Ketika itu ada empat parti Islam. Masing-masing parti tidak ragu lagi menubuhkan lembaga keseniannya sendiri. (Choirotun Chisaan: 2012)
Baca di :
https://jejakislam.net/hsbi-dan-ikhtiar-kebudayaan/
