Mengapa Syekh Al Albani belum pantas disebut Muhaddits?
Selasa, 6 Oktober 2026
Faktakini.info
Abdul Wafi
Mengapa Syekh Al Albani belum pantas disebut Muhaddits?
___________________________
Saya jawab:
Beliau sangat sering berubah pendapat: awalnya dinilai dhaif, kemudian menjadi shahih, atau sebaliknya. Hal yang awalnya dianggap tidak ada, kemudian diralat menjadi ada. Kasus seperti ini sering sekali terjadi.
Oleh sebab itu, saya sangat tidak setuju jika beliau disebut Muhaddits. Kesalahannya terlalu mendasar dan terlalu sering terulang.
Misalnya, beliau pernah mengatakan Yahya bin Malik tidak tercatat dalam kitab-kitab Rijal Kutubus Sittah. Setelah kami cek, ternyata semuanya ada, tercatat di bab kunyah. Saat itu beliau memang tidak paham cara mencarinya, akhirnya beliau meralatnya. Mungkin baru tahu setelah belajar lagi.
Begitu juga dalam bab Ibnu Juraij. Beliau langsung mendhaifkan hadis jika di sanadnya ada Ibnu Juraij karena dianggap mudallis. Padahal sudah masyhur di kalangan ulama, jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Atha' maka tetap aman, muttasil, dan tidak bermasalah. Setelah bertahun-tahun, akhirnya beliau meralatnya juga. Mungkin dulu belajarnya belum sampai bab itu.
Masih banyak contoh lain dari kesalahan-kesalahan yang sangat mendasar. Wajar saja, karena beliau belajar tanpa guru.
__________________
Dalam hati kecil saya, saya curiga: selama ini beliau menulis kitab tanpa ada yang mentashih dan tanpa pernah diuji oleh ulama sezamannya. Lantas bagaimana nasib orang yang terlanjur mengikuti pendapatnya yang keliru di awal, lalu keburu wafat?
Kalau dibilang ini hasil ijtihad, masak kesalahan mendasar seperti ini bisa disebut ijtihad level ulama?
Sama seperti rukun wudhu ada dua (Ust. Khalid) dan tayammum hanya di telapak tangan (Ust. Firanda). Apakah kesalahan mendasar begini bisa disebut ijtihad level ulama? 🫣🤭
