Mengapa Keberadaan PWI-LS Ditolak di Tengah Masyarakat?
Mengapa Keberadaan PWI-LS Ditolak di Tengah Masyarakat?
Keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) Perjuangan Walisongo Indonesia - Laskar Sabilillah (PWI-LS) memicu gelombang penolakan di berbagai daerah. Aliansi ulama, majelis taklim, hingga masyarakat sipil secara terang-terangan menyatakan bahwa kehadiran ormas ini tidak diinginkan.
Sentimen negatif ini bukan tanpa alasan.
Faktor-faktor sosiologis dan ideologis berikut menjadi alasan utama mengapa masyarakat menolak keras PWI-LS:
## 1. Memicu Polarisasi dan Konflik Fisik
Alasan paling mendasar di balik penolakan ini adalah potensi gangguan keamanan yang dibawa oleh pergerakan PWI-LS. Salah satu contoh nyata terjadi pada Juli 2025 di Pemalang, Jawa Tengah. Aksi penghadangan acara keagamaan oleh massa PWI-LS memicu [bentrokan berdarah dengan Front Persaudaraan Islam (FPI)](https://news.detik.com/berita/d-8029307/kronologi-bentrokan-dengan-pwi-ls-saat-acara-habib-rizieq-versi-fpi), yang mengakibatkan belasan orang luka-luka termasuk aparat kepolisian. Masyarakat menilai kehadiran ormas ini justru merusak ketenteraman lingkungan dan memicu kecemasan sosiologis.
## 2. Narasi Pembelahan Sosial yang Agresif
PWI-LS secara konsisten mengampanyekan pembatalan keabsahan nasab klan Ba'alawi (Habaib) di Indonesia. Gerakan yang awalnya berada di ruang diskusi akademis ini dibawa secara agresif ke ranah publik dan lapangan. Metode dakwah dan pergerakan mereka dinilai berbau provokasi rasis, diskriminatif, serta sengaja membenturkan sentimen antara kelompok "pribumi" dan "non-pribumi". Gaya pergerakan seperti ini dianggap mencederai kerukunan umat Islam di tingkat akar rumput.
## 3. Tidak Mendapat Legitimasi dari Ibu Kandung (NU)
Meskipun didirikan oleh oknum kiai berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), organisasi ini justru dilarang keras oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Instruksi resmi PBNU melarang kadernya terlibat dalam PWI-LS karena gerakannya dinilai menyimpang dari tradisi khittah NU yang mengedepankan perdamaian (tawasuth) dan persaudaraan (ukhuwah). Tanpa adanya legitimasi dari ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut, masyarakat awam memandang PWI-LS sebagai kelompok pinggiran yang tidak memiliki dasar perjuangan umat yang jelas.
## 4. Aksi Penolakan Massa di Lapangan
Penolakan konkret terjadi di berbagai kota besar:
* Depok: Upaya pelantikan pengurus PWI-LS mendapat [hadangan masif dari warga dan simpatisan Habib Bahar bin Smith](https://www.youtube.com/watch?v=Rcc_9xtVn4c) karena dinilai berpotensi memecah belah warga.
* Palembang: Aliansi ulama setempat secara terbuka menuntut pembubaran PWI-LS karena dianggap menyebarkan narasi kebencian yang merusak tatanan sosial keagamaan yang sudah damai.
Kesimpulan
Masyarakat Indonesia pada dasarnya mendambakan kedamaian dan keharmonisan beragama. Kehadiran PWI-LS ditolak di tengah masyarakat karena platform pergerakannya dinilai lebih banyak membawa narasi kebencian, konfrontasi fisik, dan bibit perpecahan umat dibanding membawa kemaslahatan sosial.
