Fenomena "Pulau Buta Warna" diPingelap, sebuah pulau terpencil di Mikronesia, Samudra Pasifik

 


Sabtu, 11 Juli 2026

Faktakini.info

Fenomena medis yang langka ini benar-benar terjadi di Pulau Pingelap, sebuah pulau terpencil di Mikronesia, Samudra Pasifik. 

Wilayah tersebut dikenal oleh para peneliti sebagai "Pulau Buta Warna" karena memiliki jumlah penderita akromatopsia lengkap yang termasuk tertinggi di dunia.

Akromatopsia merupakan kelainan genetik yang sangat jarang terjadi. 

Kondisi ini menyebabkan sel kerucut pada retina tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderitanya tidak mampu membedakan warna dan hanya melihat dunia dalam gradasi hitam, putih, dan abu-abu.

Asal-usul tingginya angka akromatopsia di Pulau Pingelap berkaitan dengan peristiwa besar pada tahun 1775, ketika topan dahsyat melanda pulau tersebut dan hanya menyisakan sekitar dua puluh orang yang selamat, termasuk penguasa setempat yang diyakini membawa gen mutasi tersebut. 

Karena populasi yang sangat kecil dan terisolasi, serta perkawinan antar-kerabat yang berlangsung selama beberapa generasi, mutasi genetik itu kemudian diwariskan kepada banyak keturunannya.

Menariknya, meskipun para penyandang akromatopsia umumnya sangat sensitif terhadap cahaya terang pada siang hari, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan melihat dalam kondisi cahaya redup yang lebih baik dibandingkan kebanyakan orang. 

Kemampuan ini membantu mereka beraktivitas, termasuk saat menangkap ikan pada malam hari.

Sumber: The Island of the Colorblind karya Oliver Sacks. Buku ini mengisahkan masyarakat Pulau Pingelap yang banyak mengalami akromatopsia. 

#DPU_DYK

#DPU_FYI