" Menyalakan Cahaya Al-Qur'an dari Pelosok Sukamakmur Membangun Generasi Qur'ani Melalui Dakwah Berbasis Pendidikan" [Catatan Dr. H. M. Kabul Budiono, M.Pd].
Senin, 20 Juli 2026
Faktakini.info
" Menyalakan Cahaya Al-Qur'an dari Pelosok Sukamakmur
Membangun Generasi Qur'ani Melalui Dakwah Berbasis Pendidikan"
Catatan Dr. H. M. Kabul Budiono, M.Pd.
Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dan Ketua MUI Kelurahan Harjamukti, Kota Depok
---------------
Tidak banyak orang yang memilih membangun pesantren di daerah yang jauh dari pusat keramaian. Namun pilihan itulah yang diambil oleh Ustadz H. Slamet Ma'arif, S.Ag., M.M., pendiri Majelis Sayyidul Aulia.
Ahad, 19 Juli 2026, saya berkesempatan menghadiri Pengajian Bulanan Majelis Sayyidul Aulia yang dirangkaikan dengan Peresmian Masjid Pondok Pesantren Sayyidul Aulia serta Haflah Akhirussanah Santri Program Tahfiz Al-Qur'an Angkatan IV Tahun 1448 Hijriah di Kampung Babakan Gunung Cikur, Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
Perjalanan menuju lokasi memberikan kesan tersendiri. Dari jalur alternatif Cibubur–Jonggol, kendaraan memasuki jalan desa yang membelah hamparan sawah sebelum akhirnya tiba di kawasan perbukitan yang tenang. Lokasi ini memang tidak berada di jalur utama, tetapi justru suasana itulah yang menjadi salah satu alasan dipilih sebagai tempat membangun pesantren yang ditempuh dengan mobil hampir 1 jam 40 menit.
Menurut Ustadz Slamet Ma'arif, masyarakat di kawasan tersebut masih memerlukan sentuhan dakwah yang lebih intensif. Kehadiran masjid dan pesantren diharapkan menjadi pusat pembelajaran agama, pembinaan akhlak, sekaligus ruang berkumpul masyarakat.
Pertimbangan lainnya adalah suasana yang relatif tenang sehingga mendukung proses menghafal Al-Qur'an. Aktivitas tahfiz memerlukan lingkungan yang kondusif agar para santri dapat belajar dengan lebih fokus dan disiplin.
Lebih dari itu, kawasan pedesaan juga dinilai sesuai untuk membangun karakter kemandirian.
" Ke depan, pesantren ini dirancang mengembangkan kegiatan perkebunan dan peternakan sebagai bagian dari pendidikan kehidupan, sehingga para santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga keterampilan dan etos kerja ", kata Slamet Ma'arif.
Perjuangan menunjukkan hasil.
Pada Haflah Akhirussanah Angkatan IV Tahun 1448 Hijriah, sebanyak 42 santri tercatat mengikuti program pembelajaran sejak awal. Dari jumlah tersebut, 35 santri berhasil diwisuda, sementara satu santri mengundurkan diri selama proses pembelajaran, empat santri melanjutkan pendidikan ke pesantren lain, dan satu santri pindah karena jadwal sekolah yang berbenturan dengan kegiatan mengaji.
Capaian hafalan para santri menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebanyak sembilan santri menyelesaikan pembelajaran Qiraati, delapan santri berhasil menyelesaikan hafalan Juz 30, tiga belas santri menyelesaikan hafalan dua juz, tiga santri mencapai hafalan tiga juz, satu santri menyelesaikan empat juz, dan seorang santri telah menuntaskan lima juz Al-Qur'an.
Data tersebut menunjukkan bahwa pembinaan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing santri. Dalam pendidikan tahfiz, proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan konsistensi belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari target hafalan.
Prosesi penyerahan sertifikat berlangsung sederhana di dalam Masjid yang baru diresmikan,namun penuh makna. Di balik selembar piagam tersimpan perjalanan panjang para santri dalam belajar membaca Al-Qur'an, menghafal ayat demi ayat, serta menjaga hafalan mereka melalui murojaah yang dilakukan setiap hari.
Masjid Baru Berdiri, Perjuangan Masih Berlanjut
Peresmian Masjid Pondok Pesantren Sayyidul Aulia merupakan tonggak penting, tetapi bukan akhir dari perjalanan pembangunan.
Saat ini baru masjid yang telah berdiri dan digunakan sebagai pusat ibadah serta kegiatan pendidikan. Sementara itu, pembangunan kawasan pesantren secara keseluruhan masih memerlukan waktu, tenaga, dan dukungan dari banyak pihak. Asrama santri, ruang belajar, sarana pendidikan, hingga fasilitas pemberdayaan berbasis perkebunan dan peternakan masih menjadi bagian dari rencana pengembangan.
Karena itu, pembangunan pesantren ini sesungguhnya masih berada pada tahap awal.
Membangun Kolaborasi untuk Dakwah
Salah satu hal yang menarik dari pengembangan Majelis Sayyidul Aulia adalah upaya membangun kolaborasi.
Dalam perjalanan dakwahnya, Ustadz Slamet Ma'arif memiliki hubungan yang baik dengan berbagai kalangan, mulai dari ulama, tokoh masyarakat, akademisi, pengusaha, hingga pejabat publik. Jejaring tersebut dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan Majelis Sayyidul Aulia.
Hubungan baik dengan tokoh nasional seperti Sufmi Dasco Ahmad, misalnya, diposisikan sebagai wasilah untuk mengajak lebih banyak pihak memberikan perhatian terhadap pembangunan pesantren dan pendidikan Al-Qur'an. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan lembaga pendidikan tidak mungkin hanya mengandalkan satu orang, tetapi memerlukan sinergi masyarakat, para dermawan, tokoh bangsa, dan semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi.
Dakwah yang Meninggalkan Jejak
Rasulullah SAW bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
(HR. al-Bukhari).
Hadis tersebut menjadi inspirasi bagi banyak lembaga pendidikan Islam, termasuk Majelis Sayyidul Aulia. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui ceramah di atas mimbar, tetapi juga melalui pembangunan lembaga pendidikan yang membentuk karakter dan menyiapkan generasi penerus.
Di tengah tantangan zaman, ketika anak-anak semakin akrab dengan dunia digital, kehadiran pesantren yang menanamkan kecintaan kepada Al-Qur'an menjadi semakin relevan. Dari tempat yang sederhana di pelosok Sukamakmur, sebuah ikhtiar sedang berlangsung untuk menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mandiri.
Masjid yang diresmikan pada hari itu menjadi fondasi awal. Di sekelilingnya diharapkan tumbuh ruang-ruang pendidikan, asrama, serta berbagai sarana pembinaan yang akan melahirkan semakin banyak generasi Qur'ani.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak lembaga besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Pondok Pesantren Sayyidul Aulia pun sedang menapaki jalan itu. Dengan dukungan masyarakat, para dermawan, dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Islam, ikhtiar yang dimulai dari sebuah desa di Sukamakmur diharapkan terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari jumlah bangunan yang berdiri atau banyaknya santri yang belajar, tetapi dari sejauh mana lembaga tersebut mampu melahirkan manusia yang mencintai Al-Qur'an, berakhlak mulia, mandiri, dan menjadi rahmat bagi lingkungannya. Itulah makna dakwah yang meninggalkan jejak: membangun manusia, menumbuhkan harapan, dan menyalakan cahaya Al-Qur'an dari pelosok negeri.
Harjamukti, 19 Juli 2026.
MKabulBudiono
