BENAR, WAJAH KOMUNIKASI KEKUASAAN TEREPRESENTASI OLEH QODARI: NGOTOT, NYOLOT, PEMUJA ANGKA!
Ahad, 19 Juli 2026
BENAR, WAJAH KOMUNIKASI KEKUASAAN TEREPRESENTASI OLEH QODARI: NGOTOT, NYOLOT, PEMUJA ANGKA!
Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Geli, tertawa terpingkal hingga ngakak, sekaligus miris. Kritik Wakil BEM UI Fatimah Azahra, yang menyebut wajah komunikasi kekuasaan Prabowo Subianto terepresentasikan oleh Qodari Ketua Bakom (Badan Komunikasi) sangat pas.
Pas, baik dari segi ngototnya, maupun nyolotnya.
Ngotot, karena hanya mau didengar tak mau mendengar. Kekuasaan hanya mau dimengerti tak mau mengerti rakyat. Hanya menyampaikan apa yang menjadi kehendak kekuasan, tapi tak mau tahu dan tan mau tahu apa yang dikehendaki rakyat.
Nyolot, karena hanya melihat kritik sebagai pembangkangan. Masukan, dianggap mendelegitimasi kekuasaan. Kalau tak sejalan dengan pemerintah, biasanya dituding makar, sebar hoax, fitnah, kabar bohong, dll (meskipun menggunakan tangan buzzer).
Dan terakhir, pemuja angka. Persis pecandu togel era SDSB Soeharto. Mimpi apapun, peristiwa apapun, dikaitkan dengan angka.
Dikritik soal MBG yang menimbulkan keracunan siswa, langsung nyolot dengan angka. Prosentasenya tak seberapa jika dibandingkan puluhan juta total siswa. Keselamatan dan nyawa siswa tak dipandang sebagai manusia, melainkan hanya angka-angka statistika.
Saat KOPDES dikritik, juga sama. Padahal, hingga saat ini tak ada satupun jawaban yang spesifik dengan hitungan angka, yang bisa menjawab bagaimana bisa anggaran 1,8 juta kipas angin KOPDES Merah Putih senilai Rp1,8 triliun.
Kekuasaan hanya bicara angka. Bukan realita. Angka yang tak mencerminkan kondisi rakyat, melainkan angka yang hanya ingin memantulkan citra kekuasaan.
Boleh jadi, kemenangan angka 58 % suara, juga bukan fakta. Melainkan tafsir kekuasaan agar dipercaya sebagai kemenangan rakyat.
Semakin Qodari membantah Fatimah Azzahra, makin terlihat borok komunikasi kekuasaan dan bau busuknya. Kekuasaan yang ngotot dan nyolot, yang miskin empati. Kekuasaan yang tak memiliki nurani atau sekedar waktu untuk mendengar keluhan rakyat.
Sekelas mahasiswa saja, tak mampu dilayani diskusi dengan baik. Terlihat, Qodari sedang belajar diskusi agar rakyat mempercayai sihir angka adalah realita.
Melihat Qodari sangat memalukan. Sayangnya, Qodari justru merepresentasikan wajah komunikasi kekuasaan. Miris dan sangat menyedihkan. [].
