Membantah Sugeng PWI-LS yang mau Ngaku-ngaku Keturunan Arab
Selasa, 28 Juli 2026
Faktakini.info
Berikut adalah versi artikel yang lebih pendek, padat, dan langsung pada intinya:
Salah Tafsir Data DNA: Mengapa 1,55% Southwest Asian Bukan Berarti Keturunan Arab
Unggahan media sosial dari Sugeng Sugiarto yang mengeklaim dirinya "keturunan Arab (1,55%)" berdasarkan diagram lingkaran hasil tes DNA merupakan sebuah kekeliruan interpretasi data. Dalam ilmu genetika, kesimpulan tersebut tidak tepat karena beberapa alasan berikut:
1. Salah Mengira Komponen Kuno sebagai Etnis Modern
Alat yang digunakan dalam gambar adalah Dodecad K12b, sebuah kalkulator genetik kuno. Kalkulator ini mengukur kemiripan DNA dengan populasi ribuan tahun lalu, bukan etnis modern. Kategori Southwest Asian (Asia Barat Daya) mencakup wilayah geografis kuno yang sangat luas, sehingga tidak bisa langsung diklaim sebagai "etnis Arab" masa kini.
2. Mengabaikan Derau Statistik (Statistical Noise)
Dalam analisis bioinformatika, angka di bawah 2% sering kali dianggap sebagai statistical noise atau derau statistik. Angka 1,55% tersebut kemungkinan besar hanyalah kesamaan acak pada potongan kecil DNA akibat sejarah migrasi manusia purba, bukan bukti silsilah keluarga dekat.
3. Salah Memilih Fungsi Alat
Data utama Sugeng justru menunjukkan profil khas masyarakat Indonesia asli: Southeast Asian (77,27%), South Asian (12,74%), dan East Asian (7,31%). Jika tujuannya adalah melacak keturunan langsung (silsilah keluarga 3–5 generasi), alat komparatif kuno seperti Dodecad ini tidak cocok dan menyesatkan jika dibaca mentah-mentah.
Kesimpulan
Kasus ini menjadi contoh pentingnya literasi data. Keberadaan angka dan grafik sering kali memberi kesan ilmiah yang mutlak. Namun, tanpa memahami latar belakang metodologinya, data tersebut sangat rawan disalahartikan.
🤗🤗🤗
