Surat Terbuka Gus Fahrur Ketua PBNU: Klarifikasi dan Penolakan Fitnah

 


Kamis, 16 Juli 2026

Faktakini.info

Surat Terbuka: Klarifikasi dan Penolakan Fitnah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan memohon pertolongan Allah SWT, saya menyampaikan surat terbuka ini sebagai bentuk klarifikasi atas berbagai tuduhan dan pemberitaan yang terus beredar di media sosial mengenai diri saya.

Pertama, saya menegaskan bahwa seluruh tuduhan yang disampaikan oleh mantan istri saya terhadap diri saya di medsosnya adalah tuduhan yang tidak benar, tidak didukung oleh fakta, dan lebih banyak dilandasi prasangka serta kebencian. Saya memilih untuk menyerahkan seluruh persoalan ini kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, karena hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan kelak akan memberikan keputusan yang paling adil.

Kedua, sebagai ayah, saya tetap menjalankan seluruh kewajiban saya terhadap anak-anak. Setiap bulan saya secara rutin mengirimkan nafkah melalui rekening ananda Nur Muhammad Alburhan sebesar Rp4.000.000. Selain itu, saya juga menyisihkan Rp4.000.000 setiap bulan yang saya tabungkan di rekening Bank Mandiri atas nama putri saya, Aminah Fahrunnisa, sebagai tabungan pendidikan dan masa depan mereka agar kelak dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Di samping itu, saya juga tetap membayar seluruh biaya pendidikan anak-anak saya, termasuk kebutuhan sekolah yang menjadi tanggung jawab saya sebagai ayah. Saya berusaha semaksimal mungkin memenuhi kewajiban tersebut demi memastikan pendidikan dan masa depan mereka tetap terjamin.

Ketiga, pengelolaan sebagian nafkah dalam bentuk tabungan untuk kepentingan masa depan anak merupakan bagian dari tanggung jawab saya sebagai ayah. Langkah tersebut saya lakukan semata-mata demi kepentingan terbaik bagi anak-anak, dan menurut pemahaman saya tidak bertentangan dengan putusan pengadilan mengenai kewajiban nafkah.

Keempat, justru saya merasa menjadi pihak yang mengalami ketidakadilan. Sudah lebih dari satu tahun saya tidak diperkenankan bertemu dengan anak-anak saya. Saya pernah berusaha menemui mereka di sekolah dengan niat melepas rindu sebagai seorang ayah, namun tidak diizinkan oleh ibunya. Kondisi ini tentu sangat menyakitkan bagi saya dan menjadi beban batin yang tidak ringan. Tidak ada seorang ayah yang tidak merindukan anak-anaknya, dan saya berharap suatu saat mereka dapat kembali memeluk ayahnya tanpa ada penghalang.

Melalui surat ini saya tidak bermaksud memperpanjang perselisihan ataupun membuka aib siapa pun. Saya hanya ingin menyampaikan klarifikasi agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan berimbang, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong, fitnah, maupun narasi yang tidak didukung oleh fakta.

Saya mengajak semua pihak untuk menghentikan penyebaran berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian, serta menyerahkan setiap persoalan kepada mekanisme hukum yang berlaku. Saya juga menyerahkan seluruh urusan ini kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Adil, karena kepada-Nya kelak semua kebenaran akan terungkap.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, keadilan, serta melembutkan hati kita semua demi kebaikan anak-anak yang tidak seharusnya menjadi korban dari konflik orang tua.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi