Haul Solo: Dari Jalan yang Lengang Menjadi Lautan Cinta
Rabu, 8 Juli 2026
Faktakini.info
Haul Solo: Dari Jalan yang Lengang Menjadi Lautan Cinta
Lupa tepatnya tahun berapa saya pertama kali datang ke Haul Solo. Yang masih saya ingat, suasananya jauh berbeda dengan sekarang. Mobil masih leluasa keluar masuk. Mencari tempat parkir tidak terlalu sulit. Jamaah memang sudah banyak, tetapi belum sampai membuat setiap sudut Pasar Kliwon dipenuhi manusia seperti hari ini.
Sekarang semuanya berubah. Jalan-jalan yang dulu bisa dilalui dengan tenang, kini berubah menjadi lautan manusia. Kendaraan harus berhenti jauh dari lokasi. Orang-orang rela berjalan kaki berkilometer hanya untuk bisa hadir. Hotel penuh, rumah-rumah warga menjadi tempat singgah, bahkan banyak yang memilih bermalam di masjid atau di emperan jalan. Semua datang dengan tujuan yang sama: menghadiri Haul al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.
Haul Solo sendiri bukanlah haul karena makam Habib Ali berada di Solo. Shohibul Haul dimakamkan di Seiyun, Hadramaut, Yaman. Tradisi haul di Solo berawal dari putra beliau, Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, yang hijrah ke Indonesia dan mendirikan Masjid Riyadh di Pasar Kliwon. Dari masjid inilah tradisi mengenang dan meneruskan perjuangan dakwah Habib Ali diselenggarakan setiap tahun, kemudian diteruskan oleh para penerus beliau hingga menjadi salah satu majelis haul terbesar di Indonesia.
Yang menarik, pertumbuhan Haul Solo tidak pernah dipaksa menjadi besar. Tidak ada promosi besar-besaran. Tidak ada undangan resmi kepada jutaan orang. Ia tumbuh perlahan, dari hati ke hati. Dari satu keluarga yang mengajak keluarga lain. Dari satu murid yang mengajak sahabatnya. Dari satu generasi yang mewariskan kecintaan kepada generasi berikutnya.
Mungkin itulah sebabnya suasananya terasa berbeda. Orang datang bukan sekadar menghadiri sebuah acara, tetapi memenuhi panggilan cinta. Cinta kepada para ulama, kepada Rasulullah ﷺ, dan kepada ilmu yang diwariskan melalui mereka.
Setiap kali melihat lautan manusia itu, saya selalu teringat perjalanan Haul Solo yang pernah saya saksikan bertahun-tahun lalu. Dari jalan yang masih lengang hingga kini hampir tak menyisakan ruang. Perubahannya bukan sekadar soal jumlah jamaah, melainkan tentang bagaimana sebuah majelis yang dijaga dengan keikhlasan terus tumbuh tanpa kehilangan ruhnya.
Semoga Haul Solo senantiasa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang membawa adab, pulang membawa berkah, dan semakin mencintai Allāh ﷻ, Rasul-Nya, serta para pewaris ilmu yang menghidupkan agama di tengah umat. Āmīn.
