Isyhad dan Dzikr al-Haddad Mengantar Kepulangan KH. Adib Rofiuddin Izza Buntet Cirebon

 


Kamis, 4 Juni 2026

Faktakini.info

Zain Al Abid

Isyhad dan Dzikr al-Haddad Mengantar Kepulangan KH. Adib Rofiuddin Izza

Sore itu, Senin 1 Juni 2026, selepas salat Asar, langit Buntet Pesantren tampak teduh. Di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, ribuan santri, alumni, para kiai, dan masyarakat berkumpul dalam satu suasana yang sama: kehilangan.

Mereka datang untuk mengantarkan kepulangan KH. Adib Rofiuddin Izza, sesepuh Buntet Pesantren, menuju peristirahatan terakhir di kompleks makam Gajah Ngambung. Suasana terasa hening, hanya diselingi langkah kaki dan lantunan doa yang pelan dari para pelayat.

KH. Adib Rofiuddin Izza lahir di Cirebon pada 28 Agustus 1965. Ia merupakan putra pertama dari KH. Izzuddin bin KH. Ahmad Zahid Abdul Jamil dan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Busyrol Karim. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keilmuan pesantren yang membentuknya menjadi bagian penting dari mata rantai kepemimpinan Buntet Pesantren.

Namun KH. Adib bukan sekadar pengasuh pondok. Dalam tradisi Buntet, ia menempati posisi Kyai Sepuh atau Kyai Khos, yakni figur sentral yang tidak hanya memimpin satu lembaga, tetapi menjadi poros yang mengayomi seluruh pondok dan asrama di lingkungan Buntet Pesantren.

Dalam sistem kepemimpinan yang telah berlangsung turun-temurun, seorang Kyai Sepuh menjadi penghubung para kiai pengasuh masing-masing pondok, sekaligus rujukan utama dalam urusan ke luar pesantren. Kepemimpinan ini tidak berdiri sebagai struktur administratif semata, melainkan amanah spiritual yang hidup dalam tradisi.

Dalam catatan sejarah Buntet Pesantren, estafet kepemimpinan Kyai Sepuh atau Kyai Khos berlangsung melalui beberapa generasi berikut:

KH. Muta’ad (periode awal)

KH. Abdul Jamil

KH. Abbas

KH. Mustahdi Abbas

KH. Mustamid Abbas

KH. Abdullah Abbas

KH. Nahduddin Abbas

KH. Adib Rofiuddin Izza

Dari mata rantai panjang tersebut, terlihat bahwa kepemimpinan di Buntet bukan sekadar jabatan, melainkan kesinambungan tradisi keilmuan, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial yang dijaga dengan penuh kehormatan.

Di tengah suasana duka sore itu, prosesi dimulai dengan pembacaan isyhad, yakni kesaksian atas kebaikan almarhum. KH. Wawan Arwani Amin, sesepuh Buntet Pesantren sekaligus Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon, menyampaikan kesaksian di hadapan ribuan pelayat.

Dalam tradisi pesantren, isyhad menjadi ruang kolektif untuk menghadirkan kesaksian tentang kehidupan seseorang yang telah wafat. Bukan untuk membuka kekurangan, tetapi untuk menyebutkan kebaikan dan jejak manfaat yang pernah ditinggalkan.

Tradisi ini berakar pada ajaran Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk menyebut kebaikan orang yang telah meninggal dan menahan diri dari menyebut keburukannya, sebagai bagian dari penghormatan terakhir dan doa bagi almarhum.

Usai isyhad, suasana berubah semakin khidmat. Dari tengah kerumunan, KH. Anas memimpin lantunan Dzikr al-Haddad yang diulang sebanyak tiga kali. Ribuan suara kemudian menyatu dalam satu irama dzikir yang menggema di halaman masjid.

Lā ilāha illallāhul ‘āfī ba‘da qudratih,

Lā ilāha illallāhul bāqī ba‘da fanā’i khalqih,

Lā ilāha illallāh, kullu syai’in hālikun illā wajhah, lahul hukmu wa ilaihi yurja‘ūn.

Bacaan itu mengalun bukan hanya sebagai doa untuk almarhum, tetapi juga sebagai pengingat bagi yang masih hidup: bahwa seluruh makhluk akan binasa, dan hanya Allah Yang Maha Kekal.

Menurut KH. Tb. Rifqi Chowwas, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Buntet Pesantren, Dzikr al-Haddad merupakan tradisi yang telah mengakar di lingkungan Buntet. Bacaan ini dinisbatkan pada amaliah ulama Hadramaut dan diperkenalkan dalam tradisi pesantren melalui KH. Muhammad Akyas, adik dari KH. Abbas Buntet.

Di Buntet, Dzikr al-Haddad hampir selalu mengiringi prosesi pengantaran jenazah. Ia tidak hanya dipahami sebagai doa bagi yang wafat, tetapi juga sebagai dzikir yang mengingatkan para pelayat tentang kefanaan hidup dan kepastian kembali kepada Allah SWT.

Ketika jenazah mulai diberangkatkan menuju kompleks makam Gajah Ngambung, ribuan santri mengikuti dari belakang. Langkah mereka pelan, namun penuh kesadaran. Seolah setiap langkah adalah pengingat bahwa perjalanan yang sama akan ditempuh oleh setiap manusia.

Di pesantren, kematian bukan hanya peristiwa kehilangan. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang paling sunyi namun paling dalam. Dari isyhad, manusia belajar tentang jejak kebaikan. Dari Dzikr al-Haddad, manusia diingatkan tentang batas akhir kehidupan.

Sore itu, Buntet Pesantren tidak hanya mengantar seorang kiai menuju peristirahatan terakhirnya. Ia sedang merawat sebuah tradisi panjang: bahwa di hadapan kematian, yang tersisa bukanlah kekuasaan atau nama besar, melainkan doa, kesaksian, dan dzikir yang terus hidup di antara mereka yang ditinggalkan.

Dan dari ribuan orang yang hadir, tersimpan satu kesaksian yang tak tertulis tetapi terasa kuat: bahwa KH. Adib Rofiuddin Izza telah menutup perjalanan dunianya sebagai seorang ulama, namun jejak keilmuannya tetap hidup dalam ingatan pesantren yang ia cintai. Sugeng tindak Kiai Adib.