Mengapa PWI-LS Tampak Kehilangan Taji dan Pamor di Masyarakat?
Habib Muhammad Novel BSA
Mengapa PWI-LS Tampak Kehilangan Taji dan Pamor di Masyarakat?
Belakangan ini, foto-foto kegiatan ormas Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) yang terlihat sepi peminat memicu pertanyaan besar: Ke mana perginya massa dan pengaruh mereka? Organisasi yang sempat menggebrak dengan isu nasab ini tampaknya mulai mengalami penurunan eksistensi di akar rumput.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang ditengarai menjadi penyebab PWI-LS kehilangan "tajinya":
1. Isu Nasab yang Mulai Mengalami Titik Jenuh
Munculnya PWI-LS awalnya dipicu oleh polemik nasab klan Ba'alwi yang sangat viral di media sosial. Namun, masyarakat umum cenderung memiliki titik jenuh terhadap perdebatan akademis yang berlarut-larut. Ketika isu ini tidak lagi menjadi "trending topic" utama, daya tarik PWI-LS sebagai wadah perjuangan isu tersebut pun ikut merosot.
2. Citra Konfrontatif yang Membuat Masyarakat Menjauh
Beberapa insiden bentrokan fisik di lapangan yang melibatkan anggota Laskar Sabilillah pada tahun 2024 dan 2025 memberikan citra negatif. Masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdliyin, umumnya lebih menyukai pendekatan dakwah yang sejuk dan damai (rahmatan lil 'alamin). Citra "keras" dan konfrontatif justru membuat warga awam merasa enggan untuk terlibat lebih jauh.
3. Jarak Struktural dengan PBNU
Meskipun pengikutnya banyak berasal dari kalangan santri, PWI-LS secara resmi adalah organisasi independen dan bukan bagian dari struktur Nahdlatul Ulama (NU). Instruksi dari PBNU agar warga NU tidak terprovokasi dan tetap menjaga ukhuwah (persaudaraan) membuat banyak massa kembali ke jalur organisasi induk (NU) dan meninggalkan ormas-ormas sektoral seperti PWI-LS.
4. Kurangnya Program Kerja Sosial-Kemasyarakatan
Eksistensi sebuah ormas di mata masyarakat sangat bergantung pada manfaat nyata di lapangan, seperti santunan, pendidikan, atau pemberdayaan ekonomi. Sejauh ini, PWI-LS lebih banyak dikenal karena narasi polemik dan penjagaan kiai secara fisik. Tanpa program sosial yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, dukungan massa akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
5. Skala Organisasi yang Masih Terbatas
Sebagai organisasi yang relatif baru (berdiri 2023), infrastruktur organisasi PWI-LS di tingkat cabang (seperti di Buaran) atau ranting belum sekuat ormas mapan. Sepinya acara-acara mereka di daerah menunjukkan bahwa basis massa mereka mungkin hanya terkonsentrasi di media sosial (aktivis digital), namun lemah dalam pengorganisasian massa secara nyata di dunia fisik.
Kesimpulan
Sepinya kegiatan PWI-LS adalah sinyal bahwa narasi "perjuangan nasab" saja tidak cukup untuk menjaga loyalitas masyarakat. Tanpa transformasi menjadi organisasi yang lebih inklusif dan bermanfaat secara sosial, PWI-LS berisiko hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah ormas di Indonesia.
